Sabtu, 09 Juli 2016

HIPNOTERAPI: ANTARA PENYEMBUHAN FISIK DAN MENTAL

Pendahuluan
Antropologi kesehatan tidak boleh dipandang sebagai penggabungan dari dua disiplin yang longgar, biologi dan sosial-budaya, karena seringkali masalah-masalah yang dihadapi kedua disiplin ilmu tersebut saling membutuhkan data maupun teori-teori dari kedua bidang yang bersangkutan (Foster & Anderson, 2009: 2). Penyakit mental, misalnya, tidak semata-mata dapat dipelajari dalam kerangka faktor fisiologis atau biokimia belaka, atau pun faktor sosio-budaya yang mengarah pada kondisi psikologis seperti: stress. Penyakit mental dapat dipelajari dalam gabungan kacamata kedua disiplin, yang salah satunya adalah menggunakan hipnoterapi untuk memperoleh pemahaman lebih mendalam dari faktor-faktor yang berpengaruh.

Hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan pada subjek dalam kondisi hipnosis. Hipnosis adalah suatu keadaan fokus, tenang, dan rileks, sehingga dapat mencerna informasi atau sugesti yang masuk ke dalam pikiran (Sugara, 2013: 1). Kata hipnosis diambil dari nama dewa Yunani yang bernama “hypnoze” (tidur) dan pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter yang bernama James Braid pada abad ke-19. Awalnya, hipnosis banyak digunakan di dunia kedokteran, terutama untuk mengurangi rasa sakit saat melakukan operasi. Sebelum ditemukannya obat bius, para dokter melakukan operasi dengan memanfaatkan kondisi hipnosis. 

Hipnoterapi sering digunakan untuk memodifikasi perilaku subjek, isi perasaan, sikap, juga keadaan seperti kebiasaan disfungsional, kecemasan, sakit sehubungan stress, manajemen rasa sakit, dan perkembangan pribadi. Dengan kata lain, hipnoterapi merupakan aplikasi hipnosis yang digunakan untuk terapi, dan membantu orang yang mengalami psikosomatis atau mental block. Hipnoterapi memiliki penggunaan yang begitu luas, karena dapat menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan emosi dan perilaku. Lantas, bagaimana peran hipnoterapi dalam penyembuhan penyakit fisik dan mental seseorang?

Sekilas Tentang Hipnosis dan Hipnoterapi
Hipnosis didefinisikan sebagai suatu kondisi pikiran dimana fungsi analitis logis pikiran direduksi sehingga memungkinkan individu masuk ke dalam kondisi bawah sadar (sub-conscious/unconcious), di mana tersimpan beragam potensi internal yang dapat dimanfaatkan untuk lebih meningkatkan kualitas hidup. Individu yang berada pada kondisi “hypnotic trance” lebih terbuka terhadap sugesti dan dapat dinetralkan dari berbagai rasa takut berlebih (phobia), trauma ataupun rasa sakit. Individu yang mengalami hipnosis masih dapat menyadari apa yang terjadi di sekitarnya berikut dengan berbagai stimulus yang diberikan oleh terapis.

Kasus pencabutan gigi pertama menggunakan hipnosis dilakukan pertama kali pada tahun 1823. Diikuti dengan proses melahirkan menggunakan hipnosis pada tahun 1826. Selama Perang Dunia I dan Perang Dunia II, hipnoterapi digunakan untuk memberikan perlakuan pada para prajurit yang mengalami trauma. Pada tahun 1955, British Medical Association menyatakan bahwa hipnosis layak digunakan untuk mengobati histeria dan digunakan sebagai anastesi. Tahun 1958, American Medical Association membuat pernyataan yang sama sekaligus mengkritik keras hipnosis yang ditujukan sebagai hiburan/pertunjukan (stage performance). Tahun 1960, American Psychology Association membentuk dewan penilai kelayakan seorang hipnotis. Kini, beberapa Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Gigi telah memberikan mata kuliah hipnosis. Adapun universitas yang memiliki jurusan khusus hipnosis adalah Universitas Pepperdine di California.

Terapi hipnosis (hypnotherapy) kini merupakan fenomena ilmiah. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa hipnoterapi menstimulir otak untuk melepaskan neurotransmiter, zat kimia yang terdapat di otak, encephalin dan endhorphin yang berfungsi untuk meningkatkan mood sehingga dapat mengubah penerimaan individu terhadap sakit atau gejala fisik lainnya. Sementara menurut Profesor John Gruzelier, seorang pakar psikologi di Caring Cross Medical School, London, guna menginduksi otak dilakukan dengan memprovokasi otak kiri untuk nonaktif dan memberikan kesempatan kepada otak kanan untuk mengambil kontrol atas otak secara keseluruhan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat otak fokus pada suatu hal secara monoton menggunakan suara dengan intonasi datar, seolah-olah tidak ada hal penting yang perlu diperhatikan.

Secara umum, mekanisme kerja hipnoterapi sangat terkait dengan aktivitas otak manusia. Aktivitas ini sangat beragam pada setiap kondisi yang diindikasikan melalui gelombang otak yang dapat diukur menggunakan alat bantu EEG (Electroenchepalograph). Berikut diuraikan berbagai gelombang otak disertai dengan aktivitas yang terkait:
  • Beta (14 - 25 Hz)(normal): Atensi, kewaspadaan, kesigapan, pemahaman, kondisi yang lebih tinggi diasosiasikan dengan kecemasan, ketidaknyamanan, kondisi lawan/lari. 
  • Alpha (8 – 13 Hz)(meditatif): Relaksasi, pembelajaran super, fokus relaks, kondisi trance ringan, peningkatan produksi serotonin, kondisi pra-tidur, meditasi, awal mengakses pikiran bawah sadar (unconscious).
  • Theta (4 – 7 Hz)(meditatif): Tidur bermimpi (tidur REM/Rapid Eye Movement), peningkatan produksi catecholamines (sangat vital untuk pembelajaran dan ingatan), peningkatan kreativitas, pengalaman emosional, berpotensi terjadinya perubahan sikap, peningkatan pengingatan materi yang dipelajari, hypnogogic imagery, meditasi mendalam, lebih dalam mengakses pikiran bawah sadar (unconscious).
  • Delta (0,5 – 3 Hz)(tidur dalam): Tidur tanpa mimpi, pelepasan hormon pertumbuhan, kondisi non fisik, hilang kesadaran pada sensasi fisik, akses ke pikiran bawah sadar (unconscious) dan memberikan sensasi yang sangat mendalam ketika diinduksi dengan Holosinc.

Hipnoterapi : Antara Penyembuhan Fisik dan Mental
Hipnosis secara perlahan telah menunjukkan keberadaannya seiring dengan semakin meningkatnya penerimaan dalam dunia medis. Hipnosis banyak digunakan di berbagai bidang, seperti: bidang pengobatan dan olahraga untuk mengubah mekanisme otak manusia dalam menginterprestasikan pengalaman dan menghasilkan perubahan pada persepsi dan tingkah laku, bidang pendidikan (hypnolearning), bidang forensik (hypnoforensic), terapi penyembuhan mental (clinical hypnotherapy), bidang pemasaran/bisnis (hypnomarketing), dan hiburan (stage hypnosis). Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa aplikasi hipnosis untuk tujuan perbaikan (therapeutic) dikenal sebagai hipnoterapi.

Untuk melakukan hipnoterapi, ada tindakan yang dikenal dengan istilah induksi atau menginduksi. Kecakapan menginduksi berbanding lurus dengan subjek hipnosis menerima sugesti. Karena semua hipnosis adalah self-hypnosis, jika subjek hipnosis tidak bersedia dihipnosis, maka ia akan sulit dihipnosis. Dalam bidang hipnoterapi, subjek hipnosis ini disebut klien. Untuk memudahkan melakukan hipnosis, hipnoterapis perlu mengetahui perihal tingkat sugestibilitas klien. Sugestibilitas adalah kepribadian hipnotik seseorang yang ditentukan atau dipengaruhi oleh semua pengondisian dan pengalaman hidup, terutama pada usia 6 hingga 8 tahun. Berdasarkan Stanford Hypnotic Susceptibility Scale (SHSS), secara umum manusia terbagi dalam tiga kelompok sugestibilitas: yang sangat mudah dihipnotis sebesar 10% dari populasi, yang moderat 85% (sugestibilitas normal), dan yang sulit 5% (sulit dihipnosis) (Gunawan dalam Karyadi, 2013: 12).

