Senin, 31 Oktober 2016

SEJARAH WAYANG BEBER PACITAN

Wayang Beber adalah wayang tertua di Indonesia. Wayang Beber di Indonesia terdapat di dua tempat, yaitu di Kabupaten Pacitan (yang disebut sebagai Wayang Beber Pacitan) dan di daerah Gunung Kidul Yogyakarta (yang disebut sebagai Wayang Beber Wonosari). Perbedaan antara kedua Wayang Beber ini terletak pada tingkat keasliannya. Wayang Beber Pacitan tidak mengalami perubahan, baik dari segi ritual, bentuk, lakon, maupun gendhing (iringan). Wayang Beber Pacitan terjaga keasliannya, tanpa diubah sedikit pun. Sedangkan pada Wayang Beber Wonosari tidak demikian. Menurut Rudhi Prasetyo (Dalang Wayang Beber Pacitan ke-14), Wayang Beber Wonosari telah mengalami perubahan, yakni dalam hal gendhing dan bahasanya.

Wayang Beber yang ada di Pacitan adalah asli dari Kerajaan Majapahit, yaitu berada di Dusun Karangtalun Desa Gedompol Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan. Wayang Beber tersebut dibawa oleh Ki Naladerma sebagai imbalan dari sayembara yang diadakan oleh Prabu Brawijaya (Raja Majapahit) karena telah menyembuhkan putri raja yang sakit. Pada saat itu, raja Majapahit dikhawatirkan oleh putrinya yang menderita sakit parah dan tidak kunjung sembuh. Oleh sebab itu, sang raja mengadakan sayembara bagi siapa pun yang mampu menyembuhkan putrinya yang sakit. Ki Naladerma yang mendengar berita tersebut tergugah hatinya untuk mengikuti sayembara. Ki Naladerma ingin menjajal kesaktiannya untuk menyembuhkan putri raja karena Ki Naladerma kerap menyembuhkan penyakit orang-orang di desanya. Maka, berangkatlah Ki Naladerma dari Dusun Karangtalun Desa Gedompol itu ke Kerajaan Majapahit dengan berjalan kaki selama tujuh hari tujuh malam. Sesampainya di Kerajaan Majapahit, Ki Naladerma dihadang oleh para hulubalang dan diancam bahwa apabila Ki Naladerma gagal menyembuhkan sang putri, maka Ki Naladerma akan dipenggal kepalanya.

Pada akhirnya, Ki Naladerma diijinkan untuk memasuki Kerajaan Majapahit dan mengikuti sayembara tersebut. Sang raja dengan senang hati menerima Ki Naladerma untuk mencoba menyembuhkan putrinya yang sakit. Sebelum mencoba menyembuhkan sang putri, Ki Naladerma meminta ijin kepada raja untuk melakukan semedi. Setelah melakukan semedi selama satu malam, Ki Naladerma mengobati sang putri dengan mantranya. Pada keesokan harinya, sang putri sembuh dari sakitnya tanpa sedikit pun meninggalkan bekas luka. Sang raja heran sekaligus bahagia melihat kesembuhan putrinya, maka dipanggillah Ki Naladerma ke hadapannya. Raja menawarkan hadiah kepada Ki Naladerma, yaitu sebagai Tumenggung di Keraton. Namun, hadiah itu ditolak oleh Ki Naladerma karena merasa dirinya buta huruf dan buta ilmu pemerintahan. Raja lalu menawarkan pada Ki Naladerma untuk membawa uang sekuatnya, namun Ki Naladerma menolak dengan alasan uang akan membahayakan dirinya dalam perjalanan pulang karena khawatir akan adanya perampok.

Penolakan Ki Naladerma membuat sang raja menjadi bingung, hingga pada akhirnya raja menawarkan Wayang Beber kepada Ki Naladerma. Hadiah tersebut diterima Ki Naladerma dengan senang hati. Menurutnya, Wayang Beber merupakan hadiah yang tidak ternilai harganya karena dapat diwariskan kepada keturunannya. Raja mengajari cara memainkan Wayang Beber kepada Ki Naladerma. Setelah Ki Naladerma mampu menguasainya dengan baik, maka Ki Naladerma kembali ke Dusun Karangtalun dengan membawa hadiah dari raja.

