Senin, 31 Oktober 2016

SEJARAH WAYANG BEBER PACITAN

Wayang Beber adalah wayang tertua di Indonesia. Wayang Beber di Indonesia terdapat di dua tempat, yaitu di Kabupaten Pacitan (yang disebut sebagai Wayang Beber Pacitan) dan di daerah Gunung Kidul Yogyakarta (yang disebut sebagai Wayang Beber Wonosari). Perbedaan antara kedua Wayang Beber ini terletak pada tingkat keasliannya. Wayang Beber Pacitan tidak mengalami perubahan, baik dari segi ritual, bentuk, lakon, maupun gendhing (iringan). Wayang Beber Pacitan terjaga keasliannya, tanpa diubah sedikit pun. Sedangkan pada Wayang Beber Wonosari tidak demikian. Menurut Rudhi Prasetyo (Dalang Wayang Beber Pacitan ke-14), Wayang Beber Wonosari telah mengalami perubahan, yakni dalam hal gendhing dan bahasanya.

Wayang Beber yang ada di Pacitan adalah asli dari Kerajaan Majapahit, yaitu berada di Dusun Karangtalun Desa Gedompol Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan. Wayang Beber tersebut dibawa oleh Ki Naladerma sebagai imbalan dari sayembara yang diadakan oleh Prabu Brawijaya (Raja Majapahit) karena telah menyembuhkan putri raja yang sakit. Pada saat itu, raja Majapahit dikhawatirkan oleh putrinya yang menderita sakit parah dan tidak kunjung sembuh. Oleh sebab itu, sang raja mengadakan sayembara bagi siapa pun yang mampu menyembuhkan putrinya yang sakit. Ki Naladerma yang mendengar berita tersebut tergugah hatinya untuk mengikuti sayembara. Ki Naladerma ingin menjajal kesaktiannya untuk menyembuhkan putri raja karena Ki Naladerma kerap menyembuhkan penyakit orang-orang di desanya. Maka, berangkatlah Ki Naladerma dari Dusun Karangtalun Desa Gedompol itu ke Kerajaan Majapahit dengan berjalan kaki selama tujuh hari tujuh malam. Sesampainya di Kerajaan Majapahit, Ki Naladerma dihadang oleh para hulubalang dan diancam bahwa apabila Ki Naladerma gagal menyembuhkan sang putri, maka Ki Naladerma akan dipenggal kepalanya.

Pada akhirnya, Ki Naladerma diijinkan untuk memasuki Kerajaan Majapahit dan mengikuti sayembara tersebut. Sang raja dengan senang hati menerima Ki Naladerma untuk mencoba menyembuhkan putrinya yang sakit. Sebelum mencoba menyembuhkan sang putri, Ki Naladerma meminta ijin kepada raja untuk melakukan semedi. Setelah melakukan semedi selama satu malam, Ki Naladerma mengobati sang putri dengan mantranya. Pada keesokan harinya, sang putri sembuh dari sakitnya tanpa sedikit pun meninggalkan bekas luka. Sang raja heran sekaligus bahagia melihat kesembuhan putrinya, maka dipanggillah Ki Naladerma ke hadapannya. Raja menawarkan hadiah kepada Ki Naladerma, yaitu sebagai Tumenggung di Keraton. Namun, hadiah itu ditolak oleh Ki Naladerma karena merasa dirinya buta huruf dan buta ilmu pemerintahan. Raja lalu menawarkan pada Ki Naladerma untuk membawa uang sekuatnya, namun Ki Naladerma menolak dengan alasan uang akan membahayakan dirinya dalam perjalanan pulang karena khawatir akan adanya perampok.

Penolakan Ki Naladerma membuat sang raja menjadi bingung, hingga pada akhirnya raja menawarkan Wayang Beber kepada Ki Naladerma. Hadiah tersebut diterima Ki Naladerma dengan senang hati. Menurutnya, Wayang Beber merupakan hadiah yang tidak ternilai harganya karena dapat diwariskan kepada keturunannya. Raja mengajari cara memainkan Wayang Beber kepada Ki Naladerma. Setelah Ki Naladerma mampu menguasainya dengan baik, maka Ki Naladerma kembali ke Dusun Karangtalun dengan membawa hadiah dari raja.

Wayang Beber Pacitan diwariskan turun-temurun menurut garis keturunan secara vertikal. Dalang Wayang Beber Pacitan haruslah seorang laki-laki. Pemilik pertama Wayang Beber Pacitan adalah Ki Naladerma, kemudian diwariskan kepada anaknya yang bernama Nalangsa, yang kemudian mendapat julukan sebagai “Sanala”. Dari Nalangsa (Sanala), diwariskan kepada Citrawangsa, yang dijuluki sebagai “Nayangsa”. Dari Citrawangsa (Nayangsa), diwariskan kepada anak laki-lakinya yang bernama Gandayuta, yang kemudian mendapat julukan “Gandayuda”. Dari Gandayuta (Gandayuda), diturunkan kepada Singa Nangga, kemudian digantikan oleh Trunadangsa. Trunadangsa mewariskan Wayang Beber kepada anaknya yang bernama Gandalesana. Dari Gandalesana diturunkan kepada Palesana yang dijuluki “Setralesana”. Palesana (Setralesana) tidak memiliki anak laki-laki, sehingga Palesana (Setralesana) mewariskan Wayang Beber kepada cucu laki-lakinya (nunggak semi) yang bernama Dipalesana. Dipalesana kemudian dijuluki sebagai “Gandalesana II” karena cara mendalangnya mirip dengan kakek buyutnya. Dipalesana (Gandalesana II) mewariskan Wayang Beber kepada anaknya yang bernama Palesana. Kemudian pada tahun 1900, Wayang Beber diwariskan kepada  anak laki-laki dari Palesana yang bernama Pasetika dan dijuluki sebagai “Gunakarya”. Pada tahun 1940, kepemilikan  Wayang Beber diambil alih oleh Sarnen, yang kemudian mendapat julukan “Gunacarita”. 

Pada tahun 1980, Sumardi (anak laki-laki Sarnen/Gunacarita) menjadi dalang Wayang Beber yang ke-13 dan mendapat julukan “Gunautama”. Sumardi (Gunautama) tidak memiliki anak laki-laki, sehingga Sumardi (Gunautama) harus mewariskan Wayang Beber kepada cucu laki-lakinya agar terjadi nunggak semi. Kala itu, Handoko (cucu Sumardi) masih kecil, sehingga belum bisa menjadi dalang. Namun, mengingat usianya yang sudah renta dan khawatir akan kepunahan pertunjukan Wayang Beber sepeninggalnya, maka Sumardi (Gunautama) berpikir untuk meregenerasi dalang, yaitu melanggar adat turun-temurun dengan menunjuk orang lain sebagai dalang. Akhirnya, Sumardi (Gunautama) menunjuk Rudhi Prasetyo sebagai dalang. Rudhi Prasetyo sebenarnya tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga dalang pakem Wayang Beber Pacitan. Namun, sudah lama Rudhi dekat dengan Sumardi (Gunautama) dan Rudhi juga tertarik dengan warisan budaya yang hampir punah ini. 

Pada tahun 2009, Rudhi resmi menjadi Dalang Wayang Beber Pacitan. Wayang Beber Pacitan kemudian dibuat duplikatnya. Artefak Wayang Beber Pacitan tetap berada di Desa Gedompol Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan, tepatnya di rumah Mbah Mangun, keluarga Ki Mardi Gunautama. Artefak Wayang Beber Pacitan telah dikeramatkan, serta tidak boleh dibuka oleh sembarang orang. Sedangkan duplikat Wayang Beber Pacitan dipegang oleh Rudhi Prasetyo dan berada di Desa Nanggungan Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan. Jadi, Wayang Beber Pacitan yang dipentaskan sekarang adalah Wayang Beber hasil dari duplikasi. 

Berikut adalah skema garis pedalangan Wayang Beber Pacitan.

Minggu, 21 Agustus 2016

REVIEW ANALISIS STRUKTURAL DONGENG BAJO (HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA)


Salah satu bab dalam buku Strukturalisme Lévi-Strauss: Mitos dan Karya Sastra tulisan Ahimsa-Putra ini memaparkan tentang sebuah dongeng Bajo yang berjudul Pitoto’ si Muhamma’ yang diperoleh dari I.B. Darmasuta (1994), dan kemudian dianalisis menggunakan strukturalisme Lévi-Strauss. Adapun langkah yang dilakukan Ahimsa-Putra dalam menganalisis dongeng Bajo ini adalah: (1) membaca keseluruhan ceritera terlebih dahulu untuk mengetahui pengetahuan dan kesan tentang isi ceritera; (2) membagi ceritera dalam beberapa episode; (3) membaca ulang dengan seksama untuk mengetahui episode-episode yang mungkin diulang dalam ceritera. Di sini Ahimsa-Putra menyebut istilah ceriteme, yaitu sebuah unit yang mengandung pengertian tertentu yang – seperti halnya miteme – hanya dapat diketahui maknanya atau ‘pengertiannya’ setelah ditempatkan dalam hubungan dengan ceriteme-ceriteme yang lain (Ahimsa-Putra, 2012:206). Kumpulan ceriteme ini membentuk episode-episode yang baru terungkap maknanya setelah dihubungkan dengan episode-episode yang lain. Berikut episode-episode dalam dongeng Pitoto’ si Muhamma’ yang dilakukan oleh Ahimsa-Putra beserta analisis strukturalnya secara singkat.

Episode I: “Daeng Manjakari, Hejira, dan Muhamma” dan Realitas Sosial-Ekonomis Orang Bajo
Menurut Zacot (1978), dalam kehidupan sehari-hari orang Bajo mengenal dua kategori sosial dasar yang penting bagi interaksi sosial mereka, yakni orang Sama dan orang Bagai. Orang Bajo menamai dirinya Orang Sama, yang menggunakan bahasa yang sama, dan menyebut orang yang tidak menggunakan bahasa mereka sebagai Orang Bagai atau orang luar (Ahimsa-Putra, 2012: 210). Orang Sama dibedakan menjadi dua kategori, yaitu Bajo Darat dan Bajo Laut. 


Dalam episode ini, DM dilukiskan sebagai orang Bajo Darat yang belajar adat-istiadat orang Bugis-Makassar dan diterima oleh mereka, yang terlihat saat DM disambut dalam permainan sepak raga bersama dengan orang-orang Bugis-Makassar. Sedangkan M sebaliknya. M adalah orang Bajo yang tidak belajar adat-istiadat orang Bugis-Makassar, sehingga M yang datang bersama pengawalnya dianggap sebagai orang asing dan tidak diundang dalam permainan sepak raga. 

Episode II: “DM Pergi Mengantar H Ke Sumur Toraja” dan Realitas Ekologis Orang Bajo
Episode ini menceriterakan perjalanan DM, H, dan seorang pengawal ke sumur Toraja di mana DM berhasil menghadapi segala rintangan berupa angin dan ombak di lautan. Keahlian DM membuat H jatuh hati padanya, namun DM tidak langsung membalas cinta H. Dalam episode ini, tokoh DM dapat ditafsirkan menjadi kebalikan (intervensi) dari episode sebelumnya di mana DM kurang tampak Bajo dibandingkan M. Ini ditunjukkan dari kepiawaian DM dalam hal pelayaran, yang mampu mengatasi segala rintangan meskipun DM adalah orang Bajo yang telah mengenal budaya Darat. Episode ini menampilkan superioritas orang Bajo di lautan. Namun dari sisi lain, episode ini juga menampilkan ketergantungan orang Bajo terhadap daratan yang ditunjukkan oleh keinginan H untuk pergi ke sumur Toraja. Kedudukan sumur sangat penting bagi orang Bajo, karena sumur merupakan tempat di mana orang Bajo memperoleh air tawar yang mereka perlukan untuk kehidupan sehari-hari.

Episode III: “H Jatuh Cinta Pada DM” dan Realitas Sosial-Budaya (I) Orang Bajo
Episode ini memaparkan tentang jatuh cintanya H kepada DM karena kepiawaian DM di lautan. H berkata bahwa DM pantas memilikinya, dan ini memerlukan pengetahuan tentang hubungan kekerabatan antara DM dengan H, serta sistem kekerabatan orang Bajo. Masyarakat Bajo memiliki sistem kekerabatan bilateral dengan kecenderungan patrilineal. Perkawinan satu, dua, atau tiga kali sepupu merupakan perkawinan ideal, kecuali dengan sepupu patrilineal parallel. Namun bagi orang Bajo Darat, perkawinan dengan sepupu satu kali, baik sepupu silang maupun parallel dilarang karena hubungan mereka dianggap terlalu dekat. 

Meskipun dalam ceritera ini tersirat bahwa DM memiliki hubungan kekerabatan dengan H sebagai ‘misan’, namun kecenderungan lebih menunjukkan bahwa DM adalah ‘orang lain’ atau ‘kerabat jauh’ H. Episode ini juga dapat ditafsirkan sebagai kekaguman dan keinginan orang Bajo (H) untuk menikah dengan orang Darat atau orang Bajo yang lebih mengenal budaya Darat (DM).

