Jumat, 29 April 2016

KHASIAT GURAH SEBAGAI ETHNOMEDICINE

Sekilas Tentang Ethnomedicine
Pada tahun 1924, W.H. R. River, seorang dokter, menyebutkan bahwa kepercayaan medis dan praktiknya tidak dapat dipisahkan dari aspek budaya dan organisasi sosial yang lain. River menyatakan praktek medis primitif mengikuti dari dan membuat pengertian dalam syarat-syarat yang mendasari kepercayaan medis. River juga menyatakan keberadaan tiga pandangan dunia yang berbeda (gaib, religi, dan naturalistik) dan menghubungkan sistem-sistem kepercayaan, dan tiap-tiap pandangan memilki model perilaku medis yang sesuai.

Ackerkencht, seorang dokter dan ahli antropologi, mengungkapkan orientasi teoritisnya dalam bentuk lima generalisasi, yaitu: (1) studi signifikan dalam antropologi medis bukanlah sifat tunggal melainkan konfigurasi budaya secara keseluruhan dai masyarakat dan temapt dimana pola medis berada dalam totalitas tersebut, (2) ada begitu banyak pengobatan primitif, (3) bagian dari pola medis, seperti yang ada pada keseluruhan budaya, secara fungsional saling berkaitan, (4) pengobatan primitif paling baik dipahami dalam kaitan kepercayaan dan definisi budaya, dan (5) manifestasi pengobatan primitif yang bervariasi seluruhnya merupakan pengobatan gaib.

Ethnomedicine adalah pengobatan suatu penyakit yang dilakukan berdasarkan kepercayaan dan praktik yang merupakan hasil dari perkembangan kebudayaan asli/lokal dan yang eksplisit tidak berasal dari kerangka konseptual kedokteran. Ethnomedicine pada awalnya merupakan pengobatan pada sekelompok orang dan metodenya menggunakan kepercayaan pada sesuatu yang abnormal yang dapat disembuhkan dengan ritual, upacara, dan supranatural. Pada dasarnya, ethnomedicine tidak hanya menyembuhkan penyakit secara fisik, namun juga secara psikis, sosial, dan budaya meskipun cenderung tradisional. Penelitian ethnomedical interdisipliner, atau dalam studi tentang obat-obatan tradisional menerapkan metode etnobotani dan antropologi medis. Studi ethnomedical ilmiah merupakan salah satu penelitian antropologi atau penelitian penemuan obat. 

Salah satu contoh ethnomedicine adalah gurah. Gurah merupakan pengobatan tradisional yang pada umumnya dilakukan dengan meneteskan ramuan ke lubang hidung, dengan tujuan mengeluarkan kotoran-kotoran yang ada di seluruh tubuh bersama dengan keluarnya lendir melalui lubang hidung. Cara tradisional ini merupakan tradisi pondok pesantren. Gurah merupakan cara pengobatan tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Semula, gurah memang hanya dipakai oleh kalangan pondok pesantren, agar suara menjadi bening dan nyaring ketika membaca Al-Qur'an. Namun pada perkembangannya, saat ini, tak hanya para qori'/qori'ah saja yang menggunakan jasa para penggurah. Banyak penyanyi dangdut, pop dan rock mencoba membenahi ataupun mempertahankan kemerduan suaranya dengan cara gurah. Lalu, bagaimana khasiat gurah dalam mengatasi berbagai macam penyakit sebagai ethnomedicine di Imogiri Bantul?

Gurah Sebagai Etnomedicine
Gurah menggunakan tumbuhan sirgunggu yang ada di sekitar Giriloyo, dekat makam raja-raja Mataram. Mereka percaya, hanya sirgunggu dari sana saja yang berkhasiat. Padahal sebenarnya tanaman obat ini bisa tumbuh di mana saja, bahkan di seluruh Indonesia, sehingga dikenal dengan berbagai nama, antara lain kertase, pinggir tosek (Madura), simar baungkudu (Toba), tinjau handak (Lampung), segunggu (Sunda) dan sagunggu, sirgunggu (Jawa).

Tumbuhan sirgunggu berupa perdu yang tingginya 3 m. Daunnya bertangkai pendek, berbentuk bulat telur sampai memanjang, tebal dan kaku. Tepi daun beringgit. Bunganya berwarna putih-violet tersusun dalam malai. Buah yang berwarna hijau kehitaman berupa buah batu berbentuk bulat telur. Tumbuhan obat yang satu ini ternyata sudah banyak dimanfaatkan masyarakat sejak dulu. Akarnya diremas-remas halus dan ditelan untuk mendapatkan suara nan jernih. Seduhan akarnya merupakan obat asma, bronkhitis, atau sebagai peluruh air seni (kencing batu).

Daun sirgunggu bermanfaat untuk menyegarkan kondisi wanita yang sedang nifas. Sebagai obat luar, daun ditumbuk dengan adas pulosari untuk encok dan nyeri atau kelelahan pada sendi. Daun mudanya diremas-remas dan ditambah sedikit kapur menjadi obat gosok. Seduhan daun dengan garam serta temulawak dapat diminum untuk perut yang membusung dan sebagai obat cacing. Infus daun tumbuhan ini sudah diteliti secara in vitro mampu menghancurkan batu ginjal. Di lampung buah masak atau yang masih mentah dikunyah bersama sirih untuk obat batuk berat. Penelitian di National Cancer Institut, Washington menyatakan, ekstrak air tumbuhan ini aktif sebagai anti-HIV in vitro. Kandungan kimia tumbuhan sirgunggu pada bagian-bagian tubuhnya berbeda-beda. Daunnya mengandung unsur kalium, sedikit natrium, alkaloid, dan flavonoid flavon. Pada kulit akarnya terdapat glikosida fenol, manitol, dan sitosterol. Sementara kulit batangnya mengandung senyawa triterpen, asam ureanulat, asam kueretaruat, dan asam seratogenat.

Di daerah Imogiri, Bantul, Yogyakarta, sirgunggu digunakan untuk gurah, yaitu dengan cara kulit akar ditumbuk dan diseduh dengan air, kemudian diteteskan pada hidung guna mengobati berbagai penyakit yang berkaitan dengan lendir, seperti asma, batuk, atau untuk memperoleh suara yang jernih. Efeknya berupa pengeluaran lendir dari hidung dan mulut. Namun cara tradisional gurah tetes melalui hidung dirasa kurang efektif dan efisien karena pasien harus datang langsung ke tempat gurah atau memanggil ahlinya. Selain itu, prosesi gurah tetes memerlukan waktu antara 1-2 jam. Oleh karena itu, terdapat inovasi yang lebih efektif, yaitu dengan membuat ramuan gurah dalam berbagai bentuk, di antaranya kapsul dan teh.

Kapsul gurah Perusahaan Jamu Loka H. Djawadi dibuat dengan tumbuhan sirgunggu ditambah 11 macam racikan jamu Jawa dari tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat dan bermanfaat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit, seperti asma, amandel, ambeien, asam urat, lumpuh, leukemia, lever, lemah syahwat, epilepsi, diabetes, jantung, kanker, tumor, paru-paru, bahkan penyakit berat lain yang sulit disembuhkan seperti: stress, gila, ginjal, dan AIDS. Kapsul gurah ini memiliki daya kerja yang beragam, di antaranya yaitu: (1) memberdayakan fungsi ginjal; (2) membantu pertumbuhan sel darah baru; (3) memanaskan sel-sel darah beku dan sel-sel darah yang dikirim ke otak; (4) mencuci dan menutup luka pada lambung, usus 12 jari, usus tua/muda; (5) relaksasi pembuluh darah Vena; (6) melarutkan lemak-lemak, asam urat pancreas maupun kolesterol dalam darah yang sudah tidak dipakai dan kotor; serta (7) meningkatkan daya konsentrasi, menjaga kehangatan suhu tubuh untuk mendapatkan stamina yang prima dan vitalitas yang stabil. Untuk penyembuhan, kapsul ini diminum 4 kali sehari masing-masing 2 kapsul sekali minum. Kapsul gurah ini dijual dengan harga Rp 80.000/botol yang berisi 40 kapsul.

Sedangkan teh gurah adalah paduan dari daun teh hitam kualitas tinggi dari pegunungan Kerinci dengan daun Sirgunggu (Clerodendron serratum) dari pegunungan Giriloyo, sehingga menghasilkan teh yang sangat istimewa untuk meningkatkan kekebalan tubuh (mempertahankan struktur sel yang sehat), meningkatkan pembentukan Glutathions, serta membuang kotoran dan toksin (racun) dalam tubuh, sehingga bisa mencegah timbulnya beberapa penyakit karena daun teh dan sirgunggu mengandung protein dan Vitamin C, juga berserat kasar, sehingga lebih banyak mengandung Vitamin A, serta mengandung mineral dan zat besi yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. 