Wayang Beber Pacitan diwariskan turun-temurun menurut garis keturunan secara vertikal. Dalang Wayang Beber Pacitan haruslah seorang laki-laki. Pemilik pertama Wayang Beber Pacitan adalah Ki Naladerma, kemudian diwariskan kepada anaknya yang bernama Nalangsa, yang kemudian mendapat julukan sebagai “Sanala”. Dari Nalangsa (Sanala), diwariskan kepada Citrawangsa, yang dijuluki sebagai “Nayangsa”. Dari Citrawangsa (Nayangsa), diwariskan kepada anak laki-lakinya yang bernama Gandayuta, yang kemudian mendapat julukan “Gandayuda”. Dari Gandayuta (Gandayuda), diturunkan kepada Singa Nangga, kemudian digantikan oleh Trunadangsa. Trunadangsa mewariskan Wayang Beber kepada anaknya yang bernama Gandalesana. Dari Gandalesana diturunkan kepada Palesana yang dijuluki “Setralesana”. Palesana (Setralesana) tidak memiliki anak laki-laki, sehingga Palesana (Setralesana) mewariskan Wayang Beber kepada cucu laki-lakinya (nunggak semi) yang bernama Dipalesana. Dipalesana kemudian dijuluki sebagai “Gandalesana II” karena cara mendalangnya mirip dengan kakek buyutnya. Dipalesana (Gandalesana II) mewariskan Wayang Beber kepada anaknya yang bernama Palesana. Kemudian pada tahun 1900, Wayang Beber diwariskan kepada  anak laki-laki dari Palesana yang bernama Pasetika dan dijuluki sebagai “Gunakarya”. Pada tahun 1940, kepemilikan  Wayang Beber diambil alih oleh Sarnen, yang kemudian mendapat julukan “Gunacarita”. 

Pada tahun 1980, Sumardi (anak laki-laki Sarnen/Gunacarita) menjadi dalang Wayang Beber yang ke-13 dan mendapat julukan “Gunautama”. Sumardi (Gunautama) tidak memiliki anak laki-laki, sehingga Sumardi (Gunautama) harus mewariskan Wayang Beber kepada cucu laki-lakinya agar terjadi nunggak semi. Kala itu, Handoko (cucu Sumardi) masih kecil, sehingga belum bisa menjadi dalang. Namun, mengingat usianya yang sudah renta dan khawatir akan kepunahan pertunjukan Wayang Beber sepeninggalnya, maka Sumardi (Gunautama) berpikir untuk meregenerasi dalang, yaitu melanggar adat turun-temurun dengan menunjuk orang lain sebagai dalang. Akhirnya, Sumardi (Gunautama) menunjuk Rudhi Prasetyo sebagai dalang. Rudhi Prasetyo sebenarnya tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga dalang pakem Wayang Beber Pacitan. Namun, sudah lama Rudhi dekat dengan Sumardi (Gunautama) dan Rudhi juga tertarik dengan warisan budaya yang hampir punah ini. 

Pada tahun 2009, Rudhi resmi menjadi Dalang Wayang Beber Pacitan. Wayang Beber Pacitan kemudian dibuat duplikatnya. Artefak Wayang Beber Pacitan tetap berada di Desa Gedompol Kecamatan Donorojo Kabupaten Pacitan, tepatnya di rumah Mbah Mangun, keluarga Ki Mardi Gunautama. Artefak Wayang Beber Pacitan telah dikeramatkan, serta tidak boleh dibuka oleh sembarang orang. Sedangkan duplikat Wayang Beber Pacitan dipegang oleh Rudhi Prasetyo dan berada di Desa Nanggungan Kecamatan Pacitan Kabupaten Pacitan. Jadi, Wayang Beber Pacitan yang dipentaskan sekarang adalah Wayang Beber hasil dari duplikasi. 

Berikut adalah skema garis pedalangan Wayang Beber Pacitan.

Minggu, 21 Agustus 2016

REVIEW ANALISIS STRUKTURAL DONGENG BAJO (HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA)