Episode IV: “Perselisihan DM dengan M Di dalam Sumur” dan Realitas Sosial-Budaya (II) Orang Bajo
Episode ini berisi kisah perkelahian antara DM dengan M dan menunjukkan hubungan kekerabatan antara DM, M, dengan H. Dalam masyarakat Bajo yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat Bugis-Makassar, unit kekerabatan yang terpenting adalah keluarga batih. Relasi kekeluargaan merupakan relasi sosial yang sangat penting dan tidak dapat diingkari. Jika seseorang menolak memberikan bantuan kepada kerabatnya yang sedang dilanda kesulitan, padahal dia mampu memberi pertolongan, atau sebaliknya dia menolak bantuan yang diberikan oleh kerabatnya, dia akan terkucil atau lebih buruk lagi dia akan dibunuh oleh kerabatnya yang tersinggung.

Perkelahian DM dengan M dilakukan dalam sebuah sumur. Sumur dalam kisah ini melambangkan sumber kehidupan, dan tafsiran ini diperkuat bahwa perkelahian yang terjadi di dalam sumur tidak membawa kematian bagi pihak-pihak yang berkelahi. Perkelahian berjalan seimbang dan ini berubah setelah terjadi campur tangan pihak ketiga. Ada beberapa hal yang menarik ketika membandingkan episode IV dengan episode II. Pertama, dalam episode II, tokoh DM pergi berdua dengan H ke sumur Toraja disertai seorang pengawal. Sedangkan dalam episode IV, sumur tempat perkelahian itu awalnya adalah sebuah lubang yang kemudian dibuat M menjadi sebesar sumur dan terletak di tepi pantai. Kedua, dalam perjalanan pulang dari sumur keramat, DM berhasil mengatasi rintangan di luar sumur, yaitu rintangan alami berupa ombak, dengan bantuan tokoh ‘saudara kita’ dan ‘mereka’, yang tidak diketahui siapa, dan pertolongan yang diperoleh tidak kelihatan. Sedangkan M berhasil mengatasi rintangan di dalam sumur yang berupa manusia, yaitu DM, dan mendapat pertolongan dari H berupa ‘sehelai rambut semangat’. Ketiga, dalam episode II, H jatuh cinta pada DM dan DM menggandengnya pulang ke rumah. Sedangkan dalam episode IV, H jatuh hati pada M dan M juga menggandengnya pulang ke rumah.

Episode V: “DM Dibunuh Oleh M” dan Realitas Sosial-Budaya (III) Orang Bajo
Episode V menceriterakan tentang kematian DM di tangan M. Untuk memahami episode V ini, perlu dipahami bahwa ada budaya malu yang hidup di kalangan orang Sulawesi Selatan. Permintaan dapat ditafsirkan sebagai pengakuan atas hubungan kekerabatan, dan permintaan ini harus dipenuhi. Menolak permintaan sama artinya dengan mengingkari hubungan kekerabatan yang ada. Siri atau rasa malu dalam masyarakat Sulawesi Selatan biasanya erat kaitannya dengan persoalan wanita. 

Penolakan DM terhadap uluran tangan H dapat ditafsirkan sebagai penolakan orang Bajo yang sudah mengenal budaya Darat terhadap orang Bajo asli, yang dianggap lebih rendah derajatnya; atau bisa juga ditafsirkan sebagai orang Bajo yang telah memBagai memang kurang pantas memperoleh pertolongan dari orang Bajo asli untuk melawan orang Bajo asli. Penolakan uluran tangan H kepada DM membuat DM berada di pihak yang pantas dikalahkan, karena dia adalah pihak yang mempermalukan. Selain itu, DM juga telah membuat M merasa malu karena H, ‘pacar M’, dibawanya ke pulau Keramat. Menurut aturan moral setempat, sebagai pihak yang dipermalukan, M berhak menuntut balas pada DM untuk menghapus malu tersebut. Di lain pihak, M menerima dnegan baik bahkan meminta bantuan H berupa “sehelai rambut semangat”. Dengan bantuan H tersebut, M mendapat dua kekuatan, yaitu kekuatan berupa semangat untuk mengalahkan musuh dan kekuatan berupa kebenaran moral, yaitu menghapus malu yang diperolehnya dan tidak menolak uluran tangan dari kerabat.

Episode VI: “H Jatuh Cinta Pada M” Realitas Sosial-Budaya (IV) Orang Bajo
Episode ini menceritakan tentang jatuh cintanya H kepada M setelah M berhasil mengalahkan DM di dalam sumur. Ada dua pertentangan yang dihadapi orang Bajo (yang diwakili oleh H) berkaitan soal perjodohan, yaitu: (1) keinginan untuk memilih Bajo Darat (DM); dan (2) keinginan memilih Bajo Laut (M) sebagai pasangan hidup.

Episode VII: “M Meninggalkan H” dan Realitas “Ruang” Dalam Budaya Orang Bajo
Episode ini menceriterakan kepergian M meninggalkan H di Pelabuhan Matekne, walaupun M tahu bahwa H telah jatuh hati kepadanya. Orang Bajo, Bajo Laut terutama, memiliki konsep ruang yang berbeda dengan Bajo Darat pada umumnya. Orang Bajo Laut memiliki konsep ruang yang (1) menunjuk pada kelompok sosial yang disebut bido’ (perahu), yaitu sebuah kesatuan sosial yang berada dalam satu perahu; dan (2) menunjuk pada daerah-daerah yang pernah dikunjungi atau mungkin pernah “ditempati”, serta desa-desa Bajo yang ada di berbagai daerah lain, tempat tinggal kerabat-kerabat mereka. Jawaban yang diberikan di akhir kisah Muhamma’ ini bukanlah menempatkan kehidupan orang Bajo Laut dan Bajo Darat di kedudukan yang lebih tinggi ataupun lebih rendah, namun dengan menyodorkan nilai lain yang lebih tinggi, yaitu “pengembaraan”. Kisah ini merupakan proyeksi dari realitas sehari-hari yang penuh pertentangan dan teka-teki yang tidak terpecahkan. Proyeksi ini disampaikan melalui struktur tertentu yang bersifat dialektis. Oleh karena itu, sebuah mitos atau ceritera sebenarnya dapat menjadi model of (model dari) dan model for (model untuk) realitas yang dihadapi manusia (Ahimsa-Putra, 2012: 204-249).

Dari analisis yang telah dilakukan Ahimsa-Putra terhadap dongeng Bajo, maka dapat diambil kesimpulan bahwa dongeng Pitoto’ si Muhamma’ ini merupakan upaya simbolisasi orang Bajo untuk memahami kontradiksi-kontradiksi empiris yang mereka hadapi sebagai orang yang hidup dari mengumpulan hasil laut. Ahimsa-Putra memperlihatkan bahwa sebuah mitos dapat digunakan sebagai pintu untuk memahami budaya masyarakat pemilik mitos tersebut. Untuk melakukan analisis seperti ini, tentunya kita membutuhkan data-data etnografi yang cukup rinci dan mendalam. Jika dicermati, dongeng Pitoto’ si Muhamma’ ini erat kaitannya dengan sistem kekerabatan orang Bajo. Yang saya lihat di sini adalah bahwa H merupakan jodoh ideal dari M, sehingga M marah dan merasa sangat malu ketika melihat H bersama dengan DM. Budaya malu yang disebabkan oleh wanita dalam dongeng tersebut mengingatkan saya tentang budaya “carok” di Madura, di mana membunuh orang yang telah melukai harga diri seseorang dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan justru dipandang sebagai sebuah prestasi, serta menjunjung martabat orang yang memenangkan pertarungan.

Sabtu, 20 Agustus 2016

DI BALIK CERPEN "LAKI-LAKI YANG KAWIN DENGAN PERI" (KUNTOWIJOYO)

Laki-laki yang Kawin dengan Peri, cerpen tulisan Kuntowijoyo ini mengisahkan tentang seorang laki-laki bernama Kromo. Sebelum kedatangan menantu tetangganya, kehidupan Kromo berjalan baik dan normal seperti masyarakat lainnya. Namun karena tuduhan menantu tetangga tersebut yang menyebut Kromo berbau busuk, maka seluruh penduduk desa menyadari bau itu dan mengucilkan Kromo dari pergaulan. Kromo akhirnya keluar desa dan tidur di tengah sawah setiap malam hari. Suatu malam Kromo didatangi seorang wanita cantik, dan akhirnya menikah dengan wanita itu di depan penghulu Naib Kecamatan. Beberapa lama kemudian terdengar ledakan keras di tengah sawah. Penduduk menyimpulkan bahwa Kromo telah meninggal. Mereka merasakan penyesalan dan kehilangan. Semenjak itu, terjadilah wabah penyakit di desa itu. Seorang kyai datang dan mengatakan bahwa penduduk desa kurang bersyukur dan menganjurkan untuk bersedekah. Penduduk desa sepakat mengadakan kenduri, layaknya menghormati orang yang sudah meninggal. Namun, yang sudah mati tidak akan kembali lagi.

Cerpen Laki-laki yang Kawin dengan Peri sebenarnya adalah sarkasme penulis terhadap pemerintah pada masa itu. Cerpen ini merupakan sebuah kritikan yang dipenuhi dengan bahasa simbol terhadap birokrasi pemerintahan Orde Baru. Seperti yang kita tahu bahwa gaya pemerintahan Soeharto adalah sistem politik patronase. Sebagai ganti untuk dukungan di bidang politik atau keuangan, Soeharto membujuk para pengkritiknya dengan memberikan mereka posisi yang bagus di pemerintahan maupun kesempatan bisnis yang bagus. Namun, perlakuan pilih kasih ini tidak hanya diberikan pada para pengkritiknya. Selama dekade terakhir pemerintahan Soeharto, anak-anak dan teman-teman dekatnya bisa membentuk sebuah kerajaan bisnis hanya karena kedekatan mereka dengan Soeharto.

Cerita yang dalam kenyataan tidak rasional ini sebenarnya berkaitan dengan salah satu kebijakan rezim Orde Baru, yaitu mengenai Dwifungsi ABRI. Dwifungsi ABRI atau peran ganda ABRI adalah doktrin yang diterapkan oleh Pemerintahan Orde Baru yang menyebutkan bahwa TNI memiliki dua peran, yaitu: (1) peran pertahanan keamanan, untuk menjaga keamanan dan ketertiban negara; dan (2) peran sosial, untuk memegang kekuasaan dan mengatur negara. Peran tersebut dilandasi pemikiran historis bahwa TNI adalah tentara pejuang dan pejuang tentara. TNI dan Polri memiliki hak politik yang didasari oleh pasal 27 ayat (1) UUD 1945 bahwa setiap warga negara memiliki hak politik dan kedudukan yang sama. Dwifungsi sekaligus digunakan untuk membenarkan militer dalam meningkatkan pengaruhnya di pemerintahan Indonesia, termasuk kursi di parlemen hanya untuk militer, dan berada di posisi teratas dalam pelayanan publik nasional secara permanen. Melalui dwifungsi ABRI ini, tentara bisa masuk dalam semua jaring lapisan masyarakat Indonesia. Para perwira militer selama kepresidenan Soeharto memegang posisi kunci dalam semua tingkat pemerintahan di Indonesia, termasuk walikota, pemerintah provinsi, duta besar, perusahaan milik negara, peradilan, dan kabinet Soeharto.

Kromo dalam cerpen Laki-laki yang Kawin dengan Peri ini merupakan simbol dari Soeharto, sedangkan peri merupakan simbol ABRI, hal ini terlihat seperti dalam kutipan berikut: “Sudah, kaki. Kalau bangsa manusia tidak mau mengerti, jangan susah.” (1995: 20). Cerpen yang sarat akan simbol ini jika dibaca sekilas, tak ubahnya seperti cerita mitologi belaka, namun tidak demikian kenyataannya. Kutipan tersebut jika diinterpretasikan adalah ungkapan dari pihak ABRI kepada Soeharto pada awal pemerintahannya. Soeharto yang berasal dari militer, tentu memilih bekerja sama dengan golongannya dibandingkan dengan golongan lain yang belum dia kuasai seluk-beluknya. Ini dibuktikan dengan fakta bahwa Soeharto dapat memimpin Indonesia selama 32 tahun karena “menyelinapkan” ABRI di setiap elemen masyarakat, sehingga Soeharto bisa berkuasa penuh atas bangsa dan negara Indonesia. Hal ini seperti kutipan berikut: “….. Yang mengherankan adalah rambut Kromo yang tidak putih, meskipun orang sebayanya sudah.” dan juga kutipan berikut: “Itu biasa karena sebayanya malah sudah mati.” (1995: 21).

Sabtu, 23 Juli 2016

THE TYPE OF JAVANESE KINSHIP

Because I am a Javanese, this time I'll give a (very) thin description about the Javanese kinship. But, please don't judge me as an ethnocentric. Don't!
The type of Javanese kinship is Hawaiian. Hawaiian type are also known as generation type based on differences in generation and gender. There is the older generation and the younger generation. In this type, an ego called all the women of the generation of his parents as "Mother" and all the men of the generation of his parents as "Father". In the younger generation, all the brothers and male cousins ​​are called "Brother", whereas all sisters and female cousins ​​are called "Sister". In Hawaiian type, all cousins ​​have the same terms with siblings.