Teh gurah mampu menyerap dan melarutkan endapan-endapan sisa makanan yang dikonsumsi antara lain: (1) endapan lemak tidak larut (asam keton); (2) protein tidak larut dari senyawa nitrogen (urea); (3) mineral tidak larut dari sulfa fosfat dan keratin; (4) mengangkat asam tidak larut seperti asam urat, asam hupurat dan asam histamine; (5) endapan tersebut jika tidak larut akan meracuni tubuh yang lemah kemudian menjadi penyakit. Teh gurah akan membersihkan dan membuangnya lewat keringat, buang air kecil dan besar; (6) Teh gurah selain sebagai pelepas dahaga juga berkhasiat untuk mencegah berbagai penyakit antara lain kanker, jantung, encok serta mencegah aksidasi dan menyegarkan kondisi wanita yang sedang nifas juga sebagai pelangsing tubuh bagi yang menderita obesitas (kegemukan). Teh gurah ini dibandrol seharga Rp 50.000/bungkus.

(Ditulis sebagai laporan hasil wawancara lapangan mata kuliah Analisis Budaya Dalam Masalah Kesehatan - Imogiri, Bantul, Yogyakarta)

DEFINISI DAN FUNGSI SOSIO-KULTURAL BUDAYA POP: SEBUAH SINTESA


Budaya Pop dan Kapitalisme
Pada dasarnya, budaya pop merupakan produk dari revolusi industri. Revolusi industri membentuk “sesuatu” menjadi tren/popular yang didukung oleh teknologi media massa. Media massa mengenalkan, menyebarkan, dan menggandakan, serta membuat “sesuatu” itu menjadi popular di kalangan masyarakat. Baudrillard menggambarkan situasi ini dengan istilah implosion di mana media massa menyatukan manusia dan membiarkannya meledak dalam batas-batas kultural, geografis, ideologi, bangsa, kelas, bahkan agama. Hal ini mengakibatkan kaburnya identitas nasional yang utuh, sehingga masyarakat yang terseret dalam ledakan itu seolah menjadi serpihan-serpihan kecil yang tidak dapat membedakan batas di mana sekarang dia berada dan di mana seharusnya dia berada. Pikiran masyarakat seperti di-handle oleh media, sehingga apa yang dipikirkan masyarakat mengenai lingkungannya tidak sepenuhnya fakta. Media mengkonstruk pikiran masyarakat dengan berbagai informasi dari sudut pandangnya dan sesuai kepentingannya sendiri. Televisi dan film pasti memiliki dampak/konsekuensi terhadap audiens. Untuk orang yang tidak memiliki kesempatan traveling, “pengetahuan” tentang luar negeri seringkali diperoleh dari tayangan di layar kaca tersebut, dan mereka cenderung mengekspresikan dirinya dengan apa yang ditontonnya.

Selain media, konsumsi merupakan hal yang sangat populer dan meledak dalam masyarakat. Media memegang peranan sentral dalam mengenalkan dan mempopulerkan barang-barang komoditi. Ini merupakan bagian dari kapitalisme konsumsi. Dalam hal ini terjadi homogenitas (penyeragaman) dalam pengkonsumsian barang komoditi, sehingga sebagian orang (Adorno dan para pengikutnya) menganggap bahwa budaya pop mematikan kreativitas masyarakat karena di sana-sini tampak hal yang serupa. Misalnya McDonald yang merupakan produk dari Amerika. Untuk menikmati makanan cepat saji ini, orang tidak perlu jauh-jauh datang ke Amerika, karena McDonald dapat ditemui di banyak tempat di seluruh dunia. Menjamurnya McDonald ini menunjukkan bahwa budaya pop tidak hanya berkembang pada aspek tingkah laku dan teknologi, namun juga merambah ke aspek lainnya, termasuk kuliner. Budaya pop yang lahir dari rahim kapitalis bertolak dari sektor ekonomi, di mana kaum kapitalis ingin meraup untung sebesar mungkin dalam setiap industri yang dikembangkannya. 

Ekonomi adalah sektor sentral dan vital dalam kehidupan manusia, sehingga apabila sektor ekonomi bergerak, maka semua sektor ikut bergerak ke arah pergerakan ekonomi itu. Hal ini seperti ketika lempeng bumi bergerak, maka daratan di atasnya juga ikut bergerak, salah satunya terbukti pada Pulau Sulawesi yang dahulunya tidak membentuk huruf “K”, karena pergerakan lempeng akhirnya menyatu dan membentuk huruf “K”. Begitu pula dengan ekonomi. Ekonomi menjadi faktor penyebab terjadinya perubahan budaya dalam masyarakat. Kembali pada homogenitas/penyeragaman yang dianggap sebagai “pembunuhan kreativitas”, jika dipikirkan lebih jauh dan mendalam, sebenarnya justru akan melahirkan kreativitas dalam masyarakat. Budaya pop dalam beberapa hal melahirkan homogenitas, namun budaya pop juga menciptakan heterogenitas, misalnya “budaya ngopi”. Kegandrungan masyarakat akan kopi pada akhirnya memicu orang-orang kreatif untuk mengkreasikan kopi dengan berbagai varian rasa, sehingga dapat dinikmati masyarakat. Budaya pop tidak mematikan kreativitas. Sebaliknya, budaya pop melahirkan kreasi, inovasi, dan modernisasi yang baru, yang dapat diarahkan untuk budaya kaum elite, umum/massa, maupun keduanya.

Budaya pop bertentangan dengan budaya kaum elite. Budaya pop menjadi budaya khalayak, umum, dan mungkin terlihat “kampungan dan norak”. Budaya pop merupakan budaya yang digemari mayoritas masyarakat dan sifatnya fleksibel. Berbeda dengan budaya kaum elite yang terkesan eksklusif dan hanya dikonsumsi oleh sedikit masyarakat. Budaya kaum elite bersifat kaku karena mengagungkan keeksklusifannya agar tidak terkesan “ecek-ecek”. Jika budaya pop dianggap “budaya kampung”, budaya kaum elite ini dianggap “budaya kota”. Contohnya dalam dunia musik. Musik dangdut yang saat ini di Indonesia sedang “naik daun”, untuk sebagian orang dianggap sebagai budaya pop yang “kampungan” dan bercita rasa rendah. Sedangkan musik jazz yang sedikit peminatnya dianggap sebagai budaya kaum elite nan eksklusif dengan cita rasa tinggi. Dengan kata lain, budaya pop adalah budaya rendahan (low culture) milik kaum pinggiran, sebaliknya budaya kaun elite adalah budaya tinggi (high culture) milik kaum borjuis.

Secara sederhana, budaya massa adalah budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa dan dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan setinggi mungkin. Budaya massa adalah budaya populer yang diproduksi untuk pasar massal. Perkembangan budaya massa memberi artian bahwa segala budaya yang tidak menghasilkan uang akan semakin sempit ruangnya, seperti kesenian dan budaya rakyat. Budaya massa bersifat materialistik, yang akan mencekik budaya-budaya yang tidak menguntungkan secara materi dan tidak dapat diproduksi secara massal. Menurut MacDonald, sifat homogen budaya massa menjadi sebuah ancaman besar karena kapasitasnya dalam menurunkan atau merendahkan segala kebudayaan, dan menciptakannya kembali dengan pencitraannya sendiri. Kedudukan intelektual elite sebagai pengadil selera kultural dipandang menjadi ancaman bagi demokratisasi yang dimunculkan oleh budaya massa. Terkadang, budaya massa menolak untuk tetap berada di tempatnya dan melekat dengan massa, serta tidak mau mengakui hierarki selera kultural, walaupun datangnya dari kelas atas. Budaya massa cenderung mengancam kedudukan budaya tinggi dalam hierarki kultural dalam masyarakat.

Dominic Strinati mengemukakan bahwa ciri konsepsi budaya massa adalah merepresentasikan budaya yang turun nilainya, remeh, hanya di permukaan, artifisial dan baku, sebuah kebudayaan yang menyedot kekuatan budaya rakyat dan budaya tinggi, serta menantang penilaian intelektual selera kultural. Suatu posisi elite mengasumsikan bahwa budaya massa hanya bisa dipahami dari sudut yang menguntungkan yang diberikan oleh budaya tinggi dari prinsip-prinsip yang diturunkan dari estetika dan “selera” kaum elite kultural dan intelektual. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip umum dianggap mampu menilai berbagai budaya yang ada karena kesahihan dan otorisasinya yang tinggi.