Salah satu bab dalam buku Strukturalisme Lévi-Strauss: Mitos dan Karya Sastra tulisan Ahimsa-Putra ini memaparkan tentang sebuah dongeng Bajo yang berjudul Pitoto’ si Muhamma’ yang diperoleh dari I.B. Darmasuta (1994), dan kemudian dianalisis menggunakan strukturalisme Lévi-Strauss. Adapun langkah yang dilakukan Ahimsa-Putra dalam menganalisis dongeng Bajo ini adalah: (1) membaca keseluruhan ceritera terlebih dahulu untuk mengetahui pengetahuan dan kesan tentang isi ceritera; (2) membagi ceritera dalam beberapa episode; (3) membaca ulang dengan seksama untuk mengetahui episode-episode yang mungkin diulang dalam ceritera. Di sini Ahimsa-Putra menyebut istilah ceriteme, yaitu sebuah unit yang mengandung pengertian tertentu yang – seperti halnya miteme – hanya dapat diketahui maknanya atau ‘pengertiannya’ setelah ditempatkan dalam hubungan dengan ceriteme-ceriteme yang lain (Ahimsa-Putra, 2012:206). Kumpulan ceriteme ini membentuk episode-episode yang baru terungkap maknanya setelah dihubungkan dengan episode-episode yang lain. Berikut episode-episode dalam dongeng Pitoto’ si Muhamma’ yang dilakukan oleh Ahimsa-Putra beserta analisis strukturalnya secara singkat.

Episode I: “Daeng Manjakari, Hejira, dan Muhamma” dan Realitas Sosial-Ekonomis Orang Bajo
Menurut Zacot (1978), dalam kehidupan sehari-hari orang Bajo mengenal dua kategori sosial dasar yang penting bagi interaksi sosial mereka, yakni orang Sama dan orang Bagai. Orang Bajo menamai dirinya Orang Sama, yang menggunakan bahasa yang sama, dan menyebut orang yang tidak menggunakan bahasa mereka sebagai Orang Bagai atau orang luar (Ahimsa-Putra, 2012: 210). Orang Sama dibedakan menjadi dua kategori, yaitu Bajo Darat dan Bajo Laut. 


Dalam episode ini, DM dilukiskan sebagai orang Bajo Darat yang belajar adat-istiadat orang Bugis-Makassar dan diterima oleh mereka, yang terlihat saat DM disambut dalam permainan sepak raga bersama dengan orang-orang Bugis-Makassar. Sedangkan M sebaliknya. M adalah orang Bajo yang tidak belajar adat-istiadat orang Bugis-Makassar, sehingga M yang datang bersama pengawalnya dianggap sebagai orang asing dan tidak diundang dalam permainan sepak raga. 

Episode II: “DM Pergi Mengantar H Ke Sumur Toraja” dan Realitas Ekologis Orang Bajo
Episode ini menceriterakan perjalanan DM, H, dan seorang pengawal ke sumur Toraja di mana DM berhasil menghadapi segala rintangan berupa angin dan ombak di lautan. Keahlian DM membuat H jatuh hati padanya, namun DM tidak langsung membalas cinta H. Dalam episode ini, tokoh DM dapat ditafsirkan menjadi kebalikan (intervensi) dari episode sebelumnya di mana DM kurang tampak Bajo dibandingkan M. Ini ditunjukkan dari kepiawaian DM dalam hal pelayaran, yang mampu mengatasi segala rintangan meskipun DM adalah orang Bajo yang telah mengenal budaya Darat. Episode ini menampilkan superioritas orang Bajo di lautan. Namun dari sisi lain, episode ini juga menampilkan ketergantungan orang Bajo terhadap daratan yang ditunjukkan oleh keinginan H untuk pergi ke sumur Toraja. Kedudukan sumur sangat penting bagi orang Bajo, karena sumur merupakan tempat di mana orang Bajo memperoleh air tawar yang mereka perlukan untuk kehidupan sehari-hari.

Episode III: “H Jatuh Cinta Pada DM” dan Realitas Sosial-Budaya (I) Orang Bajo
Episode ini memaparkan tentang jatuh cintanya H kepada DM karena kepiawaian DM di lautan. H berkata bahwa DM pantas memilikinya, dan ini memerlukan pengetahuan tentang hubungan kekerabatan antara DM dengan H, serta sistem kekerabatan orang Bajo. Masyarakat Bajo memiliki sistem kekerabatan bilateral dengan kecenderungan patrilineal. Perkawinan satu, dua, atau tiga kali sepupu merupakan perkawinan ideal, kecuali dengan sepupu patrilineal parallel. Namun bagi orang Bajo Darat, perkawinan dengan sepupu satu kali, baik sepupu silang maupun parallel dilarang karena hubungan mereka dianggap terlalu dekat. 