In Java, there are certain terms to refer to someone in a group of relatives. The male parents known as "Bapak" or "Rama". The elder brother of the parents known as "Pakdhe" (Bapak Gedhe), while the younger brother of the parents known as "Paklik" (Bapak Cilik). The female parents known as the "Ibu / Simbok / Biyung". The older sister of the parents known as "Budhe" (Ibu Gedhe), while the younger sister of the parents known as "Bulik" (Ibu Cilik). The elder brother, known as "Mas / Kakang / Kang / Kang Mas". The elder sister, known as "Mbak Yu / Mbak / Yu". The younger brother known as "Adhi / Dhimas / Dik / Le". The younger sister, known as "Adhi / Dhi Ajeng / Ndhuk / Dhenok". The mention of cousins ​​in the Java community same with the mention siblings.

Jumat, 22 Juli 2016

REVIEW ARTIKEL HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA "FENOMENOLOGI AGAMA: PENDEKATAN FENOMENOLOGI UNTUK MEMAHAMI AGAMA"

Artikel ini dimuat dalam Jurnal Walisongo Vol. 20, No. 2, November 2012. Dalam tulisan ini, Ahimsa-Putra mencoba untuk menjelaskan secara singkat pendekatan fenomenologi yang berkembang dalam ilmu sosial budaya, karena adanya pengaruh dari filsafat fenomenologi yang dikembangkan oleh Edmund Husserl, dan bagaimana pendekatan tersebut dapat digunakan untuk memahami fenomena keagamaan. Penelitian fenomenologis ditujukan terutama untuk mendeskripsikan dengan sebaik-baiknya gejala sosial budaya menurut sudut pandang subjek yang diteliti. Asumsinya adalah bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki kesadaran, memiliki pengetahuan, atas apa yang dilakukannya, serta memiliki tujuan-tujuan berkenaan dengan perilaku atau tindakannya. Kesadaran inilah yang membuat gejala sosial budaya bermakna, tidak hanya bagi peneliti tetapi juga bagi pelakunya. Sependapat dengan Ahimsa-Putra bahwa consciousness akan menghasilkan makna pada individu. Bila individu mengalami kesadaran atas tindakannya, maka akan muncul suatu pemaknaan. Sebaliknya, makna tidak akan muncul apabila individu berada dalam kondisi unconsciousness. Sebagai contoh, dalam agama Islam terdapat kewajiban untuk menunaikan ibadah sholat. Sebagian orang terkadang tidak menyadari mengapa mereka melakukan itu, mengapa sholat diwajibkan untuk seluruh umat Islam. Ketidaksadaran mereka membuat ibadah sholat itu tidak memiliki makna, sehingga acapkali meninggalkan kewajiban tersebut. Sedangkan bagi orang-orang yang menyadari pentingnya sholat, mengapa mereka harus menjalankan sholat dan apa manfaatnya menjalankan sholat, akan membuat sholat itu memiliki makna yang baginya, sehingga mereka enggan untuk meninggalkannya. Jadi, kesadaran akan sesuatu akan melahirkan makna tertentu.

Sehubungan dengan gejala keagamaan, jika pendekatan fenomenologi digunakan untuk memahami gejala tersebut, perhatian utama peneliti akan diarahkan pada kesadaran, pada pengetahuan subjek yang diteliti mengenai perilaku dan tindakan keagamaan yang mereka lakukan. Kesadaran inilah yang kemudian akan dipaparkan dengan sebaik-baiknya, selengkap-lengkapnya, secocok mungkin dengan apa yang dimaksud oleh tineliti. Agar tujuan tersebut dapat dicapai maka peneliti perlu menempatkan dirinya sebagai seorang “murid” yang ingin mengetahui sebaik-baiknya pengetahuan yang dimiliki oleh para tineliti mengenai gejala keagamaan yang mereka terlibat di dalamnya. 

Dalam posisi semacam itu, tidak pada tempatnya kalau peneliti kemudian berusaha menentukan “kebenaran” ataupun “kekeliruan” dari kesadaran atau pengetahuan yang dimiliki para tineliti mengenai gejala keagamaan tersebut. Dengan kata lain, “relativisme agama” merupakan sebuah prinsip penelitian yang perlu diikuti dalam penelitian atas gejala keagamaan dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Dalam hal ini, saya sependapat dengan Ahimsa-Putra karena agama merupakan suatu fenomena/gejala sosial-budaya di mana semua gejala sosial-budaya yang ada di dunia ini adalah benar adanya. Tidak ada satu gejala sosial-budaya pun yang keliru karena apa yang terjadi di lapangan adalah sebuah fakta, meskipun kesadaran dan pemaknaan antara individu satu dengan individu yang lain berbeda. Ilmu sosial-budaya bukanlah ilmu pasti seperti halnya ilmu alam. Dengan kata lain, peneliti sosial-budaya tidak akan pernah menemukan “kebenaran absolut” dari gejala/fenomena sosial-budaya yang ada di dunia, termasuk agama.

Dalam budaya Indonesia, istilah ‘agama’ sebenarnya memiliki makna yang berbeda dengan makna religion pada umumnya. Selain itu, agama juga berbeda dengan sistem kepercayaan. Dilihat dari sudut pandang tertentu makna agama lebih luas daripada sistem kepercayaan, namun dilihat dari sudut pandang yang lain sistem kepercayaan lebih luas maknanya daripada agama. Di sini, Ahimsa-Putra menganggap bahwa agama lebih luas cakupannya daripada sistem kepercayaan. Sependapat dengan Ahimsa-Putra, menurut saya agama didasarkan pada kesadaran kolektif yang telah menjadi kesepakatan dan kepercayaan bersama, sehingga memiliki makna yang bersifat kolektif pula. Sedangkan kepercayaan masih berupa kesadaran individu yang sudah pasti makna antara individu satu dengan yang lain berbeda. Sehingga dapat dikatakan bahwa agama lebih luas cakupannya daripada sistem kepercayaan.

Dalam artikel tersebut, Ahimsa-Putra menyebutkan bahwa perangkat kebudayaan terdiri dari berbagai unsur yang menyatu membentuk semacam gugusan bintang-bintang, yang batas-batasnya tidak begitu jelas tetapi memiliki inti yang jelas. Hubungan antarunsur kebudayaan di sini juga lebih mirip seperti hubungan antara bintang satu dengan yang lain dalam sebuah gugusan bintang, daripada seperti hubungan antarunsur dalam sebuah sistem (2012: 288). Sebenarnya saya tidak begitu memahami kalimat tersebut karena tidak dijelaskan lebih riil dan tidak pula disertai dengan contoh. Menurut pemahaman saya, dalam kalimat tersebut Ahimsa-Putra ingin menyampaikan bahwa hubungan ketujuh unsur kebudayaan universal (bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian) bukanlah seperti sebuah sistem di mana ketujuh unsur kebudayaan tersebut merupakan subsistem-subsistem yang saling berkaitan satu dengan lainnya, sehingga apabila satu subsistem mengalami disfungsi, maka sistem tidak akan berjalan dengan baik sebagaimana mestinya. Ahimsa-Putra lebih memandang unsur-unsur kebudayaan seperti gugusan bintang yang tidak memiliki batas yang jelas, namun memiliki inti yang sama. Atau seperti atom yang memiliki inti yang sama meskipun di dalamnya terdapat proton dan neuron.

Menurut Ahimsa-Putra (2012: 290), unsur yang penting dalam sistem kepercayaan tersebut adalah “keyakinan akan kebenaran pandangan”. Kalau unsur “pandangan” berada dalam “jagad pemikiran”, maka unsur “keyakinan” berada dalam “jagad perasaan”. Adanya keterkaitan antara “yang di dalam pikiran” dengan “yang di dalam perasaan” inilah membuat apa yang di dalam pikiran tersebut, pandangan-pandangan tersebut, menjadi tidak begitu mudah untuk berubah. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Apa yang kita lihat secara langsung dan dapat kita rasakan dengan pancaindera akan melekat pada pikiran kita, dan apabila kita sudah yakin bahwa itu benar, maka itu akan menjadi sebuah pandangan yang sangat sulit untuk diubah. Hal ini terjadi karena antara rasio dan hati sudah saling terkait dalam satu mata rantai yang sama, sehingga apabila ingin merubahnya, maka harus memutuskan mata rantai tersebut menggunakan cara tertentu.
 
Dalam kaitannya dengan dunia empiris, deskripsi mengenai dunia ini secara fenomenologis dan sekaligus berdimensi agamawi akan selalu dikaitkan dengan dunia gaib, sebab deskripsi fenomenologis mengenai dunia empiris yang tidak berkaitan dengan dunia gaib akan membuat deskripsi tersebut kehilangan nuansa “keagamaannya”. Sepaham dengan Ahimsa-Putra, saya berpendapat bahwa fenomenologi agama tidak hanya bersentuhan dengan dunia empiris semata, namun juga dengan dunia non-empiris (dunia gaib), karena di dalam agama terdapat berbagai ajaran Tuhan, sementara Tuhan sendiri merupakan sesuatu yang gaib, tidak nampak, dan tidak dapat dilihat dengan mata. Sementara itu, dalam agama Islam misalnya, terdapat penjelasan mengenai makhluk gaib lainnya, seperti jin, syaitan, dan malaikat. Oleh karena itu, fokus deskripsi fenomenologi agama adalah dunia empiris dan dunia tidak empiris (dunia gaib).

Kamis, 21 Juli 2016

REVIEW ARTIKEL HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA "STRUCTURAL ANTHROPOLOGY IN AMERICA AND FRANCE: A COMPARISON"

Pendahuluan
Sebenarnya ada tiga macam antropologi struktural, yaitu antropologi struktural Belanda, antropologi struktural Perancis, dan antropologi struktural Amerika, namun di sini hanya akan dibahas mengenai antropologi struktural Perancis dan antropologi struktural Amerika karena keduanya memiliki kesamaan gagasan mengenai kebudayaan dan bahasa, meskipun strukturalisme Belanda berpengaruh besar terhadap strukturalisme Perancis.

Ward Goodenough, seorang pelopor antropologi struktural Amerika, menyatakan bahwa ahli antropologi mempelajari kebudayaan asing seperti ahli bahasa mempelajari bahasa asing. Menurut Goodenough, masalah mendasar para ahli antropologi adalah bagaimana mendeskripsikan kebudayaan tertentu kepada orang lain yang tidak lazim/tidak biasa dengan hal itu.

Masalah yang sama dihadapi juga oleh ahli bahasa dalam mendeskripskan sebuah bahasa. Namun ahli bahasa lebih baik daripada ahli antropologi, mereka membangun seperangkat konsep dan simbol dengan elemen-elemen bahasa yang dapat dideskripsikan dan dibandingkan dengan bahasa lainnya. Goodenough menganjurkan ahli antropologi untuk menggunakan metode linguistik sebagai model deskripsi kebudayaan. Langkah yang sama juga dilakukan oleh Lévi-Strauss dalam mempelajari sistem kekerabatan.
 
Baik The New Ethnography (Antropologi Struktural Amerika) dan analisis struktural Lévi-Strauss (Antropologi Struktural Perancis) mengadopsi metode dan teori fonologi dalam linguistik. Bagaimana pun, keduanya dilakukan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan yang sudah pasti berbeda pula.

Antropologi Struktural dan Linguistik Amerika
Salah satu masalah ilmiah terbesar dalam antropologi budaya adalah masalah penjelasan kesamaan kebudayaan dan perbedaan dalam beragam masyarakat yang tersebar di dunia. Kebutuhan laporan untuk fenomena yang ilmiah dan sistematis tidak bisa diacuhkan ahli antropologi untuk studi tindakan komparatif.
 
Studi komparatif sistematis dipelopori oleh Edward B. Tylor, yang pada abad ke-19 menemukan metode perbandingan persilangan kebudayaan di seluruh dunia. Tylor mengumpulkan informasi dengan mengambil sampel pada 350 masyarakat dari seluruh penjuru dunia dan menggunakan tes kemungkinan empiris untuk menemukan ada/tidaknya hubungan di antara institusi sosial di bawah pertimbangan subjek untuk aturan hukum. Ketika hubungan antarvariabel membuktikan adanya signifikansi, Tylor menyebutnya dengan adhesi (pelekatan). Dalam matriks analisis kontemporer, studi komparatif Tylor dikenal sebagai R-mode analysis (model analisis R), dimana peneliti menemukan bahwa variabel atau ciri kebudayaan sebagai kelompok sampling lebih baik daripada masyarakat atau kebudayaan.
 
Ada beberapa proposisi mengenai tempat dari bentuk kebudayaan dalam pengaturan sosial-budaya yang besar. Dua di antaranya adalah sebagai berikut. Pertama, proposisi yang berhubungan dengan perngaruh kondisi ekstra-kultural pada bentuk standar kebudayaan atau aturan, dan kedua, kesungguhan prinsip kebudayaan sebagai sebab atau varabel independen (berdiri sendiri), dan kondisi ekstra-kultural sebagai akibat atau variabel dependen (bergantung).
 