Budaya massa yang lahir dari produksi dan konsumsi komoditi massal, membentuk kesimpulan bahwa Amerika adalah pusat budaya massa karena kaum kapitalis sangat erat kaitannya dengan proses produksi dalam industri. Apabila budaya massa yang identik dengan Amerika dianggap sebagai suatu ancaman, maka Amerikanisasi pun dianggap sebagai ancaman kultural. Produk-produk Amerika dapat ditemukan di berbagai tempat di seluruh belahan dunia ini, misalnya makanan cepat saji, pakaian, make up, aksesoris, film, hingga life style yang liberal. Di Indonesia saja, khususnya di daerah perkotaan, gaya hidup liberal Amerika sudah sangat kental hidup dan berbaur dengan budaya ketimuran. Seks bebas dianggap hal yang biasa dan wajar, terutama bagi kalangan generasi muda, baik secara terang-terangan maupun terselubung. Mungkin tidak banyak orang tahu bahwa gaya hidup kalangan tertentu di Jakarta mengadopsi gaya hidup orang-orang Amerika. Namun ketika membaca buku “Jakarta Undercover”, orang akan tahu betapa mengerikannya kehidupan seks para eksekutif muda (eksmud), pejabat, bahkan sejumlah selebritis tanah air. Buku “Jakarta Undercover” merupakan kisah nyata yang didasarkan pada pengalaman pribadi penulis yang juga merupakan seorang wartawan. Buku itu berisi kumpulan cerita tentang kehidupan seks di Jakarta. Salah satunya adalah “pesta bugil” di mana para tamu undangan berada dalam satu ruangan tanpa sehelai benang pun, baik pria maupun wanita. Di sana mereka berpesta pora, di mana alkohol dan seks menjadi jamuan utama. Para pria diperbolehkan untuk meniduri wanita manapun yang diinginkannya di kamar yang sudah disediakan, karena para wanita di sana adalah wanita-wanita panggilan dari berbagai penjuru dunia. Sungguh suatu hal yang sangat bertentangan dengan budaya Timur.

Ironisnya, Amerikanisasi justru dianggap hal yang biasa bagi kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan terkadang, mereka tidak sadar bahwa budaya nasional sedikit demi sedikit tergeser oleh Amerikanisasi. Lihat saja, banyak orang memilih untuk melihat film Hollywood dibandingkan dengan film dalam negeri. Secara tidak sadar, masyarakat – khususnya daerah perkotaan – mengkonsumsi komoditi Amerika dalam kehidupan sehari-harinya. Kapasitas pemakaian internet, televisi, handphone, dan sarana komunikasi lainnya yang dilakukan secara simultan telah mendarah daging dan menjadi budaya yang tidak bisa dilepaskan dalam kehidupan masyarakat. Melihat hal sedemikan itu, apakah kita masih bisa berkata bahwa bangsa Indonesia benar-benar merdeka? Mungkin kita memang telah bebas dari penjajahan secara fisik, namun kita tampaknya semakin terjajah dalam ideologi, kultural, bahkan intelektual. Ada beberapa masalah internal dalam masyarakat pada umumnya, di mana kerangka kerja intelektual telah banyak dimodifikasi dalam era pembangunan bangsa dan modernisasi. Dalam beberapa kasus, banyak aspek material dan isu-isu konseptual mengenai modernisasi, pembangunan bangsa, ekonomi, agama, peperangan, atau korupsi yang semuanya itu terjadi akibat ulah manusia.

Immanuel Wallerstein mengingatkan kita akan kalimat 'jika tidak ada imbalan pribadi'. Wallerstein menegaskan bahwa meskipun logika kapitalisme menuntut abstemious puritanisme, psiko-logika kapitalisme untuk tampilan kekayaan dan konsumsi mencolok. Sebagian besar keuntungan berasal dari ledakan ekonomi yang masuk ke konsumerisme berlebihan daripada investasi produktif. Apa yang datang dengan mudah, hilang dengan mudah. “Keasyikan” baru muncul saat kapitalis Indonesia tidak lagi berpikir bagaimana menjadi kaya dan mempertahankan kekayaan, tetapi bagaimana untuk memaksimalkan kenikmatan dan memperluas cakupan dari apa yang bisa dibeli dengan uang. Di antara beberapa eksekutif muda juga melakukan konsumsi yang melampaui logika utilitas atau ekonomi. Pembentukan identitas kelas menengah baru dan pembentukan paralel dari hegemoni kapitalis di Indonesia kontemporer beroperasi di beberapa bidang. Pertama, melalui debat intelektual di mana ada advokasi yang cukup terbuka liberalisme, pro–pasar sentimen dan milik pribadi. Kedua, negara memberlakukan serangkaian langkah-langkah ekonomi untuk memperbaiki keluhan atas ketidakseimbangan ekonomi mengkhawatirkan dalam bantuan keuangan, pinjaman dan kemitraan perusahaan. Ketiga, dan yang lebih anehnya, adalah baru-baru ini populer dan telah menjadi tren yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana tokoh-tokoh bisnis terkemuka membaca puisi dan bernyanyi lagu-lagu populer yang khusus dipersiapkan untuk kinerja dalam pertemuan publik yang serius.

Konsumsi selalu membuat pernyataan sosial, kadang-kadang lebih dan terkadang kurang dari sekedar menunjukkan daya beli konsumen dan selera pribadi. Selain itu, pesan-pesan yang berasal dari praktik konsumsi mungkin belum dimaksudkan oleh konsumen individu. Pesan ini menjadi lebih penting dan kompleks di daerah perkotaan kontemporer, di mana konsumsi semakin berubah menjadi 'konsumerisme' (tindakan signifikan bergaya konsumsi), sebagai bagian dari gaya hidup. Batas yang memisahkan konsumsi dari konsumerisme sering kabur.

Sejak zaman kolonial, Barat telah menjadi model yang menarik untuk lifestyling dan keinginan konsumen di Asia Barat, dan terus menarik orang Asia pada taraf kemakmuran, sehingga konsumerisme dan Westernisasi sudah sering dianggap satu dan menjadi hal yang sama. Restoran cepat saji yang menjadi target ekspor budaya Amerika kini bisa berubah menjadi sesuatu yang menarik, seperti yang terjadi di Singapura. Salah satu iklan di Singapura dimulai dengan judul The Sounds of Singapore, dan dari pertama adegan seseorang melihat bahwa itu dirancang untuk membangkitkan sentimen nasionalistis, di mana anak sekolah yang berada di luar ruangan dengan bendera dikibarkan di bawah langit biru tropis. Mereka menyanyikan kesetiaan mereka kepada Singapura: "Ketika matahari bersinar atas tanah kami", dan itu menunjukkan bahwa Amerikanisasi dapat diubah menjadi nasionalisme.

Fungsi Sosio-Kultural Budaya Pop 
Budaya pop yang digandrungi masyarakat dan menjadi sebuah trend tidak melulu menimbulkan efek negatif semata. Tidak ada suatu hal pun di dunia ini yang tercipta tanpa memiliki fungsi, begitu pula dengan budaya pop. Budaya pop dengan “soft power”-nya mampu memberdayakan jagad kreativitas, kultural, dan intelektual. Seperti yang tertulis di atas bahwa homogenitas yang timbul akibat adanya budaya pop pada akhirnya akan menjadi surga bagi para kreator. Sebagian besar dari mereka mengilhami budaya pop untuk menjadi sebuah maha karya yang kreatif dan inovatif. Pemberdayaan budaya pop yang semula menjadi konsumsi massa, di tangan para kreator dapat disulap menjadi suguhan eksklusif bagi kalangan elite. 