Meskipun dalam ceritera ini tersirat bahwa DM memiliki hubungan kekerabatan dengan H sebagai ‘misan’, namun kecenderungan lebih menunjukkan bahwa DM adalah ‘orang lain’ atau ‘kerabat jauh’ H. Episode ini juga dapat ditafsirkan sebagai kekaguman dan keinginan orang Bajo (H) untuk menikah dengan orang Darat atau orang Bajo yang lebih mengenal budaya Darat (DM).

Episode IV: “Perselisihan DM dengan M Di dalam Sumur” dan Realitas Sosial-Budaya (II) Orang Bajo
Episode ini berisi kisah perkelahian antara DM dengan M dan menunjukkan hubungan kekerabatan antara DM, M, dengan H. Dalam masyarakat Bajo yang tidak jauh berbeda dengan masyarakat Bugis-Makassar, unit kekerabatan yang terpenting adalah keluarga batih. Relasi kekeluargaan merupakan relasi sosial yang sangat penting dan tidak dapat diingkari. Jika seseorang menolak memberikan bantuan kepada kerabatnya yang sedang dilanda kesulitan, padahal dia mampu memberi pertolongan, atau sebaliknya dia menolak bantuan yang diberikan oleh kerabatnya, dia akan terkucil atau lebih buruk lagi dia akan dibunuh oleh kerabatnya yang tersinggung.

Perkelahian DM dengan M dilakukan dalam sebuah sumur. Sumur dalam kisah ini melambangkan sumber kehidupan, dan tafsiran ini diperkuat bahwa perkelahian yang terjadi di dalam sumur tidak membawa kematian bagi pihak-pihak yang berkelahi. Perkelahian berjalan seimbang dan ini berubah setelah terjadi campur tangan pihak ketiga. Ada beberapa hal yang menarik ketika membandingkan episode IV dengan episode II. Pertama, dalam episode II, tokoh DM pergi berdua dengan H ke sumur Toraja disertai seorang pengawal. Sedangkan dalam episode IV, sumur tempat perkelahian itu awalnya adalah sebuah lubang yang kemudian dibuat M menjadi sebesar sumur dan terletak di tepi pantai. Kedua, dalam perjalanan pulang dari sumur keramat, DM berhasil mengatasi rintangan di luar sumur, yaitu rintangan alami berupa ombak, dengan bantuan tokoh ‘saudara kita’ dan ‘mereka’, yang tidak diketahui siapa, dan pertolongan yang diperoleh tidak kelihatan. Sedangkan M berhasil mengatasi rintangan di dalam sumur yang berupa manusia, yaitu DM, dan mendapat pertolongan dari H berupa ‘sehelai rambut semangat’. Ketiga, dalam episode II, H jatuh cinta pada DM dan DM menggandengnya pulang ke rumah. Sedangkan dalam episode IV, H jatuh hati pada M dan M juga menggandengnya pulang ke rumah.

Episode V: “DM Dibunuh Oleh M” dan Realitas Sosial-Budaya (III) Orang Bajo
Episode V menceriterakan tentang kematian DM di tangan M. Untuk memahami episode V ini, perlu dipahami bahwa ada budaya malu yang hidup di kalangan orang Sulawesi Selatan. Permintaan dapat ditafsirkan sebagai pengakuan atas hubungan kekerabatan, dan permintaan ini harus dipenuhi. Menolak permintaan sama artinya dengan mengingkari hubungan kekerabatan yang ada. Siri atau rasa malu dalam masyarakat Sulawesi Selatan biasanya erat kaitannya dengan persoalan wanita. 

Penolakan DM terhadap uluran tangan H dapat ditafsirkan sebagai penolakan orang Bajo yang sudah mengenal budaya Darat terhadap orang Bajo asli, yang dianggap lebih rendah derajatnya; atau bisa juga ditafsirkan sebagai orang Bajo yang telah memBagai memang kurang pantas memperoleh pertolongan dari orang Bajo asli untuk melawan orang Bajo asli. Penolakan uluran tangan H kepada DM membuat DM berada di pihak yang pantas dikalahkan, karena dia adalah pihak yang mempermalukan. Selain itu, DM juga telah membuat M merasa malu karena H, ‘pacar M’, dibawanya ke pulau Keramat. Menurut aturan moral setempat, sebagai pihak yang dipermalukan, M berhak menuntut balas pada DM untuk menghapus malu tersebut. Di lain pihak, M menerima dnegan baik bahkan meminta bantuan H berupa “sehelai rambut semangat”. Dengan bantuan H tersebut, M mendapat dua kekuatan, yaitu kekuatan berupa semangat untuk mengalahkan musuh dan kekuatan berupa kebenaran moral, yaitu menghapus malu yang diperolehnya dan tidak menolak uluran tangan dari kerabat.