Di ruang terapi, seorang hipnoterapis tidak begitu mempermasalahkan perihal tingkat sugestibilitas klien karena ada tahapan-tahapan yang harus diterima dan diikuti oleh klien dalam proses terapi, mulai dari tahapan interview, qualifying, induksi, hingga proses restructuring. Jika tahap awal diterima secara sadar oleh klien dengan sungguh-sungguh tanpa ada penolakan, maka tingkat sugestibilitas klien tidak begitu menjadi masalah. Kesiapan mental klien secara sadar untuk menerima sugesti digunakan sebagai acuan untuk memudahkan memberi sugesti oleh hipnoterapis kepada klien. Setiap proses melakukan tindakan hipnoterapi terlebih dahulu dilakukan kontrak hipnosis.

Hal menarik dalam masa rentang pertumbuhan dan perkembangan kehidupan seseorang (usia 3 bulan dalam kandungan hingga usia 8 tahun) terjadi ketika ada masa di mana seseorang mengalami suatu kejadian atau peristiwa yang cenderung traumatik. Meskipun peristiwa itu hanya sederhana, tetapi saat peristiwa tersebut memunculkan emosi negatif sangat intens, yang meninggalkan rekaman kesan emosi negatif yang sangat kuat pada pikiran bawah sadar seseorang, maka dapat menimbulkan berbagai masalah dan perilaku negatif seseorang di masa depannya. Hal yang mungkin terjadi adalah kesan traumatis atau hanya sekedar phobia (ketakutan tidak beralasan), atau bahkan bisa menjadi penyebab seseorang mengalami penyakit fisik tertentu.

Bhante Karyadi, seorang ulama Buddhis yang terbuka, melalui buku “Sembuh dengan Hipnoterapi” (2013) mengemukakan pengalamannya saat melakukan hipnoterapi kepada klien-kliennya. Karyadi (2013: 13 – 14) pernah menangani klien yang mengidap penyakit kanker rahim atau kista. Karyadi menemukan sumber masalah ketika klien berusia 5 tahun ketika me-release emosi negatif klien. Ketakutan adalah emosi negatif yang terungkap, paling dominan dirasakan oleh klien. Selanjutnya, Karyadi melakukan regresi ketika klien berusia 5 tahun, saat masih di kampung halamannya di Pulau Sumatra. Saat umur 5 tahun, klien pernah membeli permen di sebuah kedai di seberang jalan rumahnya. Sekembalinya membeli permen, saat sudah hampir mencapai pintu pagar rumahnya, klien hampir terserempet mobil angkutan kota yang melaju kencang. Kejadian itu terlihat langsung oleh ayahnya. Setelah masuk rumah, ayahnya malah memarahinya, “Tidak hati-hati…. Ceroboh… Sembarangan…!!!” Makian lain yang terucap dari mulut ayahnya juga masih membekas, sehingga klien semakin takut hingga tubuhnya menggigil. Melihat anaknya masih terlihat ketakutan, sang ayah masih saja memasang ekspresi marah dan tidak mendinginkan suasana hati klien. Saat itu, ibu klien sedang berbelanja ke pasar, sehingga tidak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Sekembalinya dari pasar, sang ibu melihat klien dengan mata sembap dan masih terisak. Ibunya sempat menanyakan alasan kenapa klien menangis, namun klien tidak berani menjawab sama sekali. Kemudian sang ibu menanyakan hal itu kepada suaminya, dan suaminya menceritakan kejadian sebenarnya. Akhirnya, sang ibu memeluk dan menggendong klien untuk menenangkannya. Klien baru merasakan kenyamanan saat dalam pelukan ibunya.

Peristiwa yang sudah terlupakan selama 38 tahun silam itu ternyata masih melekat di pikiran bawah sadar klien. Suatu ketika, klien sering terlambat datang bulan. Pola menstruasinya tidak teratur. Rasa perih pada bagian perut selalu dirasakan klien saat datang bulan. Akhirnya, klien memeriksakan keluhannya yang sering terlambat datang bulan sejak 4,5 tahun terakhir kepada dokter. Dari hasil pemeriksaan medis, klien didiagnosa penyakit yang cukup serius, yaitu kista/kanker rahim. Kanker rahim, yang notabene merupakan penyakit fisik, bukan hanya disebabkan oleh faktor fisik. Sumber penyakit yang mengondisikan klien adalah faktor emosi negatif, terutama rasa takut dan cemas yang masih terekam kuat di pikiran bawah sadar klien. Meskipun peristiwa sederhana terjadi di masa kecilnya, ketika klien beranjak dewasa, bahkan setelah melahirkan dan anak-anaknya bertumbuh dewasa, penyakit kistanya baru muncul setelah tersugesti oleh ucapan seseorang yang dipandang klien sebagai figur otoritas karena faktor profesi di bidang medis mengacu dari hasil diagnosa yang dilakukannya. Klien menganggap apa yang disampaikan figur otoritas ini sebagai kebenaran, sehingga klien menerima secara utuh apa yang diucapkannya. Setelah melalui proses hipnoterapi, diketahuilah sebab awal masalah klien yang bersumber dari peristiwa sederhana di masa kecilnya. Proses hipnoterapi hanya dilakukan selama 3 – 4 jam, dan dalam kurun waktu 4 bulan kemudian kista bersih dari rahimnya. Klien terhindar dari operasi pengangkatan rahim yang pernah disarankan oleh pihak medis.

Hipnoterapi, salah satunya berfungsi untuk menyembuhkan penyakit fisik, seperti: kanker dan serangan jantung. Emosi negatif akibat dari satu pengalaman traumatis masa lalu bisa menjadi pemicu munculnya penyakit fisik. Keadaan ini sering disebut psikosomatik, yaitu penyakit fisik yang berkaitan dengan masalah emosi negatif. Proses kesembuhan psikosomatik melalui hipnoterapi membuktikan kebenaran bahwa hipnoterapi berperan aktif mengatasi masalah kesehatan fisik dan mental. Hipnoterapi mempercepat pemulihan kondisi seorang penderita. Hal ini sangat dimungkinkan karena hipnoterapi diarahkan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memprogram ulang penyikapan individu terhadap penyakit yang dideritanya. 

Hipnoterapi sangat berguna dalam mengatasi beragam kasus berkenaan dengan penyakit mental: kecemasan, ketegangan, depresi, phobia dan dapat membantu untuk menghilangkan kebiasaan buruk, seperti ketergantungan pada rokok, alkohol, dan obat-obatan. Dengan memberi sugesti, seseorang terapis dapat membangun berbagai kondisi emosional positif berkenaan dengan menjadi seorang bukan perokok dan penolakan terhadap rasa ataupun aroma rokok. Khusus untuk phobia, hipnoterapi digunakan untuk mereduksi kecemasan yang mengambil alih kontrol individu atas dirinya. Hal ini dapat diwujudkan dengan menciptakan suatu gambaran nyata tentang kondisi yang menyebabkan phobia namun individu tetap dalam kondisi relax, sehingga membantu mereka untuk menyesuaikan ulang reaksi mereka pada kondisi yang menyebabkan phobia menjadi normal dan respon yang lebih tenang.

Hipnoterapi dapat digunakan untuk membawa orang mundur ke masa lampau atau regresi kehidupan masa lalu untuk mengobati trauma dengan memberikan kesempatan untuk mengubah “fokus” perhatian. Hipnoterapi juga dapat digunakan untuk meningkatkan optimalitas pembelajaran. Berkaitan dengan pembelajaran, hipnoterapi dapat aplikasikan untuk meningkatkan daya ingat, kreativitas, fokus, merubuhkan tembok batasan mental (self limiting mental block) dan lainnya.

Dengan menggunakan bantuan hipnosis, seorang hipnoterapis dapat dengan mudah masuk ke pikiran bawah sadar klien dan melakukan otak-atik “program”. Akibatnya bisa positif, bisa pula negatif. Modifikasi atau rekonstruksi “program” pikiran ini selanjutnya akan mempengaruhi perilaku seseorang dan sebagai hasil akhir sudah tentu hidup orang juga akan berubah. Hipnoterapi di tangan praktisi yang cakap, kompeten, penuh integritas, dan bertanggung jawab telah terbukti secara klinis dan empiris efektif dan efisien dalam meningkatkan dan memberdayakan potensi diri untuk keluar dari jerat masalah yang mendera hidup, yang disebabkan oleh faktor mental dan emosi (Gunawan dalam Karyadi, 2013). Dengan menggunakan mind technology, hipnoterapis dapat memanfaatkan trance logic dan berbagai teknik terapi untuk melakukan rekayasa ulang, modifikasi, dan rekonstruksi memori dan menetralkan muatan emosi negatif yang melekat pada memori untuk membentu menyembuhkan berbagai luka batin akibat pengalaman traumatis, yang parahnya bisa menimbulkan penyakit fisik pada seseorang.