Dalam industri tekstil, misalnya, batik yang merupakan corak khas Indonesia dan menjadi populer sejak Malaysia mengklaim bahwa batik adalah milik Malaysia, dipakai oleh berbagai kalangan di Indonesia, mulai dari level rendah, menengah, hingga level atas. Batik yang dahulunya mungkin terkesan eksklusif karena hanya segelintir orang yang mengenakannya, sekarang sudah menjadi trend bagi masyarakat Indonesia, bahkan telah meluncur ke negara-negara lain. Batik memang menjadi budaya massa saat ini, namun para pemikir yang kreatif mencari cara bagaimana “batik massa” berbeda dengan “batik eksklusif” untuk membedakan strata sosial. Danar Hadi dan Batik Keris merupakan contoh brand “batik eksklusif”, yang harganya tidak bisa dijangkau oleh lower class. Bahan, corak, dan desain yang khas dari kedua brand tersebut sengaja diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas. Sedangkan untuk kalangan bawah hanya mampu menjangkau pasar-pasar tradisional atau di pusat grosir agar mendapatkan harga yang sudah pasti jauh berbeda. Begitulah budaya pop bekerja, ia bagaikan suatu sistem holistik yang saling berkaitan namun tetap mengenal strata sosial. Orang berkata bahwa budaya pop berbeda dengan budaya eksklusif, namun mereka tidak menyadari satu hal, yaitu bahwa budaya eksklusif yang mereka agung-agungkan sesungguhnya populer di kalangan mereka sendiri. 

Bukan hanya bidang ekonomi, sosial, dan budaya semata, bahkan budaya pop membidik dunia pendidikan menjadi “intelektual populer”. Misalnya saja program beasiswa, tanpa disadari kaum intelektual telah menyeret dunia pendidikan dalam pusaran budaya pop. Lihat saja, pertumbuhan penawaran beasiswa yang semakin mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, baik itu beasiswa dalam negeri maupun luar negeri. Banyak universitas bahkan perusahaan asing yang menawarkan beasiswa bagi kaum intelektual Indonesia. Program ini baik disadari ataupun tidak akan membawa budaya asing masuk ke dalam budaya lokal. Para intelektual yang belajar di luar negeri, apabila kembali ke dalam negeri akan membawa pengaruh budaya asing. Misalkan mereka belajar di Jepang, ketika kembali ke Indonesia, maka pemikiran dan budaya Jepang tersebut akan dibawa ke Indonesia. Dengan kata lain, program beasiswa yang diberdayakan pemerintah dalam negeri dan luar negeri dapat dijadikan alat propaganda yang sangat “soft” dan “unconscious” bagi para audiens/konsumennya.

Minggu, 21 Februari 2016

DESA WISATA RUMAH DOME (DESA WISATA RUMAH TELETUBBIES)

Desa Wisata Rumah Dome terletak di Dusun Sengir, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Dusun Sengir berbatasan dengan Dusun Wukirharjo di sisi timur, di sisi barat berbatasan dengan Dusun Klero, di sisi selatan berbatasan dengan Dusun Dayakan, dan di sisi utara berbatasan dengan Dusun Kenaran. Nama Desa Wisata Rumah Dome dikenal pula dengan sebutan Desa Wisata Rumah Teletubbies karena bentuk rumahnya yang mirip dengan rumah Teletubbies, yaitu berbentuk setengah lingkaran. Rumah menjadi atraksi utama di desa wisata ini. Desa wisata ini mencakup dua RT, yaitu RT 02 dan RT 06. 

Jalan untuk menuju Desa Wisata Rumah Dome dalam kondisi baik dengan lebar jalan 3 meter dan sudah ada petunjuk arah yang jelas menuju ke lokasi. Kualitas jalan sangat baik berupa jalan aspal yang lebar dan lebih mulus daripada jalan masuk menuju lokasi. Untuk menuju Desa Wisata Rumah Dome, perlu menggunakan kendaraan pribadi, seperti motor dan mobil karena tidak tersedia kendaraan umum yang menjangkau hingga ke lokasi. 

Fasilitas umum yang terdapat di Desa Wisata Rumah Dome cukup memadai. Selain tersedia akses jalan yang baik, Desa Wisata Rumah Dome juga dilengkapi dengan welcome gate, mushola, aula, play garden, Poskesdes, parkiran, homestay, dan MCK komunal. Desa wisata ini juga telah dilengkapi dengan jaringan listrik, air bersih, dan tempat sampah. Pemberian bibit jambu dan mangga secara gratis dari desa membuat Desa Wisata Rumah Dome menjadi lebih hijau dan asri.

Berdasarkan data profil Dusun Sengir, 44,99% dari masyarakat Dusun Sengir pernah mengenyam bangku sekolah walaupun sebagian besar atau sekitar 17,17% hanya tamatan SD. Lainnya sebanyak 16,85% tamat SMA, 10,49% tamat SMP, dan 0,48% tamat perguruan tinggi. Sedangkan sisanya sebanyak 55,01% tidak tercantum dalam data yang ada. Di Desa Wisata Rumah Dome sendiri belum ada data mengenai tingkatan pendidikan warganya. Namun berdasarkan observasi, tampaknya generasi tua mulai menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi keturunan mereka. Masyarakat Desa Wisata Rumah Dome merupakan penduduk yang sudah mengenal kehidupan modern dan mengikuti perkembangan teknologi terkini. Namun bukan berarti mereka melupakan tradisi nenek moyang yang diwariskan secara turun-temurun, seperti: slametan, rasulan, mitoni, dan nyekar.

Mayoritas penduduk Dusun Sengir adalah petani, yakni sebanyak 21,46%, disusul oleh karyawan swasta sebanyak 6,70%, wiraswasta 4,93%, guru/PNS 0,79%, dan pensiunan 0,16%. Sisanya, sebanyak 34,04% belum tercatat dalam data statistik Dusun Sengir. Sedangkan mayoritas penduduk yang bermukim di Desa Wisata Rumah Dome bekerja sebagai petani, yakni sekitar 14,60%, buruh 9,73%, karyawan swasta 5,31%, dan pedagang 3,54%. Sedangkan sisanya sebanyak 66,82% tidak tercatat dalam data statistik Desa Wisata Rumah Dome. Hal ini bukan berarti 66,82% tersebut tidak produktif, melainkan karena sebagian besar warga rumah dome adalah ibu rumah tangga dan anak-anak/balita.

Pada tahun 2006, tepatnya tanggal 27 Mei 2006, terjadi gempa bumi berkekuatan 6,7 SR di Yogyakarta. Gempa bumi yang terjadi pukul 05.59 WIB itu mengakibatkan salah satu daerah di timur Yogyakarta, yakni di Kampung Ngelepen, Dusun Sengir, Desa Sumberharjo, Kecamatan Prambanan yang  berada di lereng perbukitan mengalami kerusakan yang sangat parah. Akibat dari bencana gempa bumi tersebut, Kampung Ngelepen tidak bisa ditinggali lagi karena tanah di perkampungan ini amblas sedalam 7 meter, lebar 15 meter, dan sepanjang 500 meter. Warga Kampung Ngelepen tidak hanya kehilangan tempat tinggal, namun tanah kelahirannya pun sudah tidak bisa ditempati lagi. Empat bulan lamanya warga tinggal di tenda hingga pada akhirnya terdengar kabar bahwa masyarakat akan direlokasi ke tempat yang lebih aman. Sebenarnya, saat itu warga dihadapkan oleh dua pilihan, yaitu mendapatkan bantuan berupa uang Rp 15.000.000 atau mendapatkan bantuan berupa rumah siap huni. Akhirnya warga memilih bantuan berupa rumah siap huni karena uang Rp 15.000.000 tidak cukup untuk memperbaiki rumah mereka yang sudah rata dengan tanah. 

Kompleks rumah dome dibangun atas kerjasama antara World Association of Non-Governmental Organizations (WANGO) dan Domes for the World Foundation (DFTW) dengan donatur tunggal Mohamed Ali Alabbar, Ketua Emaar Properties. Pada bulan April tahun 2007, rumah dome diserahkan kepada warga dan diresmikan oleh Taj Hamad (perwakilan dari DFTW), Ibnu Subiyanto (Bupati Sleman), Chung H. Kwak (Ketua WANGO), dan Mohamed Ali Alabbar (Ketua Emaar Properties). Sejak saat itu, rumah dome banyak diliput oleh media, baik media cetak maupun media elektronik, sehingga banyak orang mengetahui bahwa di Yogyakarta ada rumah yang bentuknya berbeda dari rumah Jawa pada umumnya. Masyarakat yang penasaran akan bentuk rumah yang unik ini kemudian datang berkunjung, sekedar untuk melihat dan mengobati rasa penasarannya. Lama-kelamaan, mulai banyak orang yang datang karena kabar yang menyebar dari mulut ke mulut, bahkan dari luar daerah. 