Data yang terekam pada masyarakat yang berbeda merupakan produk dari observasi mendetail terhadap apa yang orang-orang katakan dan lakukan, keadaan tindakan dan akibat dari aktivitas mereka. Gambaran pada orang yang sama menyajikan perbedaan penelitian untuk memastikan tingkat keberagaman satu dengan lainnya. Dalam membandingkan data yang terkumpul dari laporan yang berbeda, menggunakan perbedaan metode dan untuk tujuan yang berbeda. Apabila data tidak dapat dibandingkan, maka tidak dapat dilakukan perbandingan persilangan kebudayaan. Apabila yang demikian itu diterapkan, kesimpulan akan selalu menjadi problematik. Untuk melakukan studi perbandingan, data harus dikeluarkan dari bungkusnya dan dipilah untuk mencocokkan dengan tujuan penelitian. Artinya, perlu standar sistem dari klasifikasi untuk mengendalikan data mentah dan mereorganisasi atau mengubah data yang dipresentasikan untuk membuatnya sebanding satu sama lain.
 
Goodenough dan sejumlah ahli antropologi mengkonsepsikan masalah perbandingan kebudayaan menjadi serupa/sama dalam prinsip seperti ahli bahasa ketika mereka ingin untuk mendeskripsikan bunyi bahasa dari bahasa lain. Satu dari beberapa pendekatan dalam mendeskripsikan bahasa (linguistik deskriptif) adalah analisis struktural Zellig Harris. Harris mengenalkan komponen gagasan dalam analisis strukturalnya, yaitu fonem dan morfem. Fonem merupakan kombinasi unik dari beberapa komponen. Dalam sebuah bahasa, fonem digunakan dalam kesatuan yang kompleks, yang memiliki arti tertentu. Dalam linguistik deskriptif, tugas untuk mengisolir dan mendeskripsikan bunyi bahasa dari sebagian bahasa disebut fonemik, dan transkripsinya merepresentasikan kategori bunyi yang membuat perbedaan makna dalam kepastian bahasa, dimana studi produksi bunyi dan pembangunan meta-bahasa dengan fonem dan ciri-ciri khusus dari sebuah bahasa yang dapat dideskripsikan disebut fonetik, dan transkripsinya adalah seperangkat konsep yang dibangun oleh ahl bahasa untuk mendeskripsikan bunyi bahasa.
 
Berdasarkan atas perbedaan antara fonetik dan fonemik, dapat dikatakan bahwa deskripsi secara sosial bermakna sistem tindakan merupakan sebuah emic sejauh itu berdasar pada elemen-elemen yang memiliki komponen suatu sistem, dan sebuah etic yang berdasar pada elemen-elemen konseptual yang tidak memiliki komponen suatu sistem. Beberapa ahli antropologi meyakini bahwa masalah dalam studi perbandingan dapat dipecahkan dengan mengaplikasikan metode deskripsi dan perbandingan linguistik. Ahli antropologi memiliki klasifikasi dan tipologi sendiri mengenai hal tersebut. Untuk mendeskripsikan dan membandingkan dengan klasifikasi miliknya, ahli antropologi menemukan seperangkat instrumen konseptual yang akan digunakan untuk menggambarkan perbedaan sebaik mungkin. Asumsi dasarnya adalah bahwa ekspresi linguistik didesain oleh konsep-konsep kelas. Analogi eksplisit dari analisis semantik atau analisis komponensial dalam antropologi berdasar pada model fonologi komponensial. Ada beberapa asumsi mengenai analogi tersebut. Pertama, data dalam analisis semantik dipandang kurang lebih sepadan dengan produk dari analisis fonologikal. Kedua, dalam analisis komponensial, istilah domain semantik (seperti kekerabatan) membedakannya dari satu dengan yang lain melalui ciri-ciri khusus.

Strukturalisme dan Linguistik Lévi-Strauss 
Jika ahli antropologi Amerika mencari model dan metode dalam linguistik untuk mengatasi masalah dalam mendeskripsikan dan membandingkan kebudayaan di dunia, Lévi-Strauss melakukan hal yang sama untuk tujuan berbeda. Tujuan Lévi-Strauss adalah menemukan jawaban atas permasalahan status keilmiahan ilmu sosial, khususnya antropologi. Lévi-Strauss menyarankan para ahli antropologi menggunakan analisis linguistik karena fenomena sosial memproses dua karakteristik pokok yang membuatnya cocok untuk analisis ilmiah. Pertama, banyak tindakan linguistik merupakan produk dari ketidaksadaran pikiran manusia. Ketika orang berbicara,  mereka tidak menyadari hukum sintaktik dan morfologikal bahasanya. Kedua, bahasa muncul lebih dulu dalam sejarah umat manusia. Bahasa merupakan fenomena sosial dan juga merupakan objek tepat untuk analisis matematika.

Pengaplikasian analisis linguistik dalam studi sosial-budaya hanya mungkin dilakukan apabila terdapat perbedaan model masyarakat dan budaya, dan Lévi-Strauss menemukan cara baru untuk penelitian dengan memandang masyarakat atau budaya dalam hubungan teori komunikasi. Ada tiga macam komunikasi yang juga merupakan bentuk pertukaran, yang benar-benar berhubungan, karena pernikahan (komunikasi karena wanita) berasosiasi dengan prestasi ekonomi (komunikasi karena barang dan jasa), dan bahasa memainkan peran yang signifikan pada semua level.

Ada beberapa teori linguistik yang mempengaruhi pemikiran Lévi-Strauss, yaitu dari Troubetzkoy, Jakobson, dan Saussure. Troubetzkoy mengenalkan empat revolusi prinsip metodologi dalam linguistik struktural. Pertama, linguistik struktural bergeser dari studi fenomena kesadaran linguistik ke studi ketidaksadaran infrastruktur. Kedua, linguistik struktural bukanlah ucapan yang menyenangkan sebagai kesatuan yang independen, yang justru mengambil sebagai dasar analisis relasi antara ucapan. Ketiga, linguistik struktural mengenalkan konsep sistem. Keempat, linguistik struktural bermaksud menemukan hukum universal, baik induksi maupun deduksi.

Teori linguistik kedua yang mempengaruhi pemikiran analisis Lévi-Strauss adalah teori fonem Roman Jakobson. Jakobson meyakini bahwa mustahil untuk mengevaluasi setiap elemen dengan baik dalam sistem bahasa jika tidak memandang hubungannya dengan elemen lain dalam sistem. Jakobson percaya bahwa fungsi utama bunyi bahasa adalah memungkinkan manusia membedakan kesatuan semantik, yang dilakukan dengan merasakan ciri-ciri khusus  dari bunyi dan memisahkannya dari kekhususan lain dari bunyi. Poin penting dalam teori fonem Jakobson adalah pandangannya mengenai perbedaan fonem dari kesatuan linguistik lain.
 
De Saussure menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah sistem ucapan interdependen dimana nilai masing-masing ucapan merupakan hasil dari kehadiran simultan orang lain. Nilai dari setiap ucapan dalam bahasa dimaknai oleh lingkungan. Ada dua aspek dari bahsa menurut Saussure, yaitu bahasa dan jaminan. Bahasa menunjuk pada kode khusus (sistem pengetahuan teratur), yang mirip kemampuan pemikiran Chomsky. Ini merupakan kumpulan fenomena yang hanya ada dalam ketidakmengertian dimana memungkinkan orang untuk berkomunikasi. Bahasa dalam kacamata Saussure juga merupakan relasi sistem. Ada dua macam relasi, yaitu distribusional dan integratif. Distribusional diartikan sebagai relasi antarelemen pada level yang sama, sedangkan integratif diartikan sebagai relasi antarelemen pada level yang berbeda.
 
Seperti sistem fonemik, Lévi-Strauss menyatakan bahwa sistem kekerabatan merupakan sistem tindakan terstruktur melalui hukum ketidaksadaran, dan tindakan tersebut menjadi berarti hanya ketika mereka terintegrasi dalam sistem. Lévi-Strauss juga berpikir bahwa bunyi seseorang tidak terbatas. Dalam mengaplikasikan analisis struktural dalam fenomena kekerabatan, Lévi-Strauss juga membuat perbedaan antara kekerabatan sebagai sistem terminologi dan sistem sikap. Lévi-Strauss setuju dengan yang kedua sebagai usahanya untuk menjelaskan sikap paman dari garis ibu atau kakak laki-laki dari ibu.
 
Sejak kekerabatan dipandang sebagai suatu sistem, Lévi-Strauss percaya bahwa paman dari garis ibu merupakan bagian dari beberapa sistem kekerabatan. Untuk menganalisis sistem kekerabatan dalam hal ini perlu dilihat ciri ketidaksadaran dari sikap sebagai bagian dari sebuah sistem. Lévi-Strauss kemudian menarik kesimpulan bahwa “satu aspek dari sistem global terdiri dari empat tipe hubungan, yaitu saudara laki-laki/saudara perempuan, suami/istri, ayah/anak laki-laki, dan kakak laki-laki dari ibu/anak laki-laki dari kakak perempuan. Lévi-Strauss mengemukakan aturan umum bahwa  dalam kebudayaan dimana hubungan antara kakak laki-laki dari ibu dan anak laki-laki dari kakak perempuan adalah khusus “hubungan antara paman dari garis ibu dan kemenakan laki-laki adalah hubungan antara saudara laki-laki dan saudara perempuan, sebagai hubungan antara ayah dan anak laki-laki juga antara suami dan istri.”

Asumsi Dasar Antropologi Struktural Amerika
The New Ethnography atau Antropologi Struktural Amerika menjelaskan kebudayaan manusia yang menghasilkan deskripsi lain yang sebanding dengan menggunakan metode atau pendekatan yang sama. Asumsi dasarnya di sini adalah kebudayaan manusia dipelihara agar fungsi macam-macam komponen terintegrasi dan berkaitan satu sama lain. Sebagai elemen baru yang ditemukan atau dipinjam, mereka mencoba secara berkala sebelum adanya matriks kebudayaan.

Perbandingan persilangan kebudayaan diprakarsai oleh G.P. Murdock. Konstribusi Murdock di lapangan antara lain: menggunakan kesimpulan statistik formal termasuk koefisien dan korelasi dan tes yang signifikan, membangun bibliografi etnografi kontinental secara sistematis dan yang lebih penting lagi menggunakan dalil logika yang formal, sebuah sistem dengan memberi alasan yang berasal dari doktrin alasan deduktif dan pemalsuan hipotesis Popper. Poin terakhir tersebut menunjukkan bahwa pendekatan persilangan kebudayaan menggunakan dasar epistemologi.
 
Ilmu pengetahuan Popper adalah ilmu pengetahuan empiris yang menunjukkan “dunia nyata” atau pengalaman kita di dunia. Sejak teori harus palsu, teruji, teori juga harus empiris, dan sistem teori empiris harus memenuhi beberapa syarat. Pertama, teori harus tiruan dalam indera dan berisi pernyataan yang tidak bertentangan. Kedua, teori tidak harus menjadi metafisik, tetapi harus “menggambarkan dunia dari pengalaman yang masuk akal”. Ketiga, teori harus membedakan dari sistem lainnya, dan menjadi satu-satunya yang menggambarkan pengalaman dunia kita.

Asumsi Dasar Strukturalisme Lévi-Strauss
Lévi-Strauss beranggapan bahwa bukan hanya naïf, melainkan juga salah jika menggunakan penjelasan kesadaran tindakan nyata manusia untuk penelitian ilmiah. Pada pandangan Lévi-Strauss, fenomena kesadaran menutupi struktur ketidaksadaran. Tindakan dan penjelasan beberapa orang terkadang bertentangan dengan tindakan dan penjelasan orang lain. Keberadaan fenomena nyata tidak terlihat sebagai pemberian pada pengamat, tetapi lebih banyak pada level yang terdalam. Akibat dari pandangan ini sudah jelas, bahwa kita tidak dapat menjelaskan lebih banyak dalam mengartikan pemberian fenomena kebudayaan atau kebiasaan jika itu dipelajari terpisah.

Menurut Lévi-Strauss, struktur bukanlah gambaran ataupun pengganti realitas. Struktur merupakan realitas empiris yang menawan dalam organisasi rasional, dan tidak ada struktur yang terpisah dari isi atau sebaliknya. Dalam studi strukturalnya, Lévi-Strauss memandang fenomena sosial sebagai “sistem objektivitas ide” yang digambarkan dengan simbol-simbol tertentu. Analisis struktural dapat menjadi ekonomi ilmiah, yang menggunakan angka terakhir dari aturan prinsip-prinsip untuk menjelaskan angka kemungkinan terbesar dari fenomena. Lévi-Strauss selalu mencoba mengkonstruksi model-model yang membuat fenomena sosial-budaya dapat dimengerti meskipun semakin kompleks.