Luka batin (psychological shock) yang dialami seseorang mempengaruhi kondisi pikiran dan perasaannya, yang termanifestasi dalam berbagai bentuk pola perilaku destruktif yang tampak seolah-olah wajar. Masalah yang cukup pelik ini sulit diatasi dengan cara atau metode biasa. Dengan bantuan hipnoterapi klinis, dapat diselesaikan dengan sangat cepat pada level yang paling dalam, yaitu di level pikiran bawah sadar. Hipnoterapi selain cepat menyembuhkan luka batin/penyakit mental, juga bisa digunakan untuk mengsugesti penderita penyakit fisik. Karena pada dasarnya, penyakit fisik tidak hanya disebabkan oleh faktor fisiologis dan biokimia, namun juga faktor psiko-sosial-budaya. Seringkali, penyakit fisik berhubungan dengan mental dan emosi yang cenderung negatif, sehingga menimbulkan kondisi traumatik yang – apabila berlanjut – berdampak pada penyakit fisik.

Uraian mengenai hipnoterapi di atas sepadan dengan pandangan di sebuah desa Mestizo bernama Tzintzuntzan di Meksiko di mana kesehatan didefinisikan dalam rangka keseimbangan antara kekuatan-kekuatan “panas” dengan “dingin” yang terdapat dalam tubuh manusia dan dalam alam sekitar. Pandangan tersebut ternyata hanya merupakan pernyataan khusus dari suatu pandangan hidup yang lebih luas, yakni bahwa masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memiliki berbagai keseimbangan, baik itu ekonomi, keadilan, kekuasaan, dan sebagainya. Dalam pandangan yang lebih mikro, keseimbangan yang dimaksud adalah keseimbangan jasmani-rohani/keseimbangan jiwa-raga/keseimbangan fisik-mental individu.

Lain halnya dengan pengobatan tradisional Cina. Dalam pengobatan tradisional Cina, dapat dilihat bagaimana pandangan hidup mempengaruhi ide dan praktik kedokteran: penyakit dianggap sebagai akibat dari disharmoni atau “kekurangan terjadinya pasang dan surut” antara kekuatan yin dan yang (Foster & Anderson, 2009: 49). Manusia dianggap sebagai mikrokosmos dari jagat raya yang terdiri dari lima unsur: kayu, api, tanah, logam, dan air, yang sebaliknya mempengaruhi lima bagian tubuh: panca indera, panca warna, dan panca rasa. Pandangan yang demikian tidak mendorong suatu studi anatomi. Kedokteran Cina ditandai oleh pikiran-pikiran yang kabur mengenai anatomi manusia. Berbeda dengan hipnoterapi yang “memprogram ulang” pikiran bawah sadar, terapi pengobatan Cina ditujukan terhadap pemulihan elemen yang yang hilang dengan pemberian bagian organ hewan yang diduga memiliki kadar tinggi dari material tersebut.

Seringkali, orang menganggap hipnoterapi merupakan praktik kekuatan supranatural. Pandangan ini muncul karena tidak banyak orang yang tahu-menahu terhadap ilmu hipnosis. Dalam kondisi hipnosis, orang sebenarnya memiliki kesadaran terhadap apa yang terjadi, hanya saja lebih reseptif dalam menerima sugesti dan informasi. Tidak ada kaitannya dengan dunia gaib, karena memang hipnosis merupakan kondisi umum yang pasti dialami oleh setiap orang. Pada dasarnya, hipnoterapi harus berdasarkan persetujuan dari klien. Jika klien tidak mau atau menolak memasuki kondisi hipnosis, maka klien secara penuh dapat mengendalikan dirinya. Hipnoterapi tidak membuat seseorang lupa dengan apa yang terjadi pada dirinya. Bahkan sebaliknya, orang menyadari secara penuh mengenai memori kehidupannya. Dengan mudah, hipnoterapi mampu mengubah cara berpikir (mindset) seseorang untuk hal-hal yang positif. Jika klien memiliki persepsi bahwa suatu pengalaman tertentu membuat hidupnya menderita, maka pikiran bawah sadar akan menilainya sebagai sebuah ancaman dan membuat pemiliknya menghindari situasi tersebut. Namun jika klien mampu menilai semua kejadian dengan perasaan positif untuk kemajuan dan perkembangan dirinya walaupun kejadian itu menyakitkan, maka pikiran bawah sadar akan mengarahkan hidupnya semakin positif dan bahagia. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sesungguhnya kesehatan fisik berkaitan dengan kesehatan mental masing-masing orang, di mana seseorang yang memiliki kecenderungan penyakut mental, maka bisa jadi akan berdampak pada kondisi kesehatan fisiknya sendiri.

Penutup
Hipnoterapi adalah salah satu cara yang sangat efektif untuk bisa menjangkau pikiran bawah sadar dengan cepat dan mudah. Perubahan perilaku selama ini cukup sulit dilakukan karena pada umumnya orang tidak mengerti cara masuk ke pikiran bawah sadar yang menyimpan berbagai “program” yang mengendalikan dirinya. Ada lima cara untuk masuk ke pikiran bawah sadar: (1) Repetisi; (2) Identifikasi kelompok atau keluarga; (3) Informasi yang disampaikan oleh figur yang dipandang mempunyai otoritas; (4) Emosi yang intens; dan (5) Kondisi alfa atau hipnosis.

Filter mental (pikiran sadar) baru mulai terbentuk saat anak berusia 3 tahun. Filter ini akan semakin menebal pada usia 8 tahun dan akan sangat tebal pada usia 13 tahun. Walaupun pikiran sadar ini semakin kuat kerjanya pada usia 13 tahun, dari penelitian yang lain didapatkan satu penemuan menarik, yaitu anak mulai usia 0 – 13 tahun masih sangat banyak yang beroperasi pada gelombang otak theta (4 – 8 Hz). Ini adalah gelombang pikiran bawah sadar. 

Seorang klien akan melakukan perintah yang disugestikan oleh hipnoterapis bergantung pada dua hal. Pertama, kecakapan hipnoterapis dalam meyakinkan pikiran bawah sadar klien bahwa si klien harus melakukan yang diminta oleh si hipnoterapis. Kedua, apabila ternyata nilai-nilai yang dipegang oleh klien mengijinkan untuk melakukan perintah yang diminta oleh hipnoterapis. Hipnoterapi bisa mempercepat pemulihan kondisi seorang penderita penyakit fisik. Hal ini sangat dimungkinkan karena hipnoterapi diarahkan untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memprogram ulang penyikapan individu terhadap penyakit yang dideritanya.

Referensi
Foster, Anderson. 2009. Antropologi Kesehatan. Jakarta: UI-Press.

Karyadi. 2013. Sembuh dengan Hipnoterapi. Jakarta: Gramedia.

Putra, Derichard H. 2012. "Antropologi Kesehatan: Sebuah Definisi", (Online) (http://kalamenau.blogspot.com/2011/05/antropologi-kesehatan-sebuah-definisi.html, diakses tanggal 11 November 2013).

Sugara, Gian Sugiana. 2013. Terapi Self-Hypnosis: Seni Memprogram Ulang Pikiran Bawah Sadar. Jakarta: Indeks.

Jumat, 29 April 2016

KHASIAT GURAH SEBAGAI ETHNOMEDICINE

Sekilas Tentang Ethnomedicine
Pada tahun 1924, W.H. R. River, seorang dokter, menyebutkan bahwa kepercayaan medis dan praktiknya tidak dapat dipisahkan dari aspek budaya dan organisasi sosial yang lain. River menyatakan praktek medis primitif mengikuti dari dan membuat pengertian dalam syarat-syarat yang mendasari kepercayaan medis. River juga menyatakan keberadaan tiga pandangan dunia yang berbeda (gaib, religi, dan naturalistik) dan menghubungkan sistem-sistem kepercayaan, dan tiap-tiap pandangan memilki model perilaku medis yang sesuai.

Ackerkencht, seorang dokter dan ahli antropologi, mengungkapkan orientasi teoritisnya dalam bentuk lima generalisasi, yaitu: (1) studi signifikan dalam antropologi medis bukanlah sifat tunggal melainkan konfigurasi budaya secara keseluruhan dai masyarakat dan temapt dimana pola medis berada dalam totalitas tersebut, (2) ada begitu banyak pengobatan primitif, (3) bagian dari pola medis, seperti yang ada pada keseluruhan budaya, secara fungsional saling berkaitan, (4) pengobatan primitif paling baik dipahami dalam kaitan kepercayaan dan definisi budaya, dan (5) manifestasi pengobatan primitif yang bervariasi seluruhnya merupakan pengobatan gaib.