Dari tahun ke tahun, wisatawan semakin banyak berdatangan dan kebanyakan berasal dari luar Yogyakarta, bahkan ada juga wisatawan dari mancanegara. Pada awalnya tidak ada tarif masuk bagi wisatawan, hanya ada sumbangan sukarela untuk pengisian kas. Beberapa wisatawan memberi masukan untuk memanfaatkan dan mengelola kompleks rumah dome. Melihat respon publik yang luar biasa, akhirnya pemerintah daerah mengusulkan agar pemukiman rumah dome tersebut dikembangkan menjadi daerah wisata. Pada tahun 2009, Desa Wisata Rumah Dome resmi dibuka menjadi kawasan desa wisata bencana.    

Perkembangan Desa Wisata Rumah Dome tidak lepas dari dukungan masyarakat sekitar, terutama masyarakat Dusun Sengir dan masyarakat Desa Sumberharjo. Pengelola desa wisata terus berupaya melakukan promosi untuk meningkatkan kualitas Desa Wisata Rumah Dome dengan harapan agar Desa Wisata Rumah Dome semakin dikenal masyarakat, sehingga diharapkan banyak wisatawan yang tertarik mengunjungi dan melihat keunikan yang ada di Desa Wisata Rumah Dome. Promosi dilakukan melalui bermacam cara, yaitu dari mulut ke mulut dan dengan pembuatan brosur. Selain itu, desa wisata ini juga mempunyai barcode yang dibuatkan oleh mahasiswa KKN dari AKPRIND Yogyakarta dan juga mempunyai website dari AMPTA Yogyakarta. Promosi juga dilakukan melalui relasi-relasi para pengelola dan juga melalui jejaring sosial.

Fasilitas dan paket kegiatan yang ditawarkan Desa Wisata Rumah Dome sudah cukup lengkap. Desa Wisata Rumah Dome menyediakan lima belas homestay di mana homestay tersebut sebenarnya adalah rumah yang tidak ditinggali oleh pemiliknya karena pemiliknya pindah ke rumah lamanya yang sudah direnovasi. Desa Wisata Rumah Dome mengandalkan rumah dome sebagai atraksi utamanya. Sedangkan potensi lainnya, mereka memiliki makanan khas, yaitu emping garut. Objek-objek wisata pendukung yang bisa dikunjungi antara lain: peternakan komunal, Tanah Ambles, Belik Wunut, Belik Cangkok, Bukit Teletubbies, dan Galeri Rumah Dome. Badut Teletubbies juga menjadi icon dari Desa Wisata Rumah Dome. Dengan slogan “Omahku Bunder”, Desa Wisata Rumah Dome mampu menarik wistawan dari waktu ke waktu.

Rumah dome merupakan atraksi utama di Desa Wisata Rumah Dome. Rumah dome berbentuk setengah lingkaran seperti Igloo, rumah orang Eskimo. Tinggi rumah dome 4,6 m dengan diameter 7 m² dan tebal dinding 10 cm. Struktur lantai rumah dome berbentuk lingkaran dan ruangnya dibagi menjadi empat bagian sama besar, seperti potongan kue. Terdapat 80 unit bangunan dome di desa wisata ini, yang terdiri dari 71 unit rumah hunian, 6 unit MCK komunal, 1 unit mushola, 1 unit Poskesdes, dan 1 unit aula. 15 unit rumah hunian yang dikosongkan pemiliknya, akhirnya dijadikan sebagai homestay atau penginapan bagi para wisatawan. Bentuk rumah yang berbeda dari rumah Jawa, bahkan berbeda dari rumah Indonesia pada umumnya ini dianggap sebagai sesuatu yang unik, sehingga menjadi daya tarik utama dari desa wisata yang juga dikenal dengan Desa Wisata Rumah Teletubbies. Rumah dome ini bahkan tahan terhadap gempa, kebakaran, dan angin puting beliung. Desa Wisata Rumah Dome juga memiliki Galeri Rumah Dome yang mulai diresmikan pada bulan Oktober 2014. Galeri Rumah Dome ini adalah salah satu hasil dari KKN mahasiswa AKPRIND Yogyakarta. Galeri Rumah Dome terletak di blok A10, yang sebelumnya dijadikan homestay oleh pengelola.

Desa wisata bencana ini menawarkan berbagai atraksi wisata, yaitu: (1) atraksi arsitektur, yang meliputi Rumah Dome dan Galeri Rumah Dome; (2) atraksi alam, yang meliputi: Belik Wunut, Tanah Ambles, Bukit Dayakan (Bukit Teletubbies), Belik Cangkok, dan Candi Kajiman; (3) atraksi kesenian, yang meliputi: campursari, Ronda Tek-tek, dan jathilan; serta (4) atraksi kuliner, yang meliputi emping garut dan wedang udhak sereh. Nah, di sini saya ingin sedikit mengulas tentang atraksi alamnya. Mengapa atraksi alam? Entahlah. Mungkin karena wajah saya yang alami. Halah!

 
Belik Wunut
Ini dia Belik Wunut di Desa Wisata Rumah Dome. Letak Belik Wunut ini tidak jauh dari kompleks Rumah Dome, yakni sekitar 500 meter. Untuk mengunjungi Belik Wunut ini, wisatawan hanya perlu berjalan kaki ke timur kompleks Rumah Dome sekitar 10 menit. Dinamakan Belik Wunut karena airnya berasal dari bawah pohon wunut yang sangat langka. Ada dua belik di sini, yang satu rasa airnya sedikit manis, dan yang satu lagi rasa airnya tawar biasa. Belik ini tidak pernah kering walaupun kemarau panjang. Konon, wajah kita akan selalu awet muda jika membasuh muka di belik ini. Tidak percaya? Coba saja.


Tanah Ambles
Bukan hanya tempat-tempat indah yang bisa dijadikan destinasi wisata. Tempat yang terlihat biasa saja ini juga bisa dikunjungi untuk para traveler yang hobi mengenang masa lalu alias susah move on. Ini salah satu sudut dari suatu tempat yang bernama Tanah Ambles. Tanah Ambles adalah bekas perkampungan Ngelepen, Dusun Sengir, Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta yang amblas akibat gempa tahun 2006 lalu. Kampung ini sekarang tidak lagi dihuni karena secara geografis sangat rawan dan tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai wilayah pemukiman. Warga Ngelepen telah direlokasi ke tempat yang lebih aman, yakni di kompleks perumahan dome. Tanah Ambles kini dibuka sebagai jalur tracking bagi mereka yang ingin menikmati wisata bencana. Tempat ini menyisakan puing-puing bangunan di dalam hutan. Konon, semenjak ditinggalkan penghuninya, Tanah Ambles menjadi sebuah "kerajaan gaib" dan dihuni oleh para lelembut. Banyak cerita mistis yang beredar di masyarakat mengenai Tanah Ambles. Cerita-cerita tersebut kemudian berlanjut menjadi sebuah komoditas dalam kepariwisataan yang bernilai ekonomis loh.


Bukit Dayakan/Bukit Teletubbies
Bukit Dayakan lebih dikenal dengan sebutan Bukit Teletubbies, merupakan titik tertinggi dari Dusun Sengir, Desa Sumberharjo. Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Bukit Teletubbies terletak di timur Desa Wisata Rumah Dome. Jalan menuju Bukit Teletubbies sangat curam. Sebagian jalan sudah diaspal dengan bagus, sebagian lagi berupa aspal rusak. Untuk masuk ke arah lokasi, jalan masih berupa tanah dan bebatuan. Dibutuhkan waktu sekitar 10 menit menggunakan motor, atau sekitar 45 menit berjalan kaki untuk mencapai puncak Bukit Teletubbies. Bagi yang menggunakan motor, motor dapat diparkir di depan rumah Mbah Marmo, kemudian sedikit berjalan kaki untuk mendaki puncak bukit. Wisatawan harus berhati-hati ketika menaiki dan menuruni bukit ini karena kontur tanah yang tidak rata dan berkerikil, yang serupa dengan jalan setapak. Pemandangan dari bukit ini begitu indah, terlebih ketika matahari tenggelam. Ketika malam hari, wisatawan dapat melihat kelap-kelip lampu kota dari atas bukit, tidak kalah indah dengan Bukit Bintang di daerah Patuk, Yogyakarta. Dari atas bukit ini, wisatawan juga bisa melihat kompleks rumah dome yang terlihat seperti kumpulan telur berwarna putih. Rumah dome terlihat kecil dari atas bukit dan tidak semua rumah terlihat karena sebagian tertutup oleh pepohonan yang ada di lereng perbukitan.