Episode VI: “H Jatuh Cinta Pada M” Realitas Sosial-Budaya (IV) Orang Bajo
Episode ini menceritakan tentang jatuh cintanya H kepada M setelah M berhasil mengalahkan DM di dalam sumur. Ada dua pertentangan yang dihadapi orang Bajo (yang diwakili oleh H) berkaitan soal perjodohan, yaitu: (1) keinginan untuk memilih Bajo Darat (DM); dan (2) keinginan memilih Bajo Laut (M) sebagai pasangan hidup.

Episode VII: “M Meninggalkan H” dan Realitas “Ruang” Dalam Budaya Orang Bajo
Episode ini menceriterakan kepergian M meninggalkan H di Pelabuhan Matekne, walaupun M tahu bahwa H telah jatuh hati kepadanya. Orang Bajo, Bajo Laut terutama, memiliki konsep ruang yang berbeda dengan Bajo Darat pada umumnya. Orang Bajo Laut memiliki konsep ruang yang (1) menunjuk pada kelompok sosial yang disebut bido’ (perahu), yaitu sebuah kesatuan sosial yang berada dalam satu perahu; dan (2) menunjuk pada daerah-daerah yang pernah dikunjungi atau mungkin pernah “ditempati”, serta desa-desa Bajo yang ada di berbagai daerah lain, tempat tinggal kerabat-kerabat mereka. Jawaban yang diberikan di akhir kisah Muhamma’ ini bukanlah menempatkan kehidupan orang Bajo Laut dan Bajo Darat di kedudukan yang lebih tinggi ataupun lebih rendah, namun dengan menyodorkan nilai lain yang lebih tinggi, yaitu “pengembaraan”. Kisah ini merupakan proyeksi dari realitas sehari-hari yang penuh pertentangan dan teka-teki yang tidak terpecahkan. Proyeksi ini disampaikan melalui struktur tertentu yang bersifat dialektis. Oleh karena itu, sebuah mitos atau ceritera sebenarnya dapat menjadi model of (model dari) dan model for (model untuk) realitas yang dihadapi manusia (Ahimsa-Putra, 2012: 204-249).

Dari analisis yang telah dilakukan Ahimsa-Putra terhadap dongeng Bajo, maka dapat diambil kesimpulan bahwa dongeng Pitoto’ si Muhamma’ ini merupakan upaya simbolisasi orang Bajo untuk memahami kontradiksi-kontradiksi empiris yang mereka hadapi sebagai orang yang hidup dari mengumpulan hasil laut. Ahimsa-Putra memperlihatkan bahwa sebuah mitos dapat digunakan sebagai pintu untuk memahami budaya masyarakat pemilik mitos tersebut. Untuk melakukan analisis seperti ini, tentunya kita membutuhkan data-data etnografi yang cukup rinci dan mendalam. Jika dicermati, dongeng Pitoto’ si Muhamma’ ini erat kaitannya dengan sistem kekerabatan orang Bajo. Yang saya lihat di sini adalah bahwa H merupakan jodoh ideal dari M, sehingga M marah dan merasa sangat malu ketika melihat H bersama dengan DM. Budaya malu yang disebabkan oleh wanita dalam dongeng tersebut mengingatkan saya tentang budaya “carok” di Madura, di mana membunuh orang yang telah melukai harga diri seseorang dipandang sebagai sesuatu yang wajar dan justru dipandang sebagai sebuah prestasi, serta menjunjung martabat orang yang memenangkan pertarungan.

Sabtu, 20 Agustus 2016

DI BALIK CERPEN "LAKI-LAKI YANG KAWIN DENGAN PERI" (KUNTOWIJOYO)

Laki-laki yang Kawin dengan Peri, cerpen tulisan Kuntowijoyo ini mengisahkan tentang seorang laki-laki bernama Kromo. Sebelum kedatangan menantu tetangganya, kehidupan Kromo berjalan baik dan normal seperti masyarakat lainnya. Namun karena tuduhan menantu tetangga tersebut yang menyebut Kromo berbau busuk, maka seluruh penduduk desa menyadari bau itu dan mengucilkan Kromo dari pergaulan. Kromo akhirnya keluar desa dan tidur di tengah sawah setiap malam hari. Suatu malam Kromo didatangi seorang wanita cantik, dan akhirnya menikah dengan wanita itu di depan penghulu Naib Kecamatan. Beberapa lama kemudian terdengar ledakan keras di tengah sawah. Penduduk menyimpulkan bahwa Kromo telah meninggal. Mereka merasakan penyesalan dan kehilangan. Semenjak itu, terjadilah wabah penyakit di desa itu. Seorang kyai datang dan mengatakan bahwa penduduk desa kurang bersyukur dan menganjurkan untuk bersedekah. Penduduk desa sepakat mengadakan kenduri, layaknya menghormati orang yang sudah meninggal. Namun, yang sudah mati tidak akan kembali lagi.