Ethnomedicine adalah pengobatan suatu penyakit yang dilakukan berdasarkan kepercayaan dan praktik yang merupakan hasil dari perkembangan kebudayaan asli/lokal dan yang eksplisit tidak berasal dari kerangka konseptual kedokteran. Ethnomedicine pada awalnya merupakan pengobatan pada sekelompok orang dan metodenya menggunakan kepercayaan pada sesuatu yang abnormal yang dapat disembuhkan dengan ritual, upacara, dan supranatural. Pada dasarnya, ethnomedicine tidak hanya menyembuhkan penyakit secara fisik, namun juga secara psikis, sosial, dan budaya meskipun cenderung tradisional. Penelitian ethnomedical interdisipliner, atau dalam studi tentang obat-obatan tradisional menerapkan metode etnobotani dan antropologi medis. Studi ethnomedical ilmiah merupakan salah satu penelitian antropologi atau penelitian penemuan obat. 

Salah satu contoh ethnomedicine adalah gurah. Gurah merupakan pengobatan tradisional yang pada umumnya dilakukan dengan meneteskan ramuan ke lubang hidung, dengan tujuan mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada di seluruh tubuh bersama dengan keluarnya lendir melalui lubang hidung. Cara tradisional ini merupakan tradisi pondok pesantren. Gurah merupakan cara pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Semula, gurah memang hanya dipakai oleh kalangan pondok pesantren, agar suara menjadi bening dan nyaring ketika membaca Al-Qur'an. Namun pada perkembangannya, saat ini, tak hanya para qori'/qori'ah saja yang menggunakan jasa para penggurah. Banyak penyanyi dangdut, pop dan rock mencoba membenahi ataupun mempertahankan kemerduan suaranya dengan cara gurah. Lalu, bagaimana khasiat gurah dalam mengatasi berbagai macam penyakit sebagai ethnomedicine di Imogiri Bantul?

Gurah Sebagai Etnomedicine
Gurah menggunakan tumbuhan sirgunggu yang ada di sekitar Giriloyo, dekat makam raja-raja Mataram. Mereka percaya, hanya sirgunggu dari sana saja yang berkhasiat. Padahal sebenarnya tanaman obat ini bisa tumbuh di mana saja, bahkan di seluruh Indonesia, sehingga dikenal dengan berbagai nama, antara lain kertase, pinggir tosek (Madura), simar baungkudu (Toba), tinjau handak (Lampung), segunggu (Sunda) dan sagunggu, sirgunggu (Jawa).

Tumbuhan sirgunggu berupa perdu yang tingginya 3 m. Daunnya bertangkai pendek, berbentuk bulat telur sampai memanjang, tebal dan kaku. Tepi daun beringgit. Bunganya berwarna putih-violet tersusun dalam malai. Buah yang berwarna hijau kehitaman berupa buah batu berbentuk bulat telur. Tumbuhan obat yang satu ini ternyata sudah banyak dimanfaatkan masyarakat sejak dulu. Akarnya diremas-remas halus dan ditelan untuk mendapatkan suara nan jernih. Seduhan akarnya merupakan obat asma, bronkhitis, atau sebagai peluruh air seni (kencing batu).

Daun sirgunggu bermanfaat untuk menyegarkan kondisi wanita yang sedang nifas. Sebagai obat luar, daun ditumbuk dengan adas pulosari untuk encok dan nyeri atau kelelahan pada sendi. Daun mudanya diremas-remas dan ditambah sedikit kapur menjadi obat gosok. Seduhan daun dengan garam serta temulawak dapat diminum untuk perut yang membusung dan sebagai obat cacing. Infus daun tumbuhan ini sudah diteliti secara in vitro mampu menghancurkan batu ginjal. Di lampung buah masak atau yang masih mentah dikunyah bersama sirih untuk obat batuk berat. Penelitian di National Cancer Institut, Washington menyatakan, ekstrak air tumbuhan ini aktif sebagai anti-HIV in vitro. Kandungan kimia tumbuhan sirgunggu pada bagian-bagian tubuhnya berbeda-beda. Daunnya mengandung unsur kalium, sedikit natrium, alkaloid, dan flavonoid flavon. Pada kulit akarnya terdapat glikosida fenol, manitol, dan sitosterol. Sementara kulit batangnya mengandung senyawa triterpen, asam ureanulat, asam kueretaruat, dan asam seratogenat.

Di daerah Imogiri, Bantul, Yogyakarta, sirgunggu digunakan untuk gurah, yaitu dengan cara kulit akar ditumbuk dan diseduh dengan air, kemudian diteteskan pada hidung guna mengobati berbagai penyakit yang berkaitan dengan lendir, seperti asma, batuk, atau untuk memperoleh suara yang jernih. Efeknya berupa pengeluaran lendir dari hidung dan mulut. Namun cara tradisional gurah tetes melalui hidung dirasa kurang efektif dan efisien karena pasien harus datang langsung ke tempat gurah atau memanggil ahlinya. Selain itu, prosesi gurah tetes memerlukan waktu antara 1-2 jam. Oleh karena itu, terdapat inovasi yang lebih efektif, yaitu dengan membuat ramuan gurah dalam berbagai bentuk, di antaranya kapsul dan teh.

Kapsul gurah Perusahaan Jamu Loka H. Djawadi dibuat dengan tumbuhan sirgunggu ditambah 11 macam racikan jamu Jawa dari tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat dan bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti asma, amandel, ambeien, asam urat, lumpuh, leukemia, lever, lemah syahwat, epilepsi, diabetes, jantung, kanker, tumor, paru-paru, bahkan penyakit berat lain yang sulit disembuhkan seperti: stress, gila, ginjal, dan AIDS. Kapsul gurah ini memiliki daya kerja yang beragam, di antaranya yaitu: (1) memberdayakan fungsi ginjal; (2) membantu pertumbuhan sel darah baru; (3) memanaskan sel-sel darah beku dan sel-sel darah yang dikirim ke otak; (4) mencuci dan menutup luka pada lambung, usus 12 jari, usus tua/muda; (5) relaksasi pembuluh darah Vena; (6) melarutkan lemak-lemak, asam urat pancreas maupun kolesterol dalam darah yang sudah tidak dipakai dan kotor; serta (7) meningkatkan daya konsentrasi, menjaga kehangatan suhu tubuh untuk mendapatkan stamina yang prima dan vitalitas yang stabil. Untuk penyembuhan, kapsul ini diminum 4 kali sehari masing-masing 2 kapsul sekali minum. Kapsul gurah ini dijual dengan harga Rp 80.000/botol yang berisi 40 kapsul.

Sedangkan teh gurah adalah paduan dari daun teh hitam kualitas tinggi dari pegunungan Kerinci dengan daun Sirgunggu (Clerodendron serratum) dari pegunungan Giriloyo, sehingga menghasilkan teh yang sangat istimewa untuk meningkatkan kekebalan tubuh (mempertahankan struktur sel yang sehat), meningkatkan pembentukan Glutathions, serta membuang kotoran dan toksin (racun) dalam tubuh, sehingga bisa mencegah timbulnya beberapa penyakit karena daun teh dan sirgunggu mengandung protein dan Vitamin C, juga berserat kasar, sehingga lebih banyak mengandung Vitamin A, serta mengandung mineral dan zat besi yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. 

Teh gurah mampu menyerap dan melarutkan endapan-endapan sisa makanan yang dikonsumsi antara lain: (1) endapan lemak tidak larut (asam keton); (2) protein tidak larut dari senyawa nitrogen (urea); (3) mineral tidak larut dari sulfa fosfat dan keratin; (4) mengangkat asam tidak larut seperti asam urat, asam hupurat dan asam histamine; (5) endapan tersebut jika tidak larut akan meracuni tubuh yang lemah kemudian menjadi penyakit. Teh gurah akan membersihkan dan membuangnya lewat keringat, buang air kecil dan besar; (6) Teh gurah selain sebagai pelepas dahaga juga berkhasiat untuk mencegah berbagai penyakit antara lain kanker, jantung, encok serta mencegah aksidasi dan menyegarkan kondisi wanita yang sedang nifas juga sebagai pelangsing tubuh bagi yang menderita obesitas (kegemukan). Teh gurah ini dibandrol seharga Rp 50.000/bungkus.