 

Belik Cangkok
Belik cangkok merupakan salah satu sumber mata air di Kampung Ngelepen. Belik ini terletak di lokasi Tanah Ambles. Belik tersebut yang memenuhi kebutuhan akan air bagi warga Ngelepen sebelum terjadi gempa. Belik tersebut terlihat seperti sumur biasa, namun kedalamannya mencapai 10 meter. Belik Cangkok merupakan kenangan yang tidak terlupakan bagi warga Ngelepen karena letaknya di bukit Sengir yang merupakan tanah kelahiran warga Sengir. Atraksi alam ini sempat ditutup karena dianggap “rawan” bagi wisatawan. Karena lokasi belik yang ada di area Tanah Ambles, maka tempat ini juga merupakan tempat yang angker, sehingga pengelola memutuskan untuk menutup sementara belik ini. Setelah diadakan slametan, tempat ini dibuka kembali sebagai jalur tracking. Slametan ini bertujuan untuk meminta izin kepada “penghuni” belik untuk membuka tempat tersebut sebagai tempat wisata.

Candi Kajiman
Candi Kajiman berbentuk gundukan bebatuan yang cukup tinggi dan besar-besar, yang terletak di lokasi Tanah Ambles. Jika dilihat sepintas, gundukan tersebut tidak nampak seperti sebuah candi, yang terlihat hanya bebatuan yang besar-besar. Menurut kepercayaan warga sekitar, Candi Kajiman merupakan istana bagi roh para raja-raja di tanah Jawa. Konon, yang bisa melihat candi ini hanya orang-orang yang mempunyai mata batin. Orang-orang tersebut harus melakukan ritual-ritual tertentu, seperti puasa dan bertapa. Candi Kajiman dapat dikatakan sebagai candi yang fana atau tidak nyata.

Pengen tahu lebih detail tentang Desa Wisata Rumah Dome? Atau tentang bagaimana arsitektur rumah dome dipandang dari segi Antropologi Pariwisata? Silakan lanjut ke link berikut, gaes! (http://digilib.fib.ugm.ac.id/files/view/6dd0170df5904b9393abe7c19bc9586c.php#/180)

Senin, 25 Januari 2016

REVIEW MAKALAH HEDDY SHRI AHIMSA-PUTRA "PARADIGMA ILMU SOSIAL-BUDAYA: SEBUAH PANDANGAN"

Paradigma dapat didefinisikan sebagai seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan dan/atau masalah yang dihadapi (Ahimsa-Putra, 2009: 2). Secara singkat, paradigma dapat dikatakan sebagai sebuah kerangka pemikiran. Kerangka pemikiran dibutuhkan untuk memahami fenomena yang nampak di sekitar kita. Untuk membentuk suatu kerangka pemikiran/paradigma diperlukan sejumlah unsur. Menurut Ahimsa-Putra, ada 9 (sembilan) unsur dalam sebuah paradigma, yaitu: (1) asumsi-asumsi/anggapan-anggapan dasar (basic assumptions); (2) nilai-nilai (values); (3) model-model (models); (4) masalah yang diteliti/yang ingin dijawab; (5) konsep-konsep pokok (main concepts, key words); (6) metode-metode penelitian (methods of research); (7) metode-metode analisis (methods of analysis); (8) hasil analisis/teori (results of analysis/theory); dan (9) representasi (etnografi).

Asumsi-asumsi/anggapan-anggapan dasar (basic assumptions). Asumsi atau anggapan dasar adalah pandangan-pandangan mengenai suatu hal (bisa benda, ilmu pengetahuan, tujuan sebuah disiplin, dan sebagainya) yang tidak dipertanyakan lagi kebenarannya atau sudah diterima kebenarannya. Anggapan-anggapan ini bisa lahir dari (a) perenungan-perenungan filosofis dan reflektif, bisa dari (b) penelitian-penelitian empiris yang canggih, bisa pula dari (c) pengamatan yang seksama (Ahimsa-Putra, 2009: 4).

Nilai-nilai (values). Nilai dapat diartikan sebagai kriteria/patokan untuk menentukan baik atau buruk, bermanfaat atau tidak bermanfaat, benar atau salah sesuatu. Nilai-nilai selalu ada di setiap cabang ilmu, tetapi rumusan, penekanan, dan keeksplisitannya berbeda-beda (Ahimsa-Putra, 2009: 7). Nilai yang baik berkenaan dengan ilmu pengetahuan contohnya adalah, “ilmu pengetahuan dianggap baik apabila memberikan manfaat yang berarti."

Model-model (models). Model adalah perumpamaan, analogi, atau kiasan tentang gejala yang dipelajari. Sebagai perumpamaan dari suatu kenyataan, sebuah model bersifat menyederhanakan (Inkeles dalam Ahimsa-Putra, 2009: 8). Ilmu sosial budaya memiliki kompleksitas tinggi. Oleh karenanya, perlu adanya model-model guna menyederhanakan kompleksitas tersebut, sehingga gejala dapat terangkum untuk kemudian dipelajari dengan cara/metode tertentu yang tepat. Model merupakan sebuah abstraksi dengan kata kunci yang pada umumnya berupa kata “seperti”, misalnya: “kebudayaan seperti organisme/makhluk hidup” (teori evolusi kebudayaan Taylor). Model terbagi menjadi dua, yaitu model utama (primary model) dan model pembantu (secondary model). Model utama dapat berupa uraian/kata-kata maupun gambar yang harus sudah ada sebelum seorang peneliti melakukan penelitiannya. Sedangkan model pembantu dapat berupa berupa gambar, diagram, atau skema yang biasanya muncul dalam hasil analisis atau setelah penelitian.

Masalah yang diteliti/yang ingin dijawab.  Masalah bisa berupa pernyataan, bisa juga berupa pertanyaan. Masalah yang berupa pernyataan disebut juga dengan hipotesa. Dengan kata lain, masalah bertujuan untuk: (1) menjawab pertanyaan dan (2) menguji hipotesa. Dalam penelitian, masalah harus dirumuskan dengan baik karena di dalamnya akan ada sejumlah asumsi dan memuat konsep-konsep penting.

Konsep-konsep pokok (main concepts, key words). Konsep-konsep pokok adalah istilah-istilah yang digunakan dengan makna tertentu untuk memberikan batasan atau definisi dalam penelitian. Konsep penting untuk diperhatikan guna mempermudah analisis, memahami, menafsirkan, dan menjelaskan suatu gejala sosial-budaya yang dipelajari. Sebelum merumuskan sebuah konsep, peneliti perlu melakukan kajian pustaka agar dapat, memperoleh berbagai definisi yang telah dibuat oleh para ilmuwan lain yang berkaitan dengan konsep-konsep dalam penelitiannya. Jika dari kajian pustaka diketahui konsep yang telah dikemukakan ternyata tidak sesuai atau tidak cocok, maka peneliti dapat membuat konsep sendiri yang lebih sesuai.