Strukturalisme Amerika dan Perancis: Poin-poin Perbedaan 
Meskipun Antropologi Struktural Amerika dan Perancis sama-sama menggunakan metode linguistik sebagai model deskripsi kebudayaan dan analisis, hasil dari studi keduanya berbeda. Ada beberapa perbedaan antara strukturalisme Amerika (The New Ethnography) dan strukturalisme Perancis (strukturalisme Lévi-Strauss) di antaranya adalah sebagai berikut.
  1. Perbedaan tujuan. Strukturalisme Amerika lahir sebagai bentuk usaha beberapa ahli antropologi untuk menyaring metode deskripsi kebudayaan mereka dan menginginkan etnografi yang sebanding. Sedangkan strukturalisme Perancis berbanding terbalik dengan strukturalisme Amerika. Seperti studi perbandingan dalam linguistik, analisis antropologi didukung pula oleh sesuatu lebih dari klasifikasi atau kategorisasi belaka, yang dinamakan sebagai analisis nyata. Untuk memahami dan menjelaskan fenomena sosial-budaya, ahli antropologi membangun “efisien” dan model yang terlalu hemat.
  2. Perbedaan konsep kebudayaan/gagasan dasar. Strukturalisme Perancis memandang kebudayaan terdiri atas bermacam-macam aturan yang berada dalam sebuah struktur. Sedangkan strukturalisme Amerika (The New Ethnography atau studi persilangan kebudayaan) tidak menyangkal keberadaan struktur dalam kebudayaan, namun mereka memandang struktur sebagai sebuah sistem yang memiliki relasi fungsional antarelemen di dalamnya.
  3. Perbedaan kriteria teori ilmiah. Menurut strukturalisme Amerika, ilmu pengetahuan yang tepat untuk tindakan manusia diuji dengan keterangan beberapa orang yang dalam banyak masyarakat. Sedangkan menurut strukturalisme Perancis, konsepsi ilmu pengetahuan dengan verifikasi penelitian secara teliti tidak berguna untuk analisis struktural.
  4. Perbedaan konsepsi makna. Strukturalisme Amerika menganggap bahwa makna ekspresi linguistik atau simbol adalah konsep-konsep kelas atau gambar yang dirancang atau ditunjukkan. Sedangkan strukturalisme Perancis menolak penunjukan atau hubungan teori makna. Konsepsi makna dalam strukturalisme Lévi-Strauss mirip dengan ahli fonologi, berdasarkan pada makna fonem yang tidak dirancang dengan sengaja, namun posisinya berada di antara dua bahasa, yaitu sintakmatik dan paradikmatik.
  5. Perbedaan latar belakang epistemologi. Posisi strukturalisme Amerika atau studi persilangan kebudayaan segaris dengan teori kebenaran Korespondensi dimana bahan kajian tidak dapat diperkecil lagi dan dikenal sebagai “fakta”. Fakta diberikan observer, namun terpisah darinya. Sebaliknya, strukturalisme Perancis menganjurkan teori kebenaran Koherensi (pertalian) dimana tidak ada pemisahan antara pikiran dan fenomena yang diamati. Fakta tidak diberikan, namun dibuat berdasarkan kehadiran observer.

Sabtu, 09 Juli 2016

HIPNOTERAPI: ANTARA PENYEMBUHAN FISIK DAN MENTAL

Pendahuluan
Antropologi kesehatan tidak boleh dipandang sebagai penggabungan dari dua disiplin yang longgar, biologi dan sosial-budaya, karena seringkali masalah-masalah yang dihadapi kedua disiplin ilmu tersebut saling membutuhkan data maupun teori-teori dari kedua bidang yang bersangkutan (Foster & Anderson, 2009: 2). Penyakit mental, misalnya, tidak semata-mata dapat dipelajari dalam kerangka faktor fisiologis atau biokimia belaka, atau pun faktor sosio-budaya yang mengarah pada kondisi psikologis seperti: stress. Penyakit mental dapat dipelajari dalam gabungan kacamata kedua disiplin, yang salah satunya adalah menggunakan hipnoterapi untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam dari faktor-faktor yang berpengaruh.

Hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan pada subjek dalam kondisi hipnosis. Hipnosis adalah suatu keadaan fokus, tenang, dan rileks, sehingga dapat mencerna informasi atau sugesti yang masuk ke dalam pikiran (Sugara, 2013: 1). Kata hipnosis diambil dari nama dewa Yunani yang bernama “hypnoze” (tidur) dan pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter yang bernama James Braid pada abad ke-19. Awalnya, hipnosis banyak digunakan di dunia kedokteran, terutama untuk mengurangi rasa sakit saat melakukan operasi. Sebelum ditemukannya obat bius, para dokter melakukan operasi dengan memanfaatkan kondisi hipnosis. 

Hipnoterapi sering digunakan untuk memodifikasi perilaku subjek, isi perasaan, sikap, juga keadaan seperti kebiasaan disfungsional, kecemasan, sakit sehubungan stress, manajemen rasa sakit, dan perkembangan pribadi. Dengan kata lain, hipnoterapi merupakan aplikasi hipnosis yang digunakan untuk terapi, dan membantu orang yang mengalami psikosomatis atau mental block. Hipnoterapi memiliki penggunaan yang begitu luas, karena dapat menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan emosi dan perilaku. Lantas, bagaimana peran hipnoterapi dalam penyembuhan penyakit fisik dan mental seseorang?

Sekilas Tentang Hipnosis dan Hipnoterapi
Hipnosis didefinisikan sebagai suatu kondisi pikiran dimana fungsi analitis logis pikiran direduksi sehingga memungkinkan individu masuk ke dalam kondisi bawah sadar (sub-conscious/unconcious), di mana tersimpan beragam potensi internal yang dapat dimanfaatkan untuk lebih meningkatkan kualitas hidup. Individu yang berada pada kondisi “hypnotic trance” lebih terbuka terhadap sugesti dan dapat dinetralkan dari berbagai rasa takut berlebih (phobia), trauma ataupun rasa sakit. Individu yang mengalami hipnosis masih dapat menyadari apa yang terjadi di sekitarnya berikut dengan berbagai stimulus yang diberikan oleh terapis.

Kasus pencabutan gigi pertama menggunakan hipnosis dilakukan pertama kali pada tahun 1823. Diikuti dengan proses melahirkan menggunakan hipnosis pada tahun 1826. Selama Perang Dunia I dan Perang Dunia II, hipnoterapi digunakan untuk memberikan perlakuan pada para prajurit yang mengalami trauma. Pada tahun 1955, British Medical Association menyatakan bahwa hipnosis layak digunakan untuk mengobati histeria dan digunakan sebagai anastesi. Tahun 1958, American Medical Association membuat pernyataan yang sama sekaligus mengkritik keras hipnosis yang ditujukan sebagai hiburan/pertunjukan (stage performance). Tahun 1960, American Psychology Association membentuk dewan penilai kelayakan seorang hipnotis. Kini, beberapa Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi telah memberikan mata kuliah hipnosis. Adapun universitas yang memiliki jurusan khusus hipnosis adalah Universitas Pepperdine di California.

Terapi hipnosis (hypnotherapy) kini merupakan fenomena ilmiah. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa hipnoterapi menstimulir otak untuk melepaskan neurotransmiter, zat kimia yang terdapat di otak, encephalin dan endhorphin yang berfungsi untuk meningkatkan mood sehingga dapat mengubah penerimaan individu terhadap sakit atau gejala fisik lainnya. Sementara menurut Profesor John Gruzelier, seorang pakar psikologi di Caring Cross Medical School, London, guna menginduksi otak dilakukan dengan memprovokasi otak kiri untuk nonaktif dan memberikan kesempatan kepada otak kanan untuk mengambil kontrol atas otak secara keseluruhan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat otak fokus pada suatu hal secara monoton menggunakan suara dengan intonasi datar, seolah-olah tidak ada hal penting yang perlu diperhatikan.

Secara umum, mekanisme kerja hipnoterapi sangat terkait dengan aktivitas otak manusia. Aktivitas ini sangat beragam pada setiap kondisi yang diindikasikan melalui gelombang otak yang dapat diukur menggunakan alat bantu EEG (Electroenchepalograph). Berikut diuraikan berbagai gelombang otak disertai dengan aktivitas yang terkait:
  • Beta (14 - 25 Hz)(normal): Atensi, kewaspadaan, kesigapan, pemahaman, kondisi yang lebih tinggi diasosiasikan dengan kecemasan, ketidaknyamanan, kondisi lawan/lari. 
  • Alpha (8 – 13 Hz)(meditatif): Relaksasi, pembelajaran super, fokus relaks, kondisi trance ringan, peningkatan produksi serotonin, kondisi pra-tidur, meditasi, awal mengakses pikiran bawah sadar (unconscious).
  • Theta (4 – 7 Hz)(meditatif): Tidur bermimpi (tidur REM/Rapid Eye Movement), peningkatan produksi catecholamines (sangat vital untuk pembelajaran dan ingatan), peningkatan kreativitas, pengalaman emosional, berpotensi terjadinya perubahan sikap, peningkatan pengingatan materi yang dipelajari, hypnogogic imagery, meditasi mendalam, lebih dalam mengakses pikiran bawah sadar (unconscious).
  • Delta (0,5 – 3 Hz)(tidur dalam): Tidur tanpa mimpi, pelepasan hormon pertumbuhan, kondisi non fisik, hilang kesadaran pada sensasi fisik, akses ke pikiran bawah sadar (unconscious) dan memberikan sensasi yang sangat mendalam ketika diinduksi dengan Holosinc.

Hipnoterapi : Antara Penyembuhan Fisik dan Mental
Hipnosis secara perlahan telah menunjukkan keberadaannya seiring dengan semakin meningkatnya penerimaan dalam dunia medis. Hipnosis banyak digunakan di berbagai bidang, seperti: bidang pengobatan dan olahraga untuk mengubah mekanisme otak manusia dalam menginterprestasikan pengalaman dan menghasilkan perubahan pada persepsi dan tingkah laku, bidang pendidikan (hypnolearning), bidang forensik (hypnoforensic), terapi penyembuhan mental (clinical hypnotherapy), bidang pemasaran/bisnis (hypnomarketing), dan hiburan (stage hypnosis). Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa aplikasi hipnosis untuk tujuan perbaikan (therapeutic) dikenal sebagai hipnoterapi.

Untuk melakukan hipnoterapi, ada tindakan yang dikenal dengan istilah induksi atau menginduksi. Kecakapan menginduksi berbanding lurus dengan subjek hipnosis menerima sugesti. Karena semua hipnosis adalah self-hypnosis, jika subjek hipnosis tidak bersedia dihipnosis, maka ia akan sulit dihipnosis. Dalam bidang hipnoterapi, subjek hipnosis ini disebut klien. Untuk memudahkan melakukan hipnosis, hipnoterapis perlu mengetahui perihal tingkat sugestibilitas klien. Sugestibilitas adalah kepribadian hipnotik seseorang yang ditentukan atau dipengaruhi oleh semua pengondisian dan pengalaman hidup, terutama pada usia 6 hingga 8 tahun. Berdasarkan Stanford Hypnotic Susceptibility Scale (SHSS), secara umum manusia terbagi dalam tiga kelompok sugestibilitas: yang sangat mudah dihipnotis sebesar 10% dari populasi, yang moderat 85% (sugestibilitas normal), dan yang sulit 5% (sulit dihipnosis) (Gunawan dalam Karyadi, 2013: 12).

Di ruang terapi, seorang hipnoterapis tidak begitu mempermasalahkan perihal tingkat sugestibilitas klien karena ada tahapan-tahapan yang harus diterima dan diikuti oleh klien dalam proses terapi, mulai dari tahapan interview, qualifying, induksi, hingga proses restructuring. Jika tahap awal diterima secara sadar oleh klien dengan sungguh-sungguh tanpa ada penolakan, maka tingkat sugestibilitas klien tidak begitu menjadi masalah. Kesiapan mental klien secara sadar untuk menerima sugesti digunakan sebagai acuan untuk memudahkan memberi sugesti oleh hipnoterapis kepada klien. Setiap proses melakukan tindakan hipnoterapi terlebih dahulu dilakukan kontrak hipnosis.

Hal menarik dalam masa rentang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan seseorang (usia 3 bulan dalam kandungan hingga usia 8 tahun) terjadi ketika ada masa di mana seseorang mengalami suatu kejadian atau peristiwa yang cenderung traumatik. Meskipun peristiwa itu hanya sederhana, tetapi saat peristiwa tersebut memunculkan emosi negatif sangat intens, yang meninggalkan rekaman kesan emosi negatif yang sangat kuat pada pikiran bawah sadar seseorang, maka dapat menimbulkan berbagai masalah dan perilaku negatif seseorang di masa depannya. Hal yang mungkin terjadi adalah kesan traumatis atau hanya sekedar phobia (ketakutan tidak beralasan), atau bahkan bisa menjadi penyebab seseorang mengalami penyakit fisik tertentu.

Bhante Karyadi, seorang ulama Buddhis yang terbuka, melalui buku “Sembuh dengan Hipnoterapi” (2013) mengemukakan pengalamannya saat melakukan hipnoterapi kepada klien-kliennya. Karyadi (2013: 13 – 14) pernah menangani klien yang mengidap penyakit kanker rahim atau kista. Karyadi menemukan sumber masalah ketika klien berusia 5 tahun ketika me-release emosi negatif klien. Ketakutan adalah emosi negatif yang terungkap, paling dominan dirasakan oleh klien. Selanjutnya, Karyadi melakukan regresi ketika klien berusia 5 tahun, saat masih di kampung halamannya di Pulau Sumatra. Saat umur 5 tahun, klien pernah membeli permen di sebuah kedai di seberang jalan rumahnya. Sekembalinya membeli permen, saat sudah hampir mencapai pintu pagar rumahnya, klien hampir terserempet mobil angkutan kota yang melaju kencang. Kejadian itu terlihat langsung oleh ayahnya. Setelah masuk rumah, ayahnya malah memarahinya, “Tidak hati-hati…. Ceroboh… Sembarangan…!!!” Makian lain yang terucap dari mulut ayahnya juga masih membekas, sehingga klien semakin takut hingga tubuhnya menggigil. Melihat anaknya masih terlihat ketakutan, sang ayah masih saja memasang ekspresi marah dan tidak mendinginkan suasana hati klien. Saat itu, ibu klien sedang berbelanja ke pasar, sehingga tidak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Sekembalinya dari pasar, sang ibu melihat klien dengan mata sembap dan masih terisak. Ibunya sempat menanyakan alasan kenapa klien menangis, namun klien tidak berani menjawab sama sekali. Kemudian sang ibu menanyakan hal itu kepada suaminya, dan suaminya menceritakan kejadian sebenarnya. Akhirnya, sang ibu memeluk dan menggendong klien untuk menenangkannya. Klien baru merasakan kenyamanan saat dalam pelukan ibunya.