(Ditulis sebagai laporan hasil wawancara lapangan mata kuliah Analisis Budaya Dalam Masalah Kesehatan - Imogiri, Bantul, Yogyakarta)

DEFINISI DAN FUNGSI SOSIO-KULTURAL BUDAYA POP: SEBUAH SINTESA


Budaya Pop dan Kapitalisme
Pada dasarnya, budaya pop merupakan produk dari revolusi industri. Revolusi industri membentuk “sesuatu” menjadi tren/popular yang didukung oleh teknologi media massa. Media massa mengenalkan, menyebarkan, dan menggandakan, serta membuat “sesuatu” itu menjadi popular di kalangan masyarakat. Baudrillard menggambarkan situasi ini dengan istilah implosion di mana media massa menyatukan manusia dan membiarkannya meledak dalam batas-batas kultural, geografis, ideologi, bangsa, kelas, bahkan agama. Hal ini mengakibatkan kaburnya identitas nasional yang utuh, sehingga masyarakat yang terseret dalam ledakan itu seolah menjadi serpihan-serpihan kecil yang tidak dapat membedakan batas di mana sekarang dia berada dan di mana seharusnya dia berada. Pikiran masyarakat seperti di-handle oleh media, sehingga apa yang dipikirkan masyarakat mengenai lingkungannya tidak sepenuhnya fakta. Media mengkonstruk pikiran masyarakat dengan berbagai informasi dari sudut pandangnya dan sesuai kepentingannya sendiri. Televisi dan film pasti memiliki dampak/konsekuensi terhadap audiens. Untuk orang yang tidak memiliki kesempatan traveling, “pengetahuan” tentang luar negeri seringkali diperoleh dari tayangan di layar kaca tersebut, dan mereka cenderung mengekspresikan dirinya dengan apa yang ditontonnya.

Selain media, konsumsi merupakan hal yang sangat populer dan meledak dalam masyarakat. Media memegang peranan sentral dalam mengenalkan dan mempopulerkan barang-barang komoditi. Ini merupakan bagian dari kapitalisme konsumsi. Dalam hal ini terjadi homogenitas (penyeragaman) dalam pengkonsumsian barang komoditi, sehingga sebagian orang (Adorno dan para pengikutnya) menganggap bahwa budaya pop mematikan kreativitas masyarakat karena di sana-sini tampak hal yang serupa. Misalnya McDonald yang merupakan produk dari Amerika. Untuk menikmati makanan cepat saji ini, orang tidak perlu jauh-jauh datang ke Amerika, karena McDonald dapat ditemui di banyak tempat di seluruh dunia. Menjamurnya McDonald ini menunjukkan bahwa budaya pop tidak hanya berkembang pada aspek tingkah laku dan teknologi, namun juga merambah ke aspek lainnya, termasuk kuliner. Budaya pop yang lahir dari rahim kapitalis bertolak dari sektor ekonomi, di mana kaum kapitalis ingin meraup untung sebesar mungkin dalam setiap industri yang dikembangkannya. 

Ekonomi adalah sektor sentral dan vital dalam kehidupan manusia, sehingga apabila sektor ekonomi bergerak, maka semua sektor ikut bergerak ke arah pergerakan ekonomi itu. Hal ini seperti ketika lempeng bumi bergerak, maka daratan di atasnya juga ikut bergerak, salah satunya terbukti pada Pulau Sulawesi yang dahulunya tidak membentuk huruf “K”, karena pergerakan lempeng akhirnya menyatu dan membentuk huruf “K”. Begitu pula dengan ekonomi. Ekonomi menjadi faktor penyebab terjadinya perubahan budaya dalam masyarakat. Kembali pada homogenitas/penyeragaman yang dianggap sebagai “pembunuhan kreativitas”, jika dipikirkan lebih jauh dan mendalam, sebenarnya justru akan melahirkan kreativitas dalam masyarakat. Budaya pop dalam beberapa hal melahirkan homogenitas, namun budaya pop juga menciptakan heterogenitas, misalnya “budaya ngopi”. Kegandrungan masyarakat akan kopi pada akhirnya memicu orang-orang kreatif untuk mengkreasikan kopi dengan berbagai varian rasa, sehingga dapat dinikmati masyarakat. Budaya pop tidak mematikan kreativitas. Sebaliknya, budaya pop melahirkan kreasi, inovasi, dan modernisasi yang baru, yang dapat diarahkan untuk budaya kaum elite, umum/massa, maupun keduanya.

Budaya pop bertentangan dengan budaya kaum elite. Budaya pop menjadi budaya khalayak, umum, dan mungkin terlihat “kampungan dan norak”. Budaya pop merupakan budaya yang digemari mayoritas masyarakat dan sifatnya fleksibel. Berbeda dengan budaya kaum elite yang terkesan eksklusif dan hanya dikonsumsi oleh sedikit masyarakat. Budaya kaum elite bersifat kaku karena mengagungkan keeksklusifannya agar tidak terkesan “ecek-ecek”. Jika budaya pop dianggap “budaya kampung”, budaya kaum elite ini dianggap “budaya kota”. Contohnya dalam dunia musik. Musik dangdut yang saat ini di Indonesia sedang “naik daun”, untuk sebagian orang dianggap sebagai budaya pop yang “kampungan” dan bercita rasa rendah. Sedangkan musik jazz yang sedikit peminatnya dianggap sebagai budaya kaum elite nan eksklusif dengan cita rasa tinggi. Dengan kata lain, budaya pop adalah budaya rendahan (low culture) milik kaum pinggiran, sebaliknya budaya kaun elite adalah budaya tinggi (high culture) milik kaum borjuis.

Secara sederhana, budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan setinggi mungkin. Budaya massa adalah budaya populer yang diproduksi untuk pasar massal. Perkembangan budaya massa memberi artian bahwa segala budaya yang tidak menghasilkan uang akan semakin sempit ruangnya, seperti kesenian dan budaya rakyat. Budaya massa bersifat materialistik, yang akan mencekik budaya-budaya yang tidak menguntungkan secara materi dan tidak dapat diproduksi secara massal. Menurut MacDonald, sifat homogen budaya massa menjadi sebuah ancaman besar karena kapasitasnya dalam menurunkan atau merendahkan segala kebudayaan, dan menciptakannya kembali dengan pencitraannya sendiri. Kedudukan intelektual elite sebagai pengadil selera kultural dipandang menjadi ancaman bagi demokratisasi yang dimunculkan oleh budaya massa. Terkadang, budaya massa menolak untuk tetap berada di tempatnya dan melekat dengan massa, serta tidak mau mengakui hierarki selera kultural, walaupun datangnya dari kelas atas. Budaya massa cenderung mengancam kedudukan budaya tinggi dalam hierarki kultural dalam masyarakat.

Dominic Strinati mengemukakan bahwa ciri konsepsi budaya massa adalah merepresentasikan budaya yang turun nilainya, remeh, hanya di permukaan, artifisial dan baku, sebuah kebudayaan yang menyedot kekuatan budaya rakyat dan budaya tinggi, serta menantang penilaian intelektual selera kultural. Suatu posisi elite mengasumsikan bahwa budaya massa hanya bisa dipahami dari sudut yang menguntungkan yang diberikan oleh budaya tinggi dari prinsip-prinsip yang diturunkan dari estetika dan “selera” kaum elite kultural dan intelektual. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum dianggap mampu menilai berbagai budaya yang ada karena kesahihan dan otorisasinya yang tinggi.

Budaya massa yang lahir dari produksi dan konsumsi komoditi massal, membentuk kesimpulan bahwa Amerika adalah pusat budaya massa karena kaum kapitalis sangat erat kaitannya dengan proses produksi dalam industri. Apabila budaya massa yang identik dengan Amerika dianggap sebagai suatu ancaman, maka Amerikanisasi pun dianggap sebagai ancaman kultural. Produk-produk Amerika dapat ditemukan di berbagai tempat di seluruh belahan dunia ini, misalnya makanan cepat saji, pakaian, make up, aksesoris, film, hingga life style yang liberal. Di Indonesia saja, khususnya di daerah perkotaan, gaya hidup liberal Amerika sudah sangat kental hidup dan berbaur dengan budaya ketimuran. Seks bebas dianggap hal yang biasa dan wajar, terutama bagi kalangan generasi muda, baik secara terang-terangan maupun terselubung. Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa gaya hidup kalangan tertentu di Jakarta mengadopsi gaya hidup orang-orang Amerika. Namun ketika membaca buku “Jakarta Undercover”, orang akan tahu betapa mengerikannya kehidupan seks para eksekutif muda (eksmud), pejabat, bahkan sejumlah selebritis tanah air. Buku “Jakarta Undercover” merupakan kisah nyata yang didasarkan pada pengalaman pribadi penulis yang juga merupakan seorang wartawan. Buku itu berisi kumpulan cerita tentang kehidupan seks di Jakarta. Salah satunya adalah “pesta bugil” di mana para tamu undangan berada dalam satu ruangan tanpa sehelai benang pun, baik pria maupun wanita. Di sana mereka berpesta pora, di mana alkohol dan seks menjadi jamuan utama. Para pria diperbolehkan untuk meniduri wanita manapun yang diinginkannya di kamar yang sudah disediakan, karena para wanita di sana adalah wanita-wanita panggilan dari berbagai penjuru dunia. Sungguh suatu hal yang sangat bertentangan dengan budaya Timur.