Metode-metode penelitian (methods of research). Metode adalah cara, sedangkan penelitian adalah kegiatan mengumpulkan data. Jadi, metode penelitian adalah cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Sedangkan metodologi penelitian adalah ilmu tentang cara-cara mengumpulkan data, termasuk di dalamnya jenis-jenis data. Ada berbagai cara untuk mengumpulkan data, dan cara mana yang akan digunakan tergantung pada jenis data yang diperlukan. Dalam penelitian pada umumnya, dikenal adanya “metode penelitian kuantitatif” dan “metode penelitian kualitatif”. Namun sebenarnya, tidak perlu ada pemisahan yang tegas antara “metode penelitian kuantitatif” dengan “metode penelitian kualitatif” karena sebenarnya yang bersifat kuantitatif dan kualitatif bukanlah metodenya, melainkan datanya. Perbedaan sifat data pada akhirnya menimbulkan perbedaan cara mengumpulkan data, sehingga akan lebih tepat jika menggunakan istilah “metode pengumpulan data kuantitatif” dan “metode pengumpulan data kualitatif”. Data berawal dari realita yang kemudian direpresentasikan sebagai fakta. Realita adalah segala sesuatu yang dianggap ada. Realita memiliki sifat yang relatif, karena apa yang dianggap ada oleh seseorang belum tentu dianggap ada oleh orang lain. “Ada” di sini tidak harus bersifat empiris, tetapi bisa juga bersifat logis, misalnya Tuhan. Tuhan tidak bisa dilihat secara inderawi, namun ada dalam pikiran manusia. Fakta adalah pernyataan tentang realita/representasi realita yang dibuat oleh manusia. Fakta bersifat subjektif karena dihasilkan lewat sudut pandang orang tertentu. Suatu realita yang sama bisa saja dikemukakan dengan cara yang berbeda. Di lain pihak, fakta bersifat objektif karena didasarkan pada suatu realita. Pernyataan yang tidak didasarkan pada suatu realita tidak dapat dikatakan sebagai fakta. Kemudian, fakta ini dapat menjadi data, tetapi tidak semua fakta adalah data. Data adalah fakta yang relevan atau terkait dengan masalah yang diteliti dan terkait pula dengan kerangka teori atau paradigma yang digunakan untuk menjawab masalah tersebut. Dengan kata lain, data adalah kumpulan fakta yang telah dievaluasi berdasarkan relevansinya. Data dalam suatu penelitian bisa berupa kuantitatif, kualitatif, ataupun keduanya (campuran). Data kuantitatif menunjukkan jumlah atau besaran dari suatu gejala, sehingga datanya berupa kumpulan simbol (angka atau huruf disertai pernyataan). Sedangkan data kualitatif menunjukkan isi, ciri, sifat, keadaan dari suatu gejala, atau hubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain, sehingga datanya berupa pernyataan-pernyataan. Perbedaan jenis data menyebabkan pengumpulan datanya berbeda pula. Telah disebutkan di atas bahwa terdapat dua metode pengumpulan data, yaitu metode pengumpulan data kuantitatif dan metode pengumpulan data kualitatif. Dalam metode pengumpulan data kuantitatif terdapat: (1) metode kajian pustaka; (2) metode survey; dan (3) metode angket. Sedangkan dalam metode pengumpulan data kualitatif terdapat: (1) metode kajian pustaka; (2) metode pengamatan; (3) metode pengamatan berpartisipasi; (4) metode wawancara sambil lalu; (5) metode wawancara mendalam; dan (6) metode mendengarkan.

Metode-metode analisis (methods of analysis). Metode analisis data pada dasarnya adalah cara untuk memilah atau mengelompokkan data agar dapat ditetapkan relasi-relasi tertentu antara kategori data yang satu dengan data yang lain. Sebagaimana halnya dengan metode penelitian, metode analisis kuantitatif dan metode analisis kualitatif harus diartikan sebagai metode menganalisis data kuantitatif dan metode menganalisis data kualitatif. Metode analisis data kualitatif pada dasarnya memerlukan kemampuan untuk menemukan persamaan dan perbedaan dalam data kualitatif, dan ini hanya dapat dilakukan apabila konsep-konsep teoritis yang digunakan didefinisikan dengan baik.dalam metode analisis yang paling perlu diperhatikan adalah tujuan akhir dari kerja analisis. Hasilnya kemudian adalah jawaban dari pertanyaan yang dikemukakan. Meskipun ada berbagai macam jenis metode analisis, namun secara umum tujuan akhir analisis adalah menetapkan hubungan antara suatu variabel/gejala/unsur tertentu dengan variabel/gejala/unsur yang lain. Oleh karena itu, harus diperhatikan pertanyaan yang dikemukakan karena dari pertanyaan itu bisa ditentukan penggunaan paradigmanya. Paradigma ini kemudian menentukan metode analisis data, dan metode analisis data akan menentukan corak hasil analisis atau teori. Masing-masing paradigma memiliki teori yang berbeda, sehingga setiap paradigma juga memiliki perbedaan dalam metode analisis data.

Hasil analisis/teori (results of analysis/theory). Analisis data yang dilakukan dengan baik dan tepat akan menghasilkan suatu “kesimpulan” atau hasil analisis. Hasil analisis ini harus menyatakan relasi antarvariabel, antarunsur, atau antargejala yang diteliti. Hasil analisis yang berupa pernyataan-pernyataan tentang hakekat gejala yang diteliti inilah yang kemudian disebut sebagai teori. Jika cakupan penelitian luas, dta yang dianalisis berasal dari banyak masyarakat dan kebudayaan, dan teori yang dikemukakan dapat memberikan penjelasan yang berlaku umum (universal), melampaui batas-batas ruang dan waktu, maka disebut sebagai teori besar (grand theory). Jika teori tersebut hanya ditujukan untuk menjelaskan gejala tertentu yang agak umum, namun tidak cukup universal, maka dapat disebut sebagai teori menengah (middle-range theory) (Merton dalam Ahimsa-Putra, 2009: 21). Jika teori tersebut hanya berlaku untuk gejala yang diteliti saja, yang terjadi hanya dalam masyarakat dan kebudayaan yang diteliti, maka disebut sebagai teori kecil (small theory). Jadi, setiap penelitian yang dilakukan dengan baik dan tepat pada dasarnya akan menghasilkan satu atau beberapa teori baru atau menguatkan teori tertentu yang sudah ada. Dalam ilmu sosial-budaya, seperti antropologi budaya, hasil analisis/teori disajikan dalam etnografi.

Representasi (etnografi). Representasi atau penyajian adalah karya ilmiah yang memaparkan kerangka pemikiran, analisis, dan hasil analisis dari penelitian yang telah dilakukan. Dalam antropologi, representasi bisaa disebut dengan etnografi. Etnografi merupakan tulisan yang dihasilkan dari penelitian atas suatu masalah dengan menggunakan paradigma tertentu. Etnografi merupakan hasil penelitian yang tidak dapat diabaikan karena di dalamnya terdapat kajian mengenai data kebudayaan dan teori dimana keduanya membentuk satu kesatuan yang utuh dan saling mendukung. Sebagai hasil akhir, representasi/etnografi mencerminkan keseluruhan elemen yang ada dalam sebuah paradigma.

Paradigma, menurut Ahimsa-Putra, tidak sama dengan prosedur penelitian. Paradigma adalah sebuah kerangka pemikiran yang mendasari sekaligus mewujud dari sebuah penelitian yang dilakukan dengan baik dan benar, sedangkan prosedur penelitian atau tahapan penelitian merupakan pola-pola perilaku atau kegiatan yang berbeda-beda, yang diwujudkan secara sistematis. Paradigma juga tidak sama dengan format proposal. Dalam paradigma tidak terdapat “Tinjauan Pustaka”, “Tujuan Penelitian”, dan “Manfaat Penelitian”, sedangkan dalam proposal penelitian tiga unsur tersebut biasanya harus ada.

Berdasarkan penjelasan dalam makalah “Paradigma Ilmu Sosial-Budaya”, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan. Saya setuju dengan konsep paradigma Ahimsa-Putra yang menyatakan bahwa paradigma adalah seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain secara logis membentuk sebuah kerangka pemikiran yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan dan/atau masalah yang dihadapi. 

“Seperangkat konsep yang berhubungan satu sama lain”, secara eksplisit menyatakan bahwa dalam paradigma terdapat variabel-variabel yang saling berkaitan dimana variabel-variabel tersebut memiliki konsep sebagaimana dimaksudkan oleh peneliti. Konsep atau istilah yang dimaksud oleh peneliti ini pada akhirnya akan membentuk suatu kerangka pemikiran.

“………..yang berfungsi untuk memahami, menafsirkan dan menjelaskan kenyataan dan/atau masalah yang dihadapi”, menunjukkan bahwa paradigma pada dasarnya berfungsi untuk memahami fenomena yang ada di sekitar kita. Paradigma berkaitan dengan “bagaimana kita memandang dunia” (view of the world) dan kemudian menjadi “untuk memandang dunia” (view for the world). Dengan kata lain, dalam hal penelitian, cara kita memandang suatu fenomena atau gejala di sekitar kita menentukan tujuan akhir/hasil akhir penelitian. Sehingga dapat disimpulkan bahwa paradigma menentukan hasil analisis atau teori dari suatu penelitian.

Minggu, 24 Januari 2016

MOVEMENTS AND MADNESS: The Entanglements of Culture and Neuropsychiatric Disorders in Bali

Pernah mendengar penyakit Tourette’s Syndrome? Nama penyakit ini memang terdengar asing di telinga kita. Tourette's Syndrome adalah gangguan neuropsikiatri yang diwariskan pada masa anak-anak yang gejalanya antara lain muncul tic (gerakan spontan) pada anggota tubuh maupun suara yang tidak terkendali dan selalu berulang. Untuk lebih detailnya tentang penyakit ini, silakan cari sendiri referensinya ya. Hihii...