Peristiwa yang sudah terlupakan selama 38 tahun silam itu ternyata masih melekat di pikiran bawah sadar klien. Suatu ketika, klien sering terlambat datang bulan. Pola menstruasinya tidak teratur. Rasa perih pada bagian perut selalu dirasakan klien saat datang bulan. Akhirnya, klien memeriksakan keluhannya yang sering terlambat datang bulan sejak 4,5 tahun terakhir kepada dokter. Dari hasil pemeriksaan medis, klien didiagnosa penyakit yang cukup serius, yaitu kista/kanker rahim. Kanker rahim, yang notabene merupakan penyakit fisik, bukan hanya disebabkan oleh faktor fisik. Sumber penyakit yang mengondisikan klien adalah faktor emosi negatif, terutama rasa takut dan cemas yang masih terekam kuat di pikiran bawah sadar klien. Meskipun peristiwa sederhana terjadi di masa kecilnya, ketika klien beranjak dewasa, bahkan setelah melahirkan dan anak-anaknya bertumbuh dewasa, penyakit kistanya baru muncul setelah tersugesti oleh ucapan seseorang yang dipandang klien sebagai figur otoritas karena faktor profesi di bidang medis mengacu dari hasil diagnosa yang dilakukannya. Klien menganggap apa yang disampaikan figur otoritas ini sebagai kebenaran, sehingga klien menerima secara utuh apa yang diucapkannya. Setelah melalui proses hipnoterapi, diketahuilah sebab awal masalah klien yang bersumber dari peristiwa sederhana di masa kecilnya. Proses hipnoterapi hanya dilakukan selama 3 – 4 jam, dan dalam kurun waktu 4 bulan kemudian kista bersih dari rahimnya. Klien terhindar dari operasi pengangkatan rahim yang pernah disarankan oleh pihak medis.

Hipnoterapi, salah satunya berfungsi untuk menyembuhkan penyakit fisik, seperti: kanker dan serangan jantung. Emosi negatif akibat dari satu pengalaman traumatis masa lalu bisa menjadi pemicu munculnya penyakit fisik. Keadaan ini sering disebut psikosomatik, yaitu penyakit fisik yang berkaitan dengan masalah emosi negatif. Proses kesembuhan psikosomatik melalui hipnoterapi membuktikan kebenaran bahwa hipnoterapi berperan aktif mengatasi masalah kesehatan fisik dan mental. Hipnoterapi mempercepat pemulihan kondisi seorang penderita. Hal ini sangat dimungkinkan karena hipnoterapi diarahkan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memprogram ulang penyikapan individu terhadap penyakit yang dideritanya. 

Hipnoterapi sangat berguna dalam mengatasi beragam kasus berkenaan dengan penyakit mental: kecemasan, ketegangan, depresi, phobia dan dapat membantu untuk menghilangkan kebiasaan buruk, seperti ketergantungan pada rokok, alkohol, dan obat-obatan. Dengan memberi sugesti, seseorang terapis dapat membangun berbagai kondisi emosional positif berkenaan dengan menjadi seorang bukan perokok dan penolakan terhadap rasa ataupun aroma rokok. Khusus untuk phobia, hipnoterapi digunakan untuk mereduksi kecemasan yang mengambil alih kontrol individu atas dirinya. Hal ini dapat diwujudkan dengan menciptakan suatu gambaran nyata tentang kondisi yang menyebabkan phobia namun individu tetap dalam kondisi relax, sehingga membantu mereka untuk menyesuaikan ulang reaksi mereka pada kondisi yang menyebabkan phobia menjadi normal dan respon yang lebih tenang.

Hipnoterapi dapat digunakan untuk membawa orang mundur ke masa lampau atau regresi kehidupan masa lalu untuk mengobati trauma dengan memberikan kesempatan untuk mengubah “fokus” perhatian. Hipnoterapi juga dapat digunakan untuk meningkatkan optimalitas pembelajaran. Berkaitan dengan pembelajaran, hipnoterapi dapat aplikasikan untuk meningkatkan daya ingat, kreativitas, fokus, merubuhkan tembok batasan mental (self limiting mental block) dan lainnya.

Dengan menggunakan bantuan hipnosis, seorang hipnoterapis dapat dengan mudah masuk ke pikiran bawah sadar klien dan melakukan otak-atik “program”. Akibatnya bisa positif, bisa pula negatif. Modifikasi atau rekonstruksi “program” pikiran ini selanjutnya akan mempengaruhi perilaku seseorang dan sebagai hasil akhir sudah tentu hidup orang juga akan berubah. Hipnoterapi di tangan praktisi yang cakap, kompeten, penuh integritas, dan bertanggung jawab telah terbukti secara klinis dan empiris efektif dan efisien dalam meningkatkan dan memberdayakan potensi diri untuk keluar dari jerat masalah yang mendera hidup, yang disebabkan oleh faktor mental dan emosi (Gunawan dalam Karyadi, 2013). Dengan menggunakan mind technology, hipnoterapis dapat memanfaatkan trance logic dan berbagai teknik terapi untuk melakukan rekayasa ulang, modifikasi, dan rekonstruksi memori dan menetralkan muatan emosi negatif yang melekat pada memori untuk membentu menyembuhkan berbagai luka batin akibat pengalaman traumatis, yang parahnya bisa menimbulkan penyakit fisik pada seseorang.

Luka batin (psychological shock) yang dialami seseorang mempengaruhi kondisi pikiran dan perasaannya, yang termanifestasi dalam berbagai bentuk pola perilaku destruktif yang tampak seolah-olah wajar. Masalah yang cukup pelik ini sulit diatasi dengan cara atau metode biasa. Dengan bantuan hipnoterapi klinis, dapat diselesaikan dengan sangat cepat pada level yang paling dalam, yaitu di level pikiran bawah sadar. Hipnoterapi selain cepat menyembuhkan luka batin/penyakit mental, juga bisa digunakan untuk mengsugesti penderita penyakit fisik. Karena pada dasarnya, penyakit fisik tidak hanya disebabkan oleh faktor fisiologis dan biokimia, namun juga faktor psiko-sosial-budaya. Seringkali, penyakit fisik berhubungan dengan mental dan emosi yang cenderung negatif, sehingga menimbulkan kondisi traumatik yang – apabila berlanjut – berdampak pada penyakit fisik.

Uraian mengenai hipnoterapi di atas sepadan dengan pandangan di sebuah desa Mestizo bernama Tzintzuntzan di Meksiko di mana kesehatan didefinisikan dalam rangka keseimbangan antara kekuatan-kekuatan “panas” dengan “dingin” yang terdapat dalam tubuh manusia dan dalam alam sekitar. Pandangan tersebut ternyata hanya merupakan pernyataan khusus dari suatu pandangan hidup yang lebih luas, yakni bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki berbagai keseimbangan, baik itu ekonomi, keadilan, kekuasaan, dan sebagainya. Dalam pandangan yang lebih mikro, keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbangan jasmani-rohani/keseimbangan jiwa-raga/keseimbangan fisik-mental individu.

Lain halnya dengan pengobatan tradisional Cina. Dalam pengobatan tradisional Cina, dapat dilihat bagaimana pandangan hidup mempengaruhi ide dan praktik kedokteran: penyakit dianggap sebagai akibat dari disharmoni atau “kekurangan terjadinya pasang dan surut” antara kekuatan yin dan yang (Foster & Anderson, 2009: 49). Manusia dianggap sebagai mikrokosmos dari jagat raya yang terdiri dari lima unsur: kayu, api, tanah, logam, dan air, yang sebaliknya mempengaruhi lima bagian tubuh: panca indera, panca warna, dan panca rasa. Pandangan yang demikian tidak mendorong suatu studi anatomi. Kedokteran Cina ditandai oleh pikiran-pikiran yang kabur mengenai anatomi manusia. Berbeda dengan hipnoterapi yang “memprogram ulang” pikiran bawah sadar, terapi pengobatan Cina ditujukan terhadap pemulihan elemen yang yang hilang dengan pemberian bagian organ hewan yang diduga memiliki kadar tinggi dari material tersebut.

Seringkali, orang menganggap hipnoterapi merupakan praktik kekuatan supranatural. Pandangan ini muncul karena tidak banyak orang yang tahu-menahu terhadap ilmu hipnosis. Dalam kondisi hipnosis, orang sebenarnya memiliki kesadaran terhadap apa yang terjadi, hanya saja lebih reseptif dalam menerima sugesti dan informasi. Tidak ada kaitannya dengan dunia gaib, karena memang hipnosis merupakan kondisi umum yang pasti dialami oleh setiap orang. Pada dasarnya, hipnoterapi harus berdasarkan persetujuan dari klien. Jika klien tidak mau atau menolak memasuki kondisi hipnosis, maka klien secara penuh dapat mengendalikan dirinya. Hipnoterapi tidak membuat seseorang lupa dengan apa yang terjadi pada dirinya. Bahkan sebaliknya, orang menyadari secara penuh mengenai memori kehidupannya. Dengan mudah, hipnoterapi mampu mengubah cara berpikir (mindset) seseorang untuk hal-hal yang positif. Jika klien memiliki persepsi bahwa suatu pengalaman tertentu membuat hidupnya menderita, maka pikiran bawah sadar akan menilainya sebagai sebuah ancaman dan membuat pemiliknya menghindari situasi tersebut. Namun jika klien mampu menilai semua kejadian dengan perasaan positif untuk kemajuan dan perkembangan dirinya walaupun kejadian itu menyakitkan, maka pikiran bawah sadar akan mengarahkan hidupnya semakin positif dan bahagia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sesungguhnya kesehatan fisik berkaitan dengan kesehatan mental masing-masing orang, di mana seseorang yang memiliki kecenderungan penyakut mental, maka bisa jadi akan berdampak pada kondisi kesehatan fisiknya sendiri.

Penutup
Hipnoterapi adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk bisa menjangkau pikiran bawah sadar dengan cepat dan mudah. Perubahan perilaku selama ini cukup sulit dilakukan karena pada umumnya orang tidak mengerti cara masuk ke pikiran bawah sadar yang menyimpan berbagai “program” yang mengendalikan dirinya. Ada lima cara untuk masuk ke pikiran bawah sadar: (1) Repetisi; (2) Identifikasi kelompok atau keluarga; (3) Informasi yang disampaikan oleh figur yang dipandang mempunyai otoritas; (4) Emosi yang intens; dan (5) Kondisi alfa atau hipnosis.

Filter mental (pikiran sadar) baru mulai terbentuk saat anak berusia 3 tahun. Filter ini akan semakin menebal pada usia 8 tahun dan akan sangat tebal pada usia 13 tahun. Walaupun pikiran sadar ini semakin kuat kerjanya pada usia 13 tahun, dari penelitian yang lain didapatkan satu penemuan menarik, yaitu anak mulai usia 0 – 13 tahun masih sangat banyak yang beroperasi pada gelombang otak theta (4 – 8 Hz). Ini adalah gelombang pikiran bawah sadar. 

Seorang klien akan melakukan perintah yang disugestikan oleh hipnoterapis bergantung pada dua hal. Pertama, kecakapan hipnoterapis dalam meyakinkan pikiran bawah sadar klien bahwa si klien harus melakukan yang diminta oleh si hipnoterapis. Kedua, apabila ternyata nilai-nilai yang dipegang oleh klien mengijinkan untuk melakukan perintah yang diminta oleh hipnoterapis. Hipnoterapi bisa mempercepat pemulihan kondisi seorang penderita penyakit fisik. Hal ini sangat dimungkinkan karena hipnoterapi diarahkan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memprogram ulang penyikapan individu terhadap penyakit yang dideritanya.

Referensi
Foster, Anderson. 2009. Antropologi Kesehatan. Jakarta: UI-Press.

Karyadi. 2013. Sembuh dengan Hipnoterapi. Jakarta: Gramedia.

Putra, Derichard H. 2012. "Antropologi Kesehatan: Sebuah Definisi", (Online) (http://kalamenau.blogspot.com/2011/05/antropologi-kesehatan-sebuah-definisi.html, diakses tanggal 11 November 2013).

Sugara, Gian Sugiana. 2013. Terapi Self-Hypnosis: Seni Memprogram Ulang Pikiran Bawah Sadar. Jakarta: Indeks.

Jumat, 29 April 2016

KHASIAT GURAH SEBAGAI ETHNOMEDICINE

Sekilas Tentang Ethnomedicine
Pada tahun 1924, W.H. R. River, seorang dokter, menyebutkan bahwa kepercayaan medis dan praktiknya tidak dapat dipisahkan dari aspek budaya dan organisasi sosial yang lain. River menyatakan praktek medis primitif mengikuti dari dan membuat pengertian dalam syarat-syarat yang mendasari kepercayaan medis. River juga menyatakan keberadaan tiga pandangan dunia yang berbeda (gaib, religi, dan naturalistik) dan menghubungkan sistem-sistem kepercayaan, dan tiap-tiap pandangan memilki model perilaku medis yang sesuai.