Ironisnya, Amerikanisasi justru dianggap hal yang biasa bagi kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan terkadang, mereka tidak sadar bahwa budaya nasional sedikit demi sedikit tergeser oleh Amerikanisasi. Lihat saja, banyak orang memilih untuk melihat film Hollywood dibandingkan dengan film dalam negeri. Secara tidak sadar, masyarakat – khususnya daerah perkotaan – mengkonsumsi komoditi Amerika dalam kehidupan sehari-harinya. Kapasitas pemakaian internet, televisi, handphone, dan sarana komunikasi lainnya yang dilakukan secara simultan telah mendarah daging dan menjadi budaya yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan masyarakat. Melihat hal sedemikan itu, apakah kita masih bisa berkata bahwa bangsa Indonesia benar-benar merdeka? Mungkin kita memang telah bebas dari penjajahan secara fisik, namun kita tampaknya semakin terjajah dalam ideologi, kultural, bahkan intelektual. Ada beberapa masalah internal dalam masyarakat pada umumnya, di mana kerangka kerja intelektual telah banyak dimodifikasi dalam era pembangunan bangsa dan modernisasi. Dalam beberapa kasus, banyak aspek material dan isu-isu konseptual mengenai modernisasi, pembangunan bangsa, ekonomi, agama, peperangan, atau korupsi yang semuanya itu terjadi akibat ulah manusia.

Immanuel Wallerstein mengingatkan kita akan kalimat 'jika tidak ada imbalan pribadi'. Wallerstein menegaskan bahwa meskipun logika kapitalisme menuntut abstemious puritanisme, psiko-logika kapitalisme untuk tampilan kekayaan dan konsumsi mencolok. Sebagian besar keuntungan berasal dari ledakan ekonomi yang masuk ke konsumerisme berlebihan daripada investasi produktif. Apa yang datang dengan mudah, hilang dengan mudah. “Keasyikan” baru muncul saat kapitalis Indonesia tidak lagi berpikir bagaimana menjadi kaya dan mempertahankan kekayaan, tetapi bagaimana untuk memaksimalkan kenikmatan dan memperluas cakupan dari apa yang bisa dibeli dengan uang. Di antara beberapa eksekutif muda juga melakukan konsumsi yang melampaui logika utilitas atau ekonomi. Pembentukan identitas kelas menengah baru dan pembentukan paralel dari hegemoni kapitalis di Indonesia kontemporer beroperasi di beberapa bidang. Pertama, melalui debat intelektual di mana ada advokasi yang cukup terbuka liberalisme, pro–pasar sentimen dan milik pribadi. Kedua, negara memberlakukan serangkaian langkah-langkah ekonomi untuk memperbaiki keluhan atas ketidakseimbangan ekonomi mengkhawatirkan dalam bantuan keuangan, pinjaman dan kemitraan perusahaan. Ketiga, dan yang lebih anehnya, adalah baru-baru ini populer dan telah menjadi tren yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana tokoh-tokoh bisnis terkemuka membaca puisi dan bernyanyi lagu-lagu populer yang khusus dipersiapkan untuk kinerja dalam pertemuan publik yang serius.

Konsumsi selalu membuat pernyataan sosial, kadang-kadang lebih dan terkadang kurang dari sekedar menunjukkan daya beli konsumen dan selera pribadi. Selain itu, pesan-pesan yang berasal dari praktik konsumsi mungkin belum dimaksudkan oleh konsumen individu. Pesan ini menjadi lebih penting dan kompleks di daerah perkotaan kontemporer, di mana konsumsi semakin berubah menjadi 'konsumerisme' (tindakan signifikan bergaya konsumsi), sebagai bagian dari gaya hidup. Batas yang memisahkan konsumsi dari konsumerisme sering kabur.

Sejak zaman kolonial, Barat telah menjadi model yang menarik untuk lifestyling dan keinginan konsumen di Asia Barat, dan terus menarik orang Asia pada taraf kemakmuran, sehingga konsumerisme dan Westernisasi sudah sering dianggap satu dan menjadi hal yang sama. Restoran cepat saji yang menjadi target ekspor budaya Amerika kini bisa berubah menjadi sesuatu yang menarik, seperti yang terjadi di Singapura. Salah satu iklan di Singapura dimulai dengan judul The Sounds of Singapore, dan dari pertama adegan seseorang melihat bahwa itu dirancang untuk membangkitkan sentimen nasionalistis, di mana anak sekolah yang berada di luar ruangan dengan bendera dikibarkan di bawah langit biru tropis. Mereka menyanyikan kesetiaan mereka kepada Singapura: "Ketika matahari bersinar atas tanah kami", dan itu menunjukkan bahwa Amerikanisasi dapat diubah menjadi nasionalisme.

Fungsi Sosio-Kultural Budaya Pop 
Budaya pop yang digandrungi masyarakat dan menjadi sebuah trend tidak melulu menimbulkan efek negatif semata. Tidak ada suatu hal pun di dunia ini yang tercipta tanpa memiliki fungsi, begitu pula dengan budaya pop. Budaya pop dengan “soft power”-nya mampu memberdayakan jagad kreativitas, kultural, dan intelektual. Seperti yang tertulis di atas bahwa homogenitas yang timbul akibat adanya budaya pop pada akhirnya akan menjadi surga bagi para kreator. Sebagian besar dari mereka mengilhami budaya pop untuk menjadi sebuah maha karya yang kreatif dan inovatif. Pemberdayaan budaya pop yang semula menjadi konsumsi massa, di tangan para kreator dapat disulap menjadi suguhan eksklusif bagi kalangan elite. 

Dalam industri tekstil, misalnya, batik yang merupakan corak khas Indonesia dan menjadi populer sejak Malaysia mengklaim bahwa batik adalah milik Malaysia, dipakai oleh berbagai kalangan di Indonesia, mulai dari level rendah, menengah, hingga level atas. Batik yang dahulunya mungkin terkesan eksklusif karena hanya segelintir orang yang mengenakannya, sekarang sudah menjadi trend bagi masyarakat Indonesia, bahkan telah meluncur ke negara-negara lain. Batik memang menjadi budaya massa saat ini, namun para pemikir yang kreatif mencari cara bagaimana “batik massa” berbeda dengan “batik eksklusif” untuk membedakan strata sosial. Danar Hadi dan Batik Keris merupakan contoh brand “batik eksklusif”, yang harganya tidak bisa dijangkau oleh lower class. Bahan, corak, dan desain yang khas dari kedua brand tersebut sengaja diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas. Sedangkan untuk kalangan bawah hanya mampu menjangkau pasar-pasar tradisional atau di pusat grosir agar mendapatkan harga yang sudah pasti jauh berbeda. Begitulah budaya pop bekerja, ia bagaikan suatu sistem holistik yang saling berkaitan namun tetap mengenal strata sosial. Orang berkata bahwa budaya pop berbeda dengan budaya eksklusif, namun mereka tidak menyadari satu hal, yaitu bahwa budaya eksklusif yang mereka agung-agungkan sesungguhnya populer di kalangan mereka sendiri. 

Bukan hanya bidang ekonomi, sosial, dan budaya semata, bahkan budaya pop membidik dunia pendidikan menjadi “intelektual populer”. Misalnya saja program beasiswa, tanpa disadari kaum intelektual telah menyeret dunia pendidikan dalam pusaran budaya pop. Lihat saja, pertumbuhan penawaran beasiswa yang semakin mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik itu beasiswa dalam negeri maupun luar negeri. Banyak universitas bahkan perusahaan asing yang menawarkan beasiswa bagi kaum intelektual Indonesia. Program ini baik disadari ataupun tidak akan membawa budaya asing masuk ke dalam budaya lokal. Para intelektual yang belajar di luar negeri, apabila kembali ke dalam negeri akan membawa pengaruh budaya asing. Misalkan mereka belajar di Jepang, ketika kembali ke Indonesia, maka pemikiran dan budaya Jepang tersebut akan dibawa ke Indonesia. Dengan kata lain, program beasiswa yang diberdayakan pemerintah dalam negeri dan luar negeri dapat dijadikan alat propaganda yang sangat “soft” dan “unconscious” bagi para audiens/konsumennya.