Cerpen Laki-laki yang Kawin dengan Peri sebenarnya adalah sarkasme penulis terhadap pemerintah pada masa itu. Cerpen ini merupakan sebuah kritikan yang dipenuhi dengan bahasa simbol terhadap birokrasi pemerintahan Orde Baru. Seperti yang kita tahu bahwa gaya pemerintahan Soeharto adalah sistem politik patronase. Sebagai ganti untuk dukungan di bidang politik atau keuangan, Soeharto membujuk para pengkritiknya dengan memberikan mereka posisi yang bagus di pemerintahan maupun kesempatan bisnis yang bagus. Namun, perlakuan pilih kasih ini tidak hanya diberikan pada para pengkritiknya. Selama dekade terakhir pemerintahan Soeharto, anak-anak dan teman-teman dekatnya bisa membentuk sebuah kerajaan bisnis hanya karena kedekatan mereka dengan Soeharto.

Cerita yang dalam kenyataan tidak rasional ini sebenarnya berkaitan dengan salah satu kebijakan rezim Orde Baru, yaitu mengenai Dwifungsi ABRI. Dwifungsi ABRI atau peran ganda ABRI adalah doktrin yang diterapkan oleh Pemerintahan Orde Baru yang menyebutkan bahwa TNI memiliki dua peran, yaitu: (1) peran pertahanan keamanan, untuk menjaga keamanan dan ketertiban negara; dan (2) peran sosial, untuk memegang kekuasaan dan mengatur negara. Peran tersebut dilandasi pemikiran historis bahwa TNI adalah tentara pejuang dan pejuang tentara. TNI dan Polri memiliki hak politik yang didasari oleh pasal 27 ayat (1) UUD 1945 bahwa setiap warga negara memiliki hak politik dan kedudukan yang sama. Dwifungsi sekaligus digunakan untuk membenarkan militer dalam meningkatkan pengaruhnya di pemerintahan Indonesia, termasuk kursi di parlemen hanya untuk militer, dan berada di posisi teratas dalam pelayanan publik nasional secara permanen. Melalui dwifungsi ABRI ini, tentara bisa masuk dalam semua jaring lapisan masyarakat Indonesia. Para perwira militer selama kepresidenan Soeharto memegang posisi kunci dalam semua tingkat pemerintahan di Indonesia, termasuk walikota, pemerintah provinsi, duta besar, perusahaan milik negara, peradilan, dan kabinet Soeharto.

Kromo dalam cerpen Laki-laki yang Kawin dengan Peri ini merupakan simbol dari Soeharto, sedangkan peri merupakan simbol ABRI, hal ini terlihat seperti dalam kutipan berikut: “Sudah, kaki. Kalau bangsa manusia tidak mau mengerti, jangan susah.” (1995: 20). Cerpen yang sarat akan simbol ini jika dibaca sekilas, tak ubahnya seperti cerita mitologi belaka, namun tidak demikian kenyataannya. Kutipan tersebut jika diinterpretasikan adalah ungkapan dari pihak ABRI kepada Soeharto pada awal pemerintahannya. Soeharto yang berasal dari militer, tentu memilih bekerja sama dengan golongannya dibandingkan dengan golongan lain yang belum dia kuasai seluk-beluknya. Ini dibuktikan dengan fakta bahwa Soeharto dapat memimpin Indonesia selama 32 tahun karena “menyelinapkan” ABRI di setiap elemen masyarakat, sehingga Soeharto bisa berkuasa penuh atas bangsa dan negara Indonesia. Hal ini seperti kutipan berikut: “….. Yang mengherankan adalah rambut Kromo yang tidak putih, meskipun orang sebayanya sudah.” dan juga kutipan berikut: “Itu biasa karena sebayanya malah sudah mati.” (1995: 21).