Ackerkencht, seorang dokter dan ahli antropologi, mengungkapkan orientasi teoritisnya dalam bentuk lima generalisasi, yaitu: (1) studi signifikan dalam antropologi medis bukanlah sifat tunggal melainkan konfigurasi budaya secara keseluruhan dai masyarakat dan temapt dimana pola medis berada dalam totalitas tersebut, (2) ada begitu banyak pengobatan primitif, (3) bagian dari pola medis, seperti yang ada pada keseluruhan budaya, secara fungsional saling berkaitan, (4) pengobatan primitif paling baik dipahami dalam kaitan kepercayaan dan definisi budaya, dan (5) manifestasi pengobatan primitif yang bervariasi seluruhnya merupakan pengobatan gaib.

Ethnomedicine adalah pengobatan suatu penyakit yang dilakukan berdasarkan kepercayaan dan praktik yang merupakan hasil dari perkembangan kebudayaan asli/lokal dan yang eksplisit tidak berasal dari kerangka konseptual kedokteran. Ethnomedicine pada awalnya merupakan pengobatan pada sekelompok orang dan metodenya menggunakan kepercayaan pada sesuatu yang abnormal yang dapat disembuhkan dengan ritual, upacara, dan supranatural. Pada dasarnya, ethnomedicine tidak hanya menyembuhkan penyakit secara fisik, namun juga secara psikis, sosial, dan budaya meskipun cenderung tradisional. Penelitian ethnomedical interdisipliner, atau dalam studi tentang obat-obatan tradisional menerapkan metode etnobotani dan antropologi medis. Studi ethnomedical ilmiah merupakan salah satu penelitian antropologi atau penelitian penemuan obat. 

Salah satu contoh ethnomedicine adalah gurah. Gurah merupakan pengobatan tradisional yang pada umumnya dilakukan dengan meneteskan ramuan ke lubang hidung, dengan tujuan mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada di seluruh tubuh bersama dengan keluarnya lendir melalui lubang hidung. Cara tradisional ini merupakan tradisi pondok pesantren. Gurah merupakan cara pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Semula, gurah memang hanya dipakai oleh kalangan pondok pesantren, agar suara menjadi bening dan nyaring ketika membaca Al-Qur'an. Namun pada perkembangannya, saat ini, tak hanya para qori'/qori'ah saja yang menggunakan jasa para penggurah. Banyak penyanyi dangdut, pop dan rock mencoba membenahi ataupun mempertahankan kemerduan suaranya dengan cara gurah. Lalu, bagaimana khasiat gurah dalam mengatasi berbagai macam penyakit sebagai ethnomedicine di Imogiri Bantul?

Gurah Sebagai Etnomedicine
Gurah menggunakan tumbuhan sirgunggu yang ada di sekitar Giriloyo, dekat makam raja-raja Mataram. Mereka percaya, hanya sirgunggu dari sana saja yang berkhasiat. Padahal sebenarnya tanaman obat ini bisa tumbuh di mana saja, bahkan di seluruh Indonesia, sehingga dikenal dengan berbagai nama, antara lain kertase, pinggir tosek (Madura), simar baungkudu (Toba), tinjau handak (Lampung), segunggu (Sunda) dan sagunggu, sirgunggu (Jawa).

Tumbuhan sirgunggu berupa perdu yang tingginya 3 m. Daunnya bertangkai pendek, berbentuk bulat telur sampai memanjang, tebal dan kaku. Tepi daun beringgit. Bunganya berwarna putih-violet tersusun dalam malai. Buah yang berwarna hijau kehitaman berupa buah batu berbentuk bulat telur. Tumbuhan obat yang satu ini ternyata sudah banyak dimanfaatkan masyarakat sejak dulu. Akarnya diremas-remas halus dan ditelan untuk mendapatkan suara nan jernih. Seduhan akarnya merupakan obat asma, bronkhitis, atau sebagai peluruh air seni (kencing batu).

Daun sirgunggu bermanfaat untuk menyegarkan kondisi wanita yang sedang nifas. Sebagai obat luar, daun ditumbuk dengan adas pulosari untuk encok dan nyeri atau kelelahan pada sendi. Daun mudanya diremas-remas dan ditambah sedikit kapur menjadi obat gosok. Seduhan daun dengan garam serta temulawak dapat diminum untuk perut yang membusung dan sebagai obat cacing. Infus daun tumbuhan ini sudah diteliti secara in vitro mampu menghancurkan batu ginjal. Di lampung buah masak atau yang masih mentah dikunyah bersama sirih untuk obat batuk berat. Penelitian di National Cancer Institut, Washington menyatakan, ekstrak air tumbuhan ini aktif sebagai anti-HIV in vitro. Kandungan kimia tumbuhan sirgunggu pada bagian-bagian tubuhnya berbeda-beda. Daunnya mengandung unsur kalium, sedikit natrium, alkaloid, dan flavonoid flavon. Pada kulit akarnya terdapat glikosida fenol, manitol, dan sitosterol. Sementara kulit batangnya mengandung senyawa triterpen, asam ureanulat, asam kueretaruat, dan asam seratogenat.

Di daerah Imogiri, Bantul, Yogyakarta, sirgunggu digunakan untuk gurah, yaitu dengan cara kulit akar ditumbuk dan diseduh dengan air, kemudian diteteskan pada hidung guna mengobati berbagai penyakit yang berkaitan dengan lendir, seperti asma, batuk, atau untuk memperoleh suara yang jernih. Efeknya berupa pengeluaran lendir dari hidung dan mulut. Namun cara tradisional gurah tetes melalui hidung dirasa kurang efektif dan efisien karena pasien harus datang langsung ke tempat gurah atau memanggil ahlinya. Selain itu, prosesi gurah tetes memerlukan waktu antara 1-2 jam. Oleh karena itu, terdapat inovasi yang lebih efektif, yaitu dengan membuat ramuan gurah dalam berbagai bentuk, di antaranya kapsul dan teh.

Kapsul gurah Perusahaan Jamu Loka H. Djawadi dibuat dengan tumbuhan sirgunggu ditambah 11 macam racikan jamu Jawa dari tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat dan bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti asma, amandel, ambeien, asam urat, lumpuh, leukemia, lever, lemah syahwat, epilepsi, diabetes, jantung, kanker, tumor, paru-paru, bahkan penyakit berat lain yang sulit disembuhkan seperti: stress, gila, ginjal, dan AIDS. Kapsul gurah ini memiliki daya kerja yang beragam, di antaranya yaitu: (1) memberdayakan fungsi ginjal; (2) membantu pertumbuhan sel darah baru; (3) memanaskan sel-sel darah beku dan sel-sel darah yang dikirim ke otak; (4) mencuci dan menutup luka pada lambung, usus 12 jari, usus tua/muda; (5) relaksasi pembuluh darah Vena; (6) melarutkan lemak-lemak, asam urat pancreas maupun kolesterol dalam darah yang sudah tidak dipakai dan kotor; serta (7) meningkatkan daya konsentrasi, menjaga kehangatan suhu tubuh untuk mendapatkan stamina yang prima dan vitalitas yang stabil. Untuk penyembuhan, kapsul ini diminum 4 kali sehari masing-masing 2 kapsul sekali minum. Kapsul gurah ini dijual dengan harga Rp 80.000/botol yang berisi 40 kapsul.

Sedangkan teh gurah adalah paduan dari daun teh hitam kualitas tinggi dari pegunungan Kerinci dengan daun Sirgunggu (Clerodendron serratum) dari pegunungan Giriloyo, sehingga menghasilkan teh yang sangat istimewa untuk meningkatkan kekebalan tubuh (mempertahankan struktur sel yang sehat), meningkatkan pembentukan Glutathions, serta membuang kotoran dan toksin (racun) dalam tubuh, sehingga bisa mencegah timbulnya beberapa penyakit karena daun teh dan sirgunggu mengandung protein dan Vitamin C, juga berserat kasar, sehingga lebih banyak mengandung Vitamin A, serta mengandung mineral dan zat besi yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. 

Teh gurah mampu menyerap dan melarutkan endapan-endapan sisa makanan yang dikonsumsi antara lain: (1) endapan lemak tidak larut (asam keton); (2) protein tidak larut dari senyawa nitrogen (urea); (3) mineral tidak larut dari sulfa fosfat dan keratin; (4) mengangkat asam tidak larut seperti asam urat, asam hupurat dan asam histamine; (5) endapan tersebut jika tidak larut akan meracuni tubuh yang lemah kemudian menjadi penyakit. Teh gurah akan membersihkan dan membuangnya lewat keringat, buang air kecil dan besar; (6) Teh gurah selain sebagai pelepas dahaga juga berkhasiat untuk mencegah berbagai penyakit antara lain kanker, jantung, encok serta mencegah aksidasi dan menyegarkan kondisi wanita yang sedang nifas juga sebagai pelangsing tubuh bagi yang menderita obesitas (kegemukan). Teh gurah ini dibandrol seharga Rp 50.000/bungkus.

(Ditulis sebagai laporan hasil wawancara lapangan mata kuliah Analisis Budaya Dalam Masalah Kesehatan - Imogiri, Bantul, Yogyakarta)

DEFINISI DAN FUNGSI SOSIO-KULTURAL BUDAYA POP: SEBUAH SINTESA


Budaya Pop dan Kapitalisme
Pada dasarnya, budaya pop merupakan produk dari revolusi industri. Revolusi industri membentuk “sesuatu” menjadi tren/popular yang didukung oleh teknologi media massa. Media massa mengenalkan, menyebarkan, dan menggandakan, serta membuat “sesuatu” itu menjadi popular di kalangan masyarakat. Baudrillard menggambarkan situasi ini dengan istilah implosion di mana media massa menyatukan manusia dan membiarkannya meledak dalam batas-batas kultural, geografis, ideologi, bangsa, kelas, bahkan agama. Hal ini mengakibatkan kaburnya identitas nasional yang utuh, sehingga masyarakat yang terseret dalam ledakan itu seolah menjadi serpihan-serpihan kecil yang tidak dapat membedakan batas di mana sekarang dia berada dan di mana seharusnya dia berada. Pikiran masyarakat seperti di-handle oleh media, sehingga apa yang dipikirkan masyarakat mengenai lingkungannya tidak sepenuhnya fakta. Media mengkonstruk pikiran masyarakat dengan berbagai informasi dari sudut pandangnya dan sesuai kepentingannya sendiri. Televisi dan film pasti memiliki dampak/konsekuensi terhadap audiens. Untuk orang yang tidak memiliki kesempatan traveling, “pengetahuan” tentang luar negeri seringkali diperoleh dari tayangan di layar kaca tersebut, dan mereka cenderung mengekspresikan dirinya dengan apa yang ditontonnya.

Selain media, konsumsi merupakan hal yang sangat populer dan meledak dalam masyarakat. Media memegang peranan sentral dalam mengenalkan dan mempopulerkan barang-barang komoditi. Ini merupakan bagian dari kapitalisme konsumsi. Dalam hal ini terjadi homogenitas (penyeragaman) dalam pengkonsumsian barang komoditi, sehingga sebagian orang (Adorno dan para pengikutnya) menganggap bahwa budaya pop mematikan kreativitas masyarakat karena di sana-sini tampak hal yang serupa. Misalnya McDonald yang merupakan produk dari Amerika. Untuk menikmati makanan cepat saji ini, orang tidak perlu jauh-jauh datang ke Amerika, karena McDonald dapat ditemui di banyak tempat di seluruh dunia. Menjamurnya McDonald ini menunjukkan bahwa budaya pop tidak hanya berkembang pada aspek tingkah laku dan teknologi, namun juga merambah ke aspek lainnya, termasuk kuliner. Budaya pop yang lahir dari rahim kapitalis bertolak dari sektor ekonomi, di mana kaum kapitalis ingin meraup untung sebesar mungkin dalam setiap industri yang dikembangkannya. 

Ekonomi adalah sektor sentral dan vital dalam kehidupan manusia, sehingga apabila sektor ekonomi bergerak, maka semua sektor ikut bergerak ke arah pergerakan ekonomi itu. Hal ini seperti ketika lempeng bumi bergerak, maka daratan di atasnya juga ikut bergerak, salah satunya terbukti pada Pulau Sulawesi yang dahulunya tidak membentuk huruf “K”, karena pergerakan lempeng akhirnya menyatu dan membentuk huruf “K”. Begitu pula dengan ekonomi. Ekonomi menjadi faktor penyebab terjadinya perubahan budaya dalam masyarakat. Kembali pada homogenitas/penyeragaman yang dianggap sebagai “pembunuhan kreativitas”, jika dipikirkan lebih jauh dan mendalam, sebenarnya justru akan melahirkan kreativitas dalam masyarakat. Budaya pop dalam beberapa hal melahirkan homogenitas, namun budaya pop juga menciptakan heterogenitas, misalnya “budaya ngopi”. Kegandrungan masyarakat akan kopi pada akhirnya memicu orang-orang kreatif untuk mengkreasikan kopi dengan berbagai varian rasa, sehingga dapat dinikmati masyarakat. Budaya pop tidak mematikan kreativitas. Sebaliknya, budaya pop melahirkan kreasi, inovasi, dan modernisasi yang baru, yang dapat diarahkan untuk budaya kaum elite, umum/massa, maupun keduanya.