Minggu, 21 Februari 2016

DESA WISATA RUMAH DOME (DESA WISATA RUMAH TELETUBBIES)

Desa Wisata Rumah Dome terletak di Dusun Sengir, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dusun Sengir berbatasan dengan Dusun Wukirharjo di sisi timur, di sisi barat berbatasan dengan Dusun Klero, di sisi selatan berbatasan dengan Dusun Dayakan, dan di sisi utara berbatasan dengan Dusun Kenaran. Nama Desa Wisata Rumah Dome dikenal pula dengan sebutan Desa Wisata Rumah Teletubbies karena bentuk rumahnya yang mirip dengan rumah Teletubbies, yaitu berbentuk setengah lingkaran. Rumah menjadi atraksi utama di desa wisata ini. Desa wisata ini mencakup dua RT, yaitu RT 02 dan RT 06. 

Jalan untuk menuju Desa Wisata Rumah Dome dalam kondisi baik dengan lebar jalan 3 meter dan sudah ada petunjuk arah yang jelas menuju ke lokasi. Kualitas jalan sangat baik berupa jalan aspal yang lebar dan lebih mulus daripada jalan masuk menuju lokasi. Untuk menuju Desa Wisata Rumah Dome, perlu menggunakan kendaraan pribadi, seperti motor dan mobil karena tidak tersedia kendaraan umum yang menjangkau hingga ke lokasi. 

Fasilitas umum yang terdapat di Desa Wisata Rumah Dome cukup memadai. Selain tersedia akses jalan yang baik, Desa Wisata Rumah Dome juga dilengkapi dengan welcome gate, mushola, aula, play garden, Poskesdes, parkiran, homestay, dan MCK komunal. Desa wisata ini juga telah dilengkapi dengan jaringan listrik, air bersih, dan tempat sampah. Pemberian bibit jambu dan mangga secara gratis dari desa membuat Desa Wisata Rumah Dome menjadi lebih hijau dan asri.

Berdasarkan data profil Dusun Sengir, 44,99% dari masyarakat Dusun Sengir pernah mengenyam bangku sekolah walaupun sebagian besar atau sekitar 17,17% hanya tamatan SD. Lainnya sebanyak 16,85% tamat SMA, 10,49% tamat SMP, dan 0,48% tamat perguruan tinggi. Sedangkan sisanya sebanyak 55,01% tidak tercantum dalam data yang ada. Di Desa Wisata Rumah Dome sendiri belum ada data mengenai tingkatan pendidikan warganya. Namun berdasarkan observasi, tampaknya generasi tua mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi keturunan mereka. Masyarakat Desa Wisata Rumah Dome merupakan penduduk yang sudah mengenal kehidupan modern dan mengikuti perkembangan teknologi terkini. Namun bukan berarti mereka melupakan tradisi nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun, seperti: slametan, rasulan, mitoni, dan nyekar.

Mayoritas penduduk Dusun Sengir adalah petani, yakni sebanyak 21,46%, disusul oleh karyawan swasta sebanyak 6,70%, wiraswasta 4,93%, guru/PNS 0,79%, dan pensiunan 0,16%. Sisanya, sebanyak 34,04% belum tercatat dalam data statistik Dusun Sengir. Sedangkan mayoritas penduduk yang bermukim di Desa Wisata Rumah Dome bekerja sebagai petani, yakni sekitar 14,60%, buruh 9,73%, karyawan swasta 5,31%, dan pedagang 3,54%. Sedangkan sisanya sebanyak 66,82% tidak tercatat dalam data statistik Desa Wisata Rumah Dome. Hal ini bukan berarti 66,82% tersebut tidak produktif, melainkan karena sebagian besar warga rumah dome adalah ibu rumah tangga dan anak-anak/balita.

Pada tahun 2006, tepatnya tanggal 27 Mei 2006, terjadi gempa bumi berkekuatan 6,7 SR di Yogyakarta. Gempa bumi yang terjadi pukul 05.59 WIB itu mengakibatkan salah satu daerah di timur Yogyakarta, yakni di Kampung Ngelepen, Dusun Sengir, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan yang  berada di lereng perbukitan mengalami kerusakan yang sangat parah. Akibat dari bencana gempa bumi tersebut, Kampung Ngelepen tidak bisa ditinggali lagi karena tanah di perkampungan ini amblas sedalam 7 meter, lebar 15 meter, dan sepanjang 500 meter. Warga Kampung Ngelepen tidak hanya kehilangan tempat tinggal, namun tanah kelahirannya pun sudah tidak bisa ditempati lagi. Empat bulan lamanya warga tinggal di tenda hingga pada akhirnya terdengar kabar bahwa masyarakat akan direlokasi ke tempat yang lebih aman. Sebenarnya, saat itu warga dihadapkan oleh dua pilihan, yaitu mendapatkan bantuan berupa uang Rp 15.000.000 atau mendapatkan bantuan berupa rumah siap huni. Akhirnya warga memilih bantuan berupa rumah siap huni karena uang Rp 15.000.000 tidak cukup untuk memperbaiki rumah mereka yang sudah rata dengan tanah. 

Kompleks rumah dome dibangun atas kerjasama antara World Association of Non-Governmental Organizations (WANGO) dan Domes for the World Foundation (DFTW) dengan donatur tunggal Mohamed Ali Alabbar, Ketua Emaar Properties. Pada bulan April tahun 2007, rumah dome diserahkan kepada warga dan diresmikan oleh Taj Hamad (perwakilan dari DFTW), Ibnu Subiyanto (Bupati Sleman), Chung H. Kwak (Ketua WANGO), dan Mohamed Ali Alabbar (Ketua Emaar Properties). Sejak saat itu, rumah dome banyak diliput oleh media, baik media cetak maupun media elektronik, sehingga banyak orang mengetahui bahwa di Yogyakarta ada rumah yang bentuknya berbeda dari rumah Jawa pada umumnya. Masyarakat yang penasaran akan bentuk rumah yang unik ini kemudian datang berkunjung, sekedar untuk melihat dan mengobati rasa penasarannya. Lama-kelamaan, mulai banyak orang yang datang karena kabar yang menyebar dari mulut ke mulut, bahkan dari luar daerah. 

Dari tahun ke tahun, wisatawan semakin banyak berdatangan dan kebanyakan berasal dari luar Yogyakarta, bahkan ada juga wisatawan dari mancanegara. Pada awalnya tidak ada tarif masuk bagi wisatawan, hanya ada sumbangan sukarela untuk pengisian kas. Beberapa wisatawan memberi masukan untuk memanfaatkan dan mengelola kompleks rumah dome. Melihat respon publik yang luar biasa, akhirnya pemerintah daerah mengusulkan agar pemukiman rumah dome tersebut dikembangkan menjadi daerah wisata. Pada tahun 2009, Desa Wisata Rumah Dome resmi dibuka menjadi kawasan desa wisata bencana.    

Perkembangan Desa Wisata Rumah Dome tidak lepas dari dukungan masyarakat sekitar, terutama masyarakat Dusun Sengir dan masyarakat Desa Sumberharjo. Pengelola desa wisata terus berupaya melakukan promosi untuk meningkatkan kualitas Desa Wisata Rumah Dome dengan harapan agar Desa Wisata Rumah Dome semakin dikenal masyarakat, sehingga diharapkan banyak wisatawan yang tertarik mengunjungi dan melihat keunikan yang ada di Desa Wisata Rumah Dome. Promosi dilakukan melalui bermacam cara, yaitu dari mulut ke mulut dan dengan pembuatan brosur. Selain itu, desa wisata ini juga mempunyai barcode yang dibuatkan oleh mahasiswa KKN dari AKPRIND Yogyakarta dan juga mempunyai website dari AMPTA Yogyakarta. Promosi juga dilakukan melalui relasi-relasi para pengelola dan juga melalui jejaring sosial.