Di sini saya akan mengulik sebuah film dokumenter yang berjudul Movements & Madness, yang digarap oleh Robert Lemelson (Anthropologist, Executive Producer) dan Dag Yngvesson (Director, Cinematographer, Editor). Film ini menceritakan tentang seorang perempuan Bali yang menderita penyakit Tourette’s Syndrome sejak kelas 4 SD. Gusti Ayu namanya. Film Movements & Madness ini dapat dikatakan terbagi menjadi tiga bagian, yaitu bagian pertama adalah “permasalahan”; bagian kedua adalah “upaya penyembuhan”; dan selanjutnya bagian ketiga adalah “solusi” (menggunakan sharing dengan kalangan umum). Untuk mendukung kesimpulan mengenai hubungan perubahan, struktur, dan penyakit jiwa ini, Lemelson menggunakan data visual, observasi, wawancara mendalam, dan statement dari orang lain. Lemelson juga menghadirkan emik-emik, sedikit wawasan tentang Hinduisme, Balinese magic, serta memberi solusi kepada Gusti Ayu melalui tanya-jawab dalam forum umum.

Berbagai cara sudah dilakukan untuk menyembuhkan Gusti Ayu, baik itu tindakan medis maupun non-medis (tradisional/melalui dukun). Untuk melihat pemahaman mengenai suatu penyakit yang dalam dunia medis dikenal sebagai Tourette’s Syndrome, Lemelson menggunakan berbagai unit analisis, yakni: “konsep”, “nilai/kultur”, dan “kepercayaan”. Ada tiga psikiater yang dihadirkan di sini, yaitu: Dr. I Gusti Putu Panteri, Dr. Mahar Agusno, dan Dr. I Made Nyandra, serta satu traditional healer yang bernama I Made Darta. Dr. Mahar menjelaskan bahwa ada kecenderungan dalam masyarakat untuk mengabaikan seorang anggota keluarga yang dianggap mempermalukan harkat dan martabat keluarga, baik itu karena tingkah lakunya maupun sakit jiwa. Dari segi ekonomi, banyak anggota keluarga berpikiran lebih baik yang memiliki “kelainan” ini dibiarkan, namun yang lain tidak terlantar. Ada juga dugaan bahwa Gusti Ayu tidak punya keinginan untuk minum obat. Kemungkinan terdapat suatu kecemasan sebelum dia minum obat, akhirnya dia muntahkan karena ada reaksi penolakan, sehingga Dr. Nyandra memikirkan dengan menambahkan obat anti-cemas. Di Bali, Tourette’s Syndrome dipercaya dikarenakan oleh adanya magic. Menurut I Made Darta (traditional healer), karena Gusti Ayu manis dan pendiam, maka ada seseorang yang iri dan membuatnya sakit. Magic projectile terdapat di leher Gusti Ayu, yang kemudian menjalar ke paru-paru dan otaknya. Penyembuhan melalui dukun ini dimulai dengan melalukan ritual do’a, pemijatan menggunakan air suci, dan mengusap mata Gusti Ayu untuk mengeluarkan penyakit Gusti Ayu melalui air mata yang berwarna putih. Kotoran yang keluar dari mulut berarti penyakit paru-paru, sedangkan yang keluar dari hidung berarti penyakit otak.

Kontras dalam film Movements & Madness dapat dilihat antara lain dari: (1) Penyembuhan menggunakan ahli medis (psikiater) dan tradisional (dukun); (2) Penyembuhan menggunakan obat-obatan dan ritual; (3) Mempertemukan Gusti Ayu dengan sesama penderita Tourette’s Syndrome, yaitu Dayu. Meskipun Dayu dan Gusti Ayu yang memiliki kesamaan penyakit, namun kasus mereka berbeda dengan keluarga dan background kelas yang berbeda pula; (4) Kehidupan teman-teman sebaya yang normal dan sudah berkeluarga dengan kehidupan Gusti Ayu yang belum menemukan pasangan hidupnya; (5) Gusti Ayu memandang apa yang dideritanya selama ini sebagai “penyakit”, sehingga kadang kala timbul keinginan untuk mengakhiri hidupnya karena merasa menjadi seseorang yang tidak berguna. Namun ada kalanya dia memandangnya sebagai “kodrat/takdir” yang sudah digariskan Tuhan kepada-Nya; (6) Sikap keluarga yang mendukung dan berharap atas kesembuhannya, yang kontras dengan sikap keluarga (terutama ayahnya) yang marah dan menyuruhnya untuk mati karena bosan melihat Gusti Ayu yang tak kunjung sembuh.

Scene yang menarik dari film ini adalah pada saat interview via public screening dimana Robert Lemelson memutar film Movements & Madness, yang merupakan film dokumenter upaya penyembuhan Gusti Ayu selama 8 (delapan) tahun dan pada akhirnya tidak membuahkan hasil. Dengan mengadakan acara ini, Lemelson berusaha memperkenalkan Tourette’s Syndrome yang diderita Gusti Ayu kepada publik karena banyak orang yang tidak tahu-menahu tentang penyakit ini, sehingga mengira penyakit tersebut adalah penyakit menular. Lemelson juga menekankan bahwa penderita penyakit ini tidak sepantasnya dijauhi/dikucilkan dari kehidupan masyarakat. Interview via public screening ini menurut saya adalah upaya etnografer untuk mengobati Gusti Ayu secara psikis/mental setelah berbagai pengobatan medis dan non-medis yang dilakukan tidak berhasil. Gusti Ayu diharapkan sembuh secara sosial dan mental meskipun tidak sembuh secara fisik, sehingga dapat melanjutkan hidup layaknya orang-orang normal lainnya. Upaya Lemelson ini merupakan solusi/alternatif yang baik untuk mengatasi kondisi mental Gusti Ayu yang labil karena stigma masyarakat awam yang mengakibatkannya depresi. Lemelson ingin masyarakat menerima keadaan Gusti Ayu dengan tangan terbuka dan tidak memandangnya dengan sebelah mata. Melihat film dokumenter tersebut, Gusti Ayu sempat meneteskan air mata. Acara tersebut dihadiri oleh keluarga Gusti Ayu, Dayu (sesama penderita Tourette’s Syndrome), dan beberapa orang luar. Gusti Ayu mengatakan bahwa dia merasa sedih setelah melihat film Movements & Madness tersebut. Gusti Ayu sedih melihat keadaannya sendiri dan merasa menjadi orang yang tidak berguna, sehingga terkadang dia ingin mengakhiri hidupnya agar tidak menjadi beban keluarga. Namun para hadirin mendukung untuk menguatkan hati Gusti Ayu dan meyakinkan bahwa dia tidak sendiri, dia harus tetap kuat, menemukan pasangannya, dan melanjutkan hidup dengan normal seperti teman-teman sebayanya.
 
Dalam pandangan saya, Lemelson menggunakan Teori Penyakit dalam film Movements & Madness ini. Teori penyakit meliputi kepercayaan-kepercayaan mengenai ciri-ciri sehat, sebab-sebab sakit, serta pengobatan dan teknik-teknik penyembuhan lain yang digunakan oleh para dokter. Sistem-sistem teori penyakit berkenaan dengan kausalitas, statement masyarakat mengenai penyakit yang menyerang tubuh, mengenai karma, penjelasan tentang pelanggaran tabu, atau mengenai kegagalan pertahanan immunologi organ manusia terhadap agen-agen patogen seperti kuman-kuman dan virus. Dengan demikian, suatu sistem teori penyakit  merupakan suatu sistem ide konseptual, suatu konstruk intelektual, bagian dari orientasi kognitif anggota-anggota suatu kelompok. Lemelson menekankan pada “disease” dan “illness”. Disease adalah problem kesehatan yang didefinisikan oleh para ahli kesehatan, sedangkan illness adalah problem kesehatan yang terkait dengan pengalaman pasien mengenai kesehatan dan tidak terdapat dalam terminologi kedokteran. Sakit yang diderita Gusti Ayu termasuk disease yang dalam dunia kedokteran disebut sebagai “Tourette’s Syndrome”. Namun para saman dan sebagian masyarakat Bali menyebut ini sebagai “Penyakit Bali” yang disebabkan oleh gangguan roh halus (magic).

Sebenarnya, riset ini digunakan untuk memberi pengetahuan kepada psikiater Amerika bahwa kondisi sosio-kultural sangat penting diperhatikan dalam menyembuhkan pasien (psikiater juga harus memperhatikan faktor-faktor kultural). Di sini, Lemelson berupaya untuk menekankan bahwa struktur budaya di masing-masing tempat tidaklah sama. Menarik, bukan?