Budaya pop bertentangan dengan budaya kaum elite. Budaya pop menjadi budaya khalayak, umum, dan mungkin terlihat “kampungan dan norak”. Budaya pop merupakan budaya yang digemari mayoritas masyarakat dan sifatnya fleksibel. Berbeda dengan budaya kaum elite yang terkesan eksklusif dan hanya dikonsumsi oleh sedikit masyarakat. Budaya kaum elite bersifat kaku karena mengagungkan keeksklusifannya agar tidak terkesan “ecek-ecek”. Jika budaya pop dianggap “budaya kampung”, budaya kaum elite ini dianggap “budaya kota”. Contohnya dalam dunia musik. Musik dangdut yang saat ini di Indonesia sedang “naik daun”, untuk sebagian orang dianggap sebagai budaya pop yang “kampungan” dan bercita rasa rendah. Sedangkan musik jazz yang sedikit peminatnya dianggap sebagai budaya kaum elite nan eksklusif dengan cita rasa tinggi. Dengan kata lain, budaya pop adalah budaya rendahan (low culture) milik kaum pinggiran, sebaliknya budaya kaun elite adalah budaya tinggi (high culture) milik kaum borjuis.

Secara sederhana, budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan setinggi mungkin. Budaya massa adalah budaya populer yang diproduksi untuk pasar massal. Perkembangan budaya massa memberi artian bahwa segala budaya yang tidak menghasilkan uang akan semakin sempit ruangnya, seperti kesenian dan budaya rakyat. Budaya massa bersifat materialistik, yang akan mencekik budaya-budaya yang tidak menguntungkan secara materi dan tidak dapat diproduksi secara massal. Menurut MacDonald, sifat homogen budaya massa menjadi sebuah ancaman besar karena kapasitasnya dalam menurunkan atau merendahkan segala kebudayaan, dan menciptakannya kembali dengan pencitraannya sendiri. Kedudukan intelektual elite sebagai pengadil selera kultural dipandang menjadi ancaman bagi demokratisasi yang dimunculkan oleh budaya massa. Terkadang, budaya massa menolak untuk tetap berada di tempatnya dan melekat dengan massa, serta tidak mau mengakui hierarki selera kultural, walaupun datangnya dari kelas atas. Budaya massa cenderung mengancam kedudukan budaya tinggi dalam hierarki kultural dalam masyarakat.

Dominic Strinati mengemukakan bahwa ciri konsepsi budaya massa adalah merepresentasikan budaya yang turun nilainya, remeh, hanya di permukaan, artifisial dan baku, sebuah kebudayaan yang menyedot kekuatan budaya rakyat dan budaya tinggi, serta menantang penilaian intelektual selera kultural. Suatu posisi elite mengasumsikan bahwa budaya massa hanya bisa dipahami dari sudut yang menguntungkan yang diberikan oleh budaya tinggi dari prinsip-prinsip yang diturunkan dari estetika dan “selera” kaum elite kultural dan intelektual. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum dianggap mampu menilai berbagai budaya yang ada karena kesahihan dan otorisasinya yang tinggi.

Budaya massa yang lahir dari produksi dan konsumsi komoditi massal, membentuk kesimpulan bahwa Amerika adalah pusat budaya massa karena kaum kapitalis sangat erat kaitannya dengan proses produksi dalam industri. Apabila budaya massa yang identik dengan Amerika dianggap sebagai suatu ancaman, maka Amerikanisasi pun dianggap sebagai ancaman kultural. Produk-produk Amerika dapat ditemukan di berbagai tempat di seluruh belahan dunia ini, misalnya makanan cepat saji, pakaian, make up, aksesoris, film, hingga life style yang liberal. Di Indonesia saja, khususnya di daerah perkotaan, gaya hidup liberal Amerika sudah sangat kental hidup dan berbaur dengan budaya ketimuran. Seks bebas dianggap hal yang biasa dan wajar, terutama bagi kalangan generasi muda, baik secara terang-terangan maupun terselubung. Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa gaya hidup kalangan tertentu di Jakarta mengadopsi gaya hidup orang-orang Amerika. Namun ketika membaca buku “Jakarta Undercover”, orang akan tahu betapa mengerikannya kehidupan seks para eksekutif muda (eksmud), pejabat, bahkan sejumlah selebritis tanah air. Buku “Jakarta Undercover” merupakan kisah nyata yang didasarkan pada pengalaman pribadi penulis yang juga merupakan seorang wartawan. Buku itu berisi kumpulan cerita tentang kehidupan seks di Jakarta. Salah satunya adalah “pesta bugil” di mana para tamu undangan berada dalam satu ruangan tanpa sehelai benang pun, baik pria maupun wanita. Di sana mereka berpesta pora, di mana alkohol dan seks menjadi jamuan utama. Para pria diperbolehkan untuk meniduri wanita manapun yang diinginkannya di kamar yang sudah disediakan, karena para wanita di sana adalah wanita-wanita panggilan dari berbagai penjuru dunia. Sungguh suatu hal yang sangat bertentangan dengan budaya Timur.

Ironisnya, Amerikanisasi justru dianggap hal yang biasa bagi kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan terkadang, mereka tidak sadar bahwa budaya nasional sedikit demi sedikit tergeser oleh Amerikanisasi. Lihat saja, banyak orang memilih untuk melihat film Hollywood dibandingkan dengan film dalam negeri. Secara tidak sadar, masyarakat – khususnya daerah perkotaan – mengkonsumsi komoditi Amerika dalam kehidupan sehari-harinya. Kapasitas pemakaian internet, televisi, handphone, dan sarana komunikasi lainnya yang dilakukan secara simultan telah mendarah daging dan menjadi budaya yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan masyarakat. Melihat hal sedemikan itu, apakah kita masih bisa berkata bahwa bangsa Indonesia benar-benar merdeka? Mungkin kita memang telah bebas dari penjajahan secara fisik, namun kita tampaknya semakin terjajah dalam ideologi, kultural, bahkan intelektual. Ada beberapa masalah internal dalam masyarakat pada umumnya, di mana kerangka kerja intelektual telah banyak dimodifikasi dalam era pembangunan bangsa dan modernisasi. Dalam beberapa kasus, banyak aspek material dan isu-isu konseptual mengenai modernisasi, pembangunan bangsa, ekonomi, agama, peperangan, atau korupsi yang semuanya itu terjadi akibat ulah manusia.

Immanuel Wallerstein mengingatkan kita akan kalimat 'jika tidak ada imbalan pribadi'. Wallerstein menegaskan bahwa meskipun logika kapitalisme menuntut abstemious puritanisme, psiko-logika kapitalisme untuk tampilan kekayaan dan konsumsi mencolok. Sebagian besar keuntungan berasal dari ledakan ekonomi yang masuk ke konsumerisme berlebihan daripada investasi produktif. Apa yang datang dengan mudah, hilang dengan mudah. “Keasyikan” baru muncul saat kapitalis Indonesia tidak lagi berpikir bagaimana menjadi kaya dan mempertahankan kekayaan, tetapi bagaimana untuk memaksimalkan kenikmatan dan memperluas cakupan dari apa yang bisa dibeli dengan uang. Di antara beberapa eksekutif muda juga melakukan konsumsi yang melampaui logika utilitas atau ekonomi. Pembentukan identitas kelas menengah baru dan pembentukan paralel dari hegemoni kapitalis di Indonesia kontemporer beroperasi di beberapa bidang. Pertama, melalui debat intelektual di mana ada advokasi yang cukup terbuka liberalisme, pro–pasar sentimen dan milik pribadi. Kedua, negara memberlakukan serangkaian langkah-langkah ekonomi untuk memperbaiki keluhan atas ketidakseimbangan ekonomi mengkhawatirkan dalam bantuan keuangan, pinjaman dan kemitraan perusahaan. Ketiga, dan yang lebih anehnya, adalah baru-baru ini populer dan telah menjadi tren yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana tokoh-tokoh bisnis terkemuka membaca puisi dan bernyanyi lagu-lagu populer yang khusus dipersiapkan untuk kinerja dalam pertemuan publik yang serius.

Konsumsi selalu membuat pernyataan sosial, kadang-kadang lebih dan terkadang kurang dari sekedar menunjukkan daya beli konsumen dan selera pribadi. Selain itu, pesan-pesan yang berasal dari praktik konsumsi mungkin belum dimaksudkan oleh konsumen individu. Pesan ini menjadi lebih penting dan kompleks di daerah perkotaan kontemporer, di mana konsumsi semakin berubah menjadi 'konsumerisme' (tindakan signifikan bergaya konsumsi), sebagai bagian dari gaya hidup. Batas yang memisahkan konsumsi dari konsumerisme sering kabur.

Sejak zaman kolonial, Barat telah menjadi model yang menarik untuk lifestyling dan keinginan konsumen di Asia Barat, dan terus menarik orang Asia pada taraf kemakmuran, sehingga konsumerisme dan Westernisasi sudah sering dianggap satu dan menjadi hal yang sama. Restoran cepat saji yang menjadi target ekspor budaya Amerika kini bisa berubah menjadi sesuatu yang menarik, seperti yang terjadi di Singapura. Salah satu iklan di Singapura dimulai dengan judul The Sounds of Singapore, dan dari pertama adegan seseorang melihat bahwa itu dirancang untuk membangkitkan sentimen nasionalistis, di mana anak sekolah yang berada di luar ruangan dengan bendera dikibarkan di bawah langit biru tropis. Mereka menyanyikan kesetiaan mereka kepada Singapura: "Ketika matahari bersinar atas tanah kami", dan itu menunjukkan bahwa Amerikanisasi dapat diubah menjadi nasionalisme.

Fungsi Sosio-Kultural Budaya Pop 
Budaya pop yang digandrungi masyarakat dan menjadi sebuah trend tidak melulu menimbulkan efek negatif semata. Tidak ada suatu hal pun di dunia ini yang tercipta tanpa memiliki fungsi, begitu pula dengan budaya pop. Budaya pop dengan “soft power”-nya mampu memberdayakan jagad kreativitas, kultural, dan intelektual. Seperti yang tertulis di atas bahwa homogenitas yang timbul akibat adanya budaya pop pada akhirnya akan menjadi surga bagi para kreator. Sebagian besar dari mereka mengilhami budaya pop untuk menjadi sebuah maha karya yang kreatif dan inovatif. Pemberdayaan budaya pop yang semula menjadi konsumsi massa, di tangan para kreator dapat disulap menjadi suguhan eksklusif bagi kalangan elite. 

Dalam industri tekstil, misalnya, batik yang merupakan corak khas Indonesia dan menjadi populer sejak Malaysia mengklaim bahwa batik adalah milik Malaysia, dipakai oleh berbagai kalangan di Indonesia, mulai dari level rendah, menengah, hingga level atas. Batik yang dahulunya mungkin terkesan eksklusif karena hanya segelintir orang yang mengenakannya, sekarang sudah menjadi trend bagi masyarakat Indonesia, bahkan telah meluncur ke negara-negara lain. Batik memang menjadi budaya massa saat ini, namun para pemikir yang kreatif mencari cara bagaimana “batik massa” berbeda dengan “batik eksklusif” untuk membedakan strata sosial. Danar Hadi dan Batik Keris merupakan contoh brand “batik eksklusif”, yang harganya tidak bisa dijangkau oleh lower class. Bahan, corak, dan desain yang khas dari kedua brand tersebut sengaja diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas. Sedangkan untuk kalangan bawah hanya mampu menjangkau pasar-pasar tradisional atau di pusat grosir agar mendapatkan harga yang sudah pasti jauh berbeda. Begitulah budaya pop bekerja, ia bagaikan suatu sistem holistik yang saling berkaitan namun tetap mengenal strata sosial. Orang berkata bahwa budaya pop berbeda dengan budaya eksklusif, namun mereka tidak menyadari satu hal, yaitu bahwa budaya eksklusif yang mereka agung-agungkan sesungguhnya populer di kalangan mereka sendiri. 

Bukan hanya bidang ekonomi, sosial, dan budaya semata, bahkan budaya pop membidik dunia pendidikan menjadi “intelektual populer”. Misalnya saja program beasiswa, tanpa disadari kaum intelektual telah menyeret dunia pendidikan dalam pusaran budaya pop. Lihat saja, pertumbuhan penawaran beasiswa yang semakin mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik itu beasiswa dalam negeri maupun luar negeri. Banyak universitas bahkan perusahaan asing yang menawarkan beasiswa bagi kaum intelektual Indonesia. Program ini baik disadari ataupun tidak akan membawa budaya asing masuk ke dalam budaya lokal. Para intelektual yang belajar di luar negeri, apabila kembali ke dalam negeri akan membawa pengaruh budaya asing. Misalkan mereka belajar di Jepang, ketika kembali ke Indonesia, maka pemikiran dan budaya Jepang tersebut akan dibawa ke Indonesia. Dengan kata lain, program beasiswa yang diberdayakan pemerintah dalam negeri dan luar negeri dapat dijadikan alat propaganda yang sangat “soft” dan “unconscious” bagi para audiens/konsumennya.