Fasilitas dan paket kegiatan yang ditawarkan Desa Wisata Rumah Dome sudah cukup lengkap. Desa Wisata Rumah Dome menyediakan lima belas homestay di mana homestay tersebut sebenarnya adalah rumah yang tidak ditinggali oleh pemiliknya karena pemiliknya pindah ke rumah lamanya yang sudah direnovasi. Desa Wisata Rumah Dome mengandalkan rumah dome sebagai atraksi utamanya. Sedangkan potensi lainnya, mereka memiliki makanan khas, yaitu emping garut. Objek-objek wisata pendukung yang bisa dikunjungi antara lain: peternakan komunal, Tanah Ambles, Belik Wunut, Belik Cangkok, Bukit Teletubbies, dan Galeri Rumah Dome. Badut Teletubbies juga menjadi icon dari Desa Wisata Rumah Dome. Dengan slogan “Omahku Bunder”, Desa Wisata Rumah Dome mampu menarik wistawan dari waktu ke waktu.

Rumah dome merupakan atraksi utama di Desa Wisata Rumah Dome. Rumah dome berbentuk setengah lingkaran seperti Igloo, rumah orang Eskimo. Tinggi rumah dome 4,6 m dengan diameter 7 m² dan tebal dinding 10 cm. Struktur lantai rumah dome berbentuk lingkaran dan ruangnya dibagi menjadi empat bagian sama besar, seperti potongan kue. Terdapat 80 unit bangunan dome di desa wisata ini, yang terdiri dari 71 unit rumah hunian, 6 unit MCK komunal, 1 unit mushola, 1 unit Poskesdes, dan 1 unit aula. 15 unit rumah hunian yang dikosongkan pemiliknya, akhirnya dijadikan sebagai homestay atau penginapan bagi para wisatawan. Bentuk rumah yang berbeda dari rumah Jawa, bahkan berbeda dari rumah Indonesia pada umumnya ini dianggap sebagai sesuatu yang unik, sehingga menjadi daya tarik utama dari desa wisata yang juga dikenal dengan Desa Wisata Rumah Teletubbies. Rumah dome ini bahkan tahan terhadap gempa, kebakaran, dan angin puting beliung. Desa Wisata Rumah Dome juga memiliki Galeri Rumah Dome yang mulai diresmikan pada bulan Oktober 2014. Galeri Rumah Dome ini adalah salah satu hasil dari KKN mahasiswa AKPRIND Yogyakarta. Galeri Rumah Dome terletak di blok A10, yang sebelumnya dijadikan homestay oleh pengelola.

Desa wisata bencana ini menawarkan berbagai atraksi wisata, yaitu: (1) atraksi arsitektur, yang meliputi Rumah Dome dan Galeri Rumah Dome; (2) atraksi alam, yang meliputi: Belik Wunut, Tanah Ambles, Bukit Dayakan (Bukit Teletubbies), Belik Cangkok, dan Candi Kajiman; (3) atraksi kesenian, yang meliputi: campursari, Ronda Tek-tek, dan jathilan; serta (4) atraksi kuliner, yang meliputi emping garut dan wedang udhak sereh. Nah, di sini saya ingin sedikit mengulas tentang atraksi alamnya. Mengapa atraksi alam? Entahlah. Mungkin karena wajah saya yang alami. Halah!

 
Belik Wunut
Ini dia Belik Wunut di Desa Wisata Rumah Dome. Letak Belik Wunut ini tidak jauh dari kompleks Rumah Dome, yakni sekitar 500 meter. Untuk mengunjungi Belik Wunut ini, wisatawan hanya perlu berjalan kaki ke timur kompleks Rumah Dome sekitar 10 menit. Dinamakan Belik Wunut karena airnya berasal dari bawah pohon wunut yang sangat langka. Ada dua belik di sini, yang satu rasa airnya sedikit manis, dan yang satu lagi rasa airnya tawar biasa. Belik ini tidak pernah kering walaupun kemarau panjang. Konon, wajah kita akan selalu awet muda jika membasuh muka di belik ini. Tidak percaya? Coba saja.


Tanah Ambles
Bukan hanya tempat-tempat indah yang bisa dijadikan destinasi wisata. Tempat yang terlihat biasa saja ini juga bisa dikunjungi untuk para traveler yang hobi mengenang masa lalu alias susah move on. Ini salah satu sudut dari suatu tempat yang bernama Tanah Ambles. Tanah Ambles adalah bekas perkampungan Ngelepen, Dusun Sengir, Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta yang amblas akibat gempa tahun 2006 lalu. Kampung ini sekarang tidak lagi dihuni karena secara geografis sangat rawan dan tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai wilayah pemukiman. Warga Ngelepen telah direlokasi ke tempat yang lebih aman, yakni di kompleks perumahan dome. Tanah Ambles kini dibuka sebagai jalur tracking bagi mereka yang ingin menikmati wisata bencana. Tempat ini menyisakan puing-puing bangunan di dalam hutan. Konon, semenjak ditinggalkan penghuninya, Tanah Ambles menjadi sebuah "kerajaan gaib" dan dihuni oleh para lelembut. Banyak cerita mistis yang beredar di masyarakat mengenai Tanah Ambles. Cerita-cerita tersebut kemudian berlanjut menjadi sebuah komoditas dalam kepariwisataan yang bernilai ekonomis loh.


Bukit Dayakan/Bukit Teletubbies
Bukit Dayakan lebih dikenal dengan sebutan Bukit Teletubbies, merupakan titik tertinggi dari Dusun Sengir, Desa Sumberharjo. Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Bukit Teletubbies terletak di timur Desa Wisata Rumah Dome. Jalan menuju Bukit Teletubbies sangat curam. Sebagian jalan sudah diaspal dengan bagus, sebagian lagi berupa aspal rusak. Untuk masuk ke arah lokasi, jalan masih berupa tanah dan bebatuan. Dibutuhkan waktu sekitar 10 menit menggunakan motor, atau sekitar 45 menit berjalan kaki untuk mencapai puncak Bukit Teletubbies. Bagi yang menggunakan motor, motor dapat diparkir di depan rumah Mbah Marmo, kemudian sedikit berjalan kaki untuk mendaki puncak bukit. Wisatawan harus berhati-hati ketika menaiki dan menuruni bukit ini karena kontur tanah yang tidak rata dan berkerikil, yang serupa dengan jalan setapak. Pemandangan dari bukit ini begitu indah, terlebih ketika matahari tenggelam. Ketika malam hari, wisatawan dapat melihat kelap-kelip lampu kota dari atas bukit, tidak kalah indah dengan Bukit Bintang di daerah Patuk, Yogyakarta. Dari atas bukit ini, wisatawan juga bisa melihat kompleks rumah dome yang terlihat seperti kumpulan telur berwarna putih. Rumah dome terlihat kecil dari atas bukit dan tidak semua rumah terlihat karena sebagian tertutup oleh pepohonan yang ada di lereng perbukitan.

 

Belik Cangkok
Belik cangkok merupakan salah satu sumber mata air di Kampung Ngelepen. Belik ini terletak di lokasi Tanah Ambles. Belik tersebut yang memenuhi kebutuhan akan air bagi warga Ngelepen sebelum terjadi gempa. Belik tersebut terlihat seperti sumur biasa, namun kedalamannya mencapai 10 meter. Belik Cangkok merupakan kenangan yang tidak terlupakan bagi warga Ngelepen karena letaknya di bukit Sengir yang merupakan tanah kelahiran warga Sengir. Atraksi alam ini sempat ditutup karena dianggap “rawan” bagi wisatawan. Karena lokasi belik yang ada di area Tanah Ambles, maka tempat ini juga merupakan tempat yang angker, sehingga pengelola memutuskan untuk menutup sementara belik ini. Setelah diadakan slametan, tempat ini dibuka kembali sebagai jalur tracking. Slametan ini bertujuan untuk meminta izin kepada “penghuni” belik untuk membuka tempat tersebut sebagai tempat wisata.

Candi Kajiman
Candi Kajiman berbentuk gundukan bebatuan yang cukup tinggi dan besar-besar, yang terletak di lokasi Tanah Ambles. Jika dilihat sepintas, gundukan tersebut tidak nampak seperti sebuah candi, yang terlihat hanya bebatuan yang besar-besar. Menurut kepercayaan warga sekitar, Candi Kajiman merupakan istana bagi roh para raja-raja di tanah Jawa. Konon, yang bisa melihat candi ini hanya orang-orang yang mempunyai mata batin. Orang-orang tersebut harus melakukan ritual-ritual tertentu, seperti puasa dan bertapa. Candi Kajiman dapat dikatakan sebagai candi yang fana atau tidak nyata.

Pengen tahu lebih detail tentang Desa Wisata Rumah Dome? Atau tentang bagaimana arsitektur rumah dome dipandang dari segi Antropologi Pariwisata? Silakan lanjut ke link berikut, gaes! (http://digilib.fib.ugm.ac.id/files/view/6dd0170df5904b9393abe7c19bc9586c.php#